
Kedua orang tua Farel masuk ke dalam kamar dan Mereka tampak berdiskusi dengan sangat serius mengenai keinginan putranya untuk segera menikahi Siska.
" Ya sudah kita turuti saja keinginan Farel Pah. Daripada nanti anak itu menjadi nekat dan melakukan sesuatu di belakang kita! Kita akan kesulitan untuk mengontrolnya kalau sampai dia kabur dan melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui!" ucap ibunya Farel menatap suaminya.
Handoyo kemudian bangkit dari duduknya menatap sang istri dengan lekat.
" Kalau Farel menikah dengan Siska sekarang, rasanya sangat aneh Mah. Siska kan harus selesai dulu dengan sekolah SMA nya. Dan ketika nanti dia masuk bangku kuliah. Pasti akan sangat sibuk dan tidak akan punya waktu untuk mengurus pernikahan dan suaminya!" ucap Handoyo menatap tajam sang istri.
Farel yang berada di pintu kamar kedua orang tuanya dan sedang mendengarkan pembicaraan Mereka kemudian langsung membuka knop pintu.
" Papa jangan khawatir. Saya nanti pasti akan berusaha untuk membantu Siska dengan kuliahnya dan juga rencana pernikahan kami akan diserahkan sepenuhnya kepada wo dan juga Mamah yang kamu ngurusnya!" ucap Farel sambil tersenyum kepada ayahnya.
Handoyo melihat putranya yang tampak begitu bersemangat ingin segera menikah dengan calon istrinya yang dipersiapkan sangat lama sekali oleh ayahnya yang sudah meninggal sangat lama.
Handoyo sendiri tidak mengerti kenapa ayahnya begitu bersikeras ingin menjodohkan Siska dengan Farel.
Bahkan sampai saat ini dia belum bisa memecahkan rahasia di balik keinginan sang ayah untuk menjodohkan mereka berdua.
" Pernikahan itu bukan sesuatu main-main dan tidak sesimpel itu Farel!" ucap Handoyo menekankan semua kata-katanya kepada Sang putra yang tampaknya sama sekali tidak mempedulikan apa yang dia katakan.
Ibunya Farel mendekati putranya, lalu menepuk bahu Farel dengan lembut.
" Mama tanya padamu. Apakah kau mencintai Siska atau tidak?" tanyanya.
Dengan penuh kemantapan, Farel langsung menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba saja Dia teringat dengan sesuatu.
" Maafkan Farel, Pah! Farel pergi ke kamar dulu!" ucapnya dengan terburu-buru sambil berlari ke arah kamarnya dan mencari ponselnya yang sedang dia charge.
__ADS_1
Farel langsung mengaktifkan ponselnya dan dia menemukan begitu banyak pesan dari Siska yang mengkhawatirkan keadaannya.
Farel langsung menghubungi Siska dan juga memberikan informasi kepada Siska tentang keberadaannya saat ini.
" Halo Siska. Ini aku Farel. Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu kalau aku sekarang baik-baik saja. Aku sudah ada di rumah dan keadaan selamat!" ucap Farel mengabarkan kepada Siska yang masih khawatir dengan keadaannya.
Setelah Siska melihat keadaan mobil yang hancur berantakan di tempat lokasi terakhir Farel menunjukkan kepadanya.
" Baiklah sayang aku akan menunggumu di rumahku kalau kau akan datang kemari. Oh ya, hati-hatilah di jalan dan ajaklah kedua pamanmu untuk mengawalmu!" ucap Farel setelah itu dia langsung mengakhiri panggilan teleponnya dengan Siska.
Farel segera membereskan kamarnya yang sedikit berantakan Karena bagaimanapun dia tidak mau kalau sampai Siska melihat sisi kelemahannya.
Farel selalu ingin terlihat perfeksionis di hadapan calon istrinya.
Sekitar setengah jam kemudian tampak Siska bersama dengan Steven masuk ke dalam kediaman Handoyo.
Setelah diizinkan masuk oleh kedua orang tua Farel, Siska pun menemui Farel yang berada di kamarnya.
Handoyo hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian dia mengijinkan Siska untuk mencari putranya yang sedang beristirahat di dalam kamar.
Farel memang terlihat sangat lemah ketika dia pulang dari perjalanannya ke Bandung. Apalagi setelah Farel mengalami kejadian yang sangat membuat adrenalin berpacu dengan cepat.
Siska langsung memeluk Farel ketika dia melihat laki-laki itu yang sedang terbaring di atas ranjang dengan lemah.
" Apakah kau baik-baik saja?" tanya Siska ketika dia bisa menguasai perasaannya kembali yang tadi sangat khawatir.
Farel merasa senang sekali melihat Siska yang mengkhawatirkan keselamatannya.
__ADS_1
" Aku baik-baik saja sayang. Aku hanya lelah dan syok, setelah mengalami kejadian yang seumur hidup tidak pernah aku alami!" ucap Farel sambil menggenggam tangan Siska yang terasa begitu dingin.
Steven yang melihat keduanya begitu mesra. Dia pun memilih untuk keluar dari kamar daripada dijadikan obat nyamuk oleh mereka berdua.
" Aku akan menunggu kalian di luar. Ingat! Kalian jangan coba-coba melakukan hal-hal yang di luar batas dan norma yang ada!" ucap Steven mengingatkan keduanya.
Setelah Steven keluar dari kamarnya, Farel kemudian menceritakan semua hal yang dialami sepanjang perjalanan dia pulang dari Bandung ke Jakarta.
" Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Tolong kau sewalah beberapa orang Bodyguard untuk menjagamu. Aku benar-benar tidak bisa tenang setelah mendengar semua ini darimu!" ucap Siska dengan wajah khawatir menatap Farel.
Farel merasa sangat senang karena melihat calon istrinya begitu peduli kepadanya.
" Aku akan mempertimbangkan apa yang kau katakan tadi. Karena memang seorang bisnisman sepertiku juga membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang pasti memiliki kepentingan padaku. Mungkin aku telah menyinggung seseorang selama berbisnis." ucap Farel sambil tersenyum kepada Siska.
Farel merasa senang sekali karena ternyata calon istrinya peduli dengan dirinya dan keselamatan nya.
" Kita tampaknya telah menyinggung banyak orang. Apa kau tahu? Selama satu minggu ini rumahku pun selalu di teror dan banyak sekali kejadian aneh di sana. Kemarin aku bahkan sudah menangkap sopir pribadi yang bekerja di rumahku. Karena dia sudah menebarkan teror kepadaku!" ucap Siska menjelaskan semuanya kepada Farel yang terkejut mendengarnya.
Farel menatap Siska yang begitu pucat wajahnya. Dia bisa menilai bahwa pasti Siska telah mengalami hari yang berat sehingga kekurangan waktu untuk istirahat.
" Sekarang Kau tinggal di mana?" tanya Farel merasa khawatir dengan keselamatan calon istrinya.
Siska memperhatikan semua detail yang ada di dalam kamar Farel yang begitu rapi dan wangi. Siska sangat takjub dengan pribadi sang calon suami yang begitu perfeksionis dan menjaga kebersihan lingkungannya.
" Aku tinggal di Mansion keluarga aku dengan ditemani oleh Paman Steven dan Paman Adrian. Aku tidak berani untuk tinggal sendirian di sana. Sopir dan pembantuku sudah masuk penjara semua. Gara-gara mereka terbukti telah bekerja sama untuk menterorku agar meninggalkan mantion!" ucap Siska menjelaskan semuanya kepada Farel.
Farel menggenggam telapak tangan Siska kemudian menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
" Kita segera langsungkan pernikahan kita. Agar aku bisa melindungimu dari para penjahat yang ingin mencelakai! Sayang! Aku benar-benar tidak tenang untuk melepasmu keluar dari kamar ini!" ucap Farel tampak khawatir dengan keadaan Siska.
Siska berusaha untuk menenangkan Farel dan meyakinkannya bahwa keadaan dia saat ini aman bersama dengan kedua pamannya yang selalu melindungi dan menjaganya.