
Amora menghubungi Farel dan mengajak untuk bertemu dengannya. Berkali-kali Farel menolak pertemuan itu tetapi Amora mengancam akan bunuh diri kalau sampai Farel tidak mau bertemu dengannya.
" Aku mohon Farel temuilah aku setidaknya untuk yang terakhir kali sebelum aku kembali ke negaraku!" ucap Amora dengan suara memelas memohon belas kasihan Farel.
Farel yang merasa kasihan pun akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan Amora di sebuah cafe yang biasa dia kunjungi.
Sementara itu Farel yang tidak mengetahui bahwa Amora sebenarnya memiliki rencana untuk memisahkannya dengan Siska, Farel tampak santai saja menemui Amora.
" Apakah kita bisa makan malam bersama?" Farel membaca chatting dari Siska ketika dia dalam perjalanan untuk bertemu dengan Amora.
Farel yang tidak mau membuat Siska jadi salah paham akhirnya dia berbohong mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan klien perusahaannya.
" Maafkan aku sayang. Aku harus bertemu dengan klien besok kita akan atur ulang untuk makan malam bersama!" usia Farel ketika dia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Siska.
" Ya sudah kau hati-hati ya jangan terlalu malam pulangnya!" setelah itu Siska pun mematikan teleponnya.
Farel tampak menarik nafasnya dalam-dalam karena Siska tidak banyak rewel dengan apa yang sudah dia putuskan.
Mungkin itulah yang disukai oleh Farel dari Siska. Siska tidak terlalu banyak menuntut terhadapnya untuk melakukan apapun.
Siska selalu percaya kepadanya. setelah menutup panggilan telepon tampak Farel yang merasa bersalah karena sudah membohongi Siska.
" Sudahlah tidak apa-apa toh ini juga pertemuan terakhir setelah ini amarahkan kembali ke negaranya dan tidak akan lagi menggangguku!" dengan penuh keyakinan Farel pun kemudian melangkahkan kakinya menuju cafe yang sudah dipesan oleh Amora sebelumnya.
Mereka terlihat begitu akrab walaupun sebetulnya Farel merasa canggung bertemu kembali dengan Amora setelah berpisah begitu lama tanpa komunikasi sama sekali.
" Apa kabarmu?" tanya Amora sambil menatap Farel dengan penuh Kerinduan.
__ADS_1
Farel yang tidak mau berlama-lama bersama dengan Amora dia langsung to the point.
" Katakanlah apa yang kau butuhkan dariku karena aku harus segera kembali ke rumah!" Ucap Farel tanpa melirik sedikitpun kepada Amora yang terlihat mabuk setelah Dia menghabiskan setengah botol wine yang ada di hadapannya.
" Aku tidak tahu kalau kamu sedingin ini Farel padahal dulu saat kau menjadi kekasihku kau begitu hangat dan penuh dengan cinta. Apakah aku sudah tidak ada artinya apapun di hatimu?" tanya Amora dengan mata berkaca-kaca.
Tampak Amora yang mendekatkan tubuhnya kepada Farel dan berusaha untuk terus memeluknya dengan erat.
Tanpa Farel sadari bahwa dari kejauhan tampak seorang fotografer yang sedang mengabadikan semua kegiatan yang terjadi di kafe itu antara dirinya dengan Amora.
Sementara itu Siska yang saat ini sedang bersama dengan Adrian. Dia terkejut ketika tiba-tiba saja ponselnya mendapatkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak terdaftar di ponselnya.
" Sebentar dulu paman aku akan membaca pesan ini!" lalu Siska pun membuka ponselnya dan dia terkejut melihat foto-foto yang dikirim kepadanya.
Adrian yang melihat gelagat aneh keponakannya akhirnya tidak tahan untuk bertanya kepada Siska.
Adrian yang merasa penasaran dia pun kemudian mengambil ponsel itu dan melihat apa yang ada di dalamnya yang telah sukses membuat Siska meradang dan sedih.
Adrian mengerutkan keningnya dan merasa sangat marah melihat kelakuan Farel yang saat ini sedang berdua dengan Amora.
