
" Baiklah Pak Farel nanti kami akan mengusahakan untuk mencari suster pribadi yang bisa menjaga Pasien 24 jam." setelah mengatakan itu dokter pun kemudian meninggalkan Farel, Steven dan juga Siska.
Mereka merasa bahagia karena akhirnya ada sedikit kemajuan dalam kondisi Adrian.
" Semoga setiap harinya akan menjadi berita gembira untuk kita semua dengan keadaan Paman Adrian yang bisa kembali pulih seperti semula!" Siska benar-benar berharap yang terbaik untuk paman kecilnya yang selama ini selalu membantu dan juga menghabiskan segala upayanya untuk kebahagiaannya.
Steven merasa senang sekali karena Siska dan Farel saat ini tetap bersamanya untuk menjaga sang kakak.
Sampai saat ini Ibunya belum pernah menghubunginya sama sekali untuk bertanya tentang Adrian. Hati Steven benar-benar sangat sakit sekali mengetahui hal itu.
Kecuekan dan juga ketidakpedulian ibu kandungnya sendiri terhadap dirinya dan juga sang kakak benar-benar membuat Steven menjadi geram luar biasa.
" Sabarlah paman! Kita akan berjuang bersama untuk kesembuhan Paman Adrian." Siska menggenggam telapak tangan Steven memberikan suport untuk pamannya yang dia tahu sekarang pasti benar-benar sedih melihat Adrian yang sampai sekarang masih belum memperlihatkan kemajuan yang signifikan.
" Sayang sebaiknya kita pulang dulu. Sambil menunggu kabar dari dokter tentang suster yang akan menjaga Paman Adrian. Aku rasanya sudah rindu dengan putra kita!" Farel kemudian merangkul bahu Siska dan mengajaknya untuk pulang ke rumah mereka.
" Baiklah. Paman tidak apa-apa. Kalau kami tinggalkan sendiri di sini? Setidaknya kita akan menunggu kabar dari dokter dulu. Tentang suster yang kita sudah pesan tadi," Siska tersenyum pada Steven.
" Iya tidak apa-apa. Santai saja! Lagi pula aku di apartemen sendirian juga tidak tenang. Aku sudah biasa dengan kehadiran pamanmu disampingku!" Steven berusaha tegar