" Benar-benar tidak tahu malu! Padahal di sini Kita sudah mempersiapkan pernikahan kalian. Sementara dia di sana saat ini sedang asyik dan bermesraan dengan perempuan lain benar-benar tidak bisa dibiarkan!" tampak amarah di mata Adrian yang begitu besar akan tetapi Siska langsung membujuk Adrian untuk tidak terbawa emosi.
Siska menghapus air matanya kemudian dia mengambil kembali ponsel yang tadi dipegang oleh Adrian.
" Apa yang kau butuhkan huh? Kenapa kau mengirim foto-foto sampah itu padaku? Apa maksud kamu? Siapa kau?" begitu banyak pertanyaan yang ingin disampaikan oleh Siska kepada nomor yang tidak ada di dalam daftar ponsel miliknya.
Adrian kemudian meminta kepada Siska untuk beristirahat di kamarnya dan menghentikan semua persiapan pernikahan yang saat ini sedang mereka diskusikan.
__ADS_1
" Sudah Siska. Sekarang kau istirahat saja. Besok Paman akan bicara dengan Farel dan akan bertanya. Apakah pernikahan ini akan dilanjutkan ataukah dihentikan!" ucap Adrian dengan nada geram dan amarah yang membuncah di dadanya melihat keponakan kesayangannya saat ini sedang menangis karena patah hati.
Setelah kepergian Adrian dari kamarnya Siska pun kemudian menatap kembali foto-foto yang dikirimkan kepadanya.
" Kenapa kamu harus bohong sama aku sih Farel? Kalau kau ingin bertemu dengan Amora! Kalau kau mengatakannya dengan jujur, mungkin aku tidak akan merasa sesakit ini. Merasa dikhianati olehmu!" kembali Siska meneteskan air matanya karena kecemburuan yang begitu besar di hatinya melihat laki-laki yang dia cintai yang sebentar lagi akan menjadi suaminya sekarang sedang bermesraan dengan Amora.
Ingin sekali Siska menghubungi Farel tetapi harga dirinya saat ini benar-benar sedang di pertaruhkan sebagai seorang wanita.
Karena rasa sedih di dalam hatinya tanpa disadari Siska pun kemudian tertidur di kamarnya.
Sementara itu Adrian yang saat ini sedang berbicara dengan Steven, tampak sedang berundingkan apa yang akan mereka lakukan terhadap Farel yang sudah berbuat khianat kepada keponakan mereka.
" Aku benar-benar tidak terima dengan perbuatan Farel yang seenak hatinya saja mempermainkan keponakan kita!" ucap Adrian sambil mengepalkan kedua tangannya.
Steven berusaha untuk menenangkan kakaknya yang dia kenal sebagai orang yang tenang dan juga berwibawa.
" Sabarlah Kak kita harus menyelidiki dulu siapa tahu itu hanyalah foto-foto biasa atau mereka hanya sedang berbicara biasa jangan terlalu gampang mengambil kesimpulan dari sesuatu yang tidak benar-benar kita saksikan!" ucap Steven berusaha untuk menenangkan Adrian yang tampaknya begitu marah.
Sementara itu Farel dan Amora yang tampak sedang menuju ke area parkiran cafe, kembali di potret lagi oleh fotografer yang sudah disewa oleh Amora untuk mengabadikan semua sentuhan fisik yang terjadi di antara keduanya.
Farel ya memang berhati baik dan lembut dia tidak tega membiarkan Amora dalam keadaan mabuk pulang sendiri ke apartemennya.
Dengan tanpa merasa curiga sedikitpun Farel mengantarkan Amora ke apartemen miliknya menggunakan mobil milik Amora.
Sementara mobilnya sendiri dia perintahkan untuk di bawa oleh sopirnya ke apartemen miliknya Amora.
Begitu sampai di apartemen Amora, Farel pun langsung membawa perempuan itu ke apartemen Amora. Tanpa merasa curiga sama sekali dengan apapun yang terjadi di antara mereka saat ini.
__ADS_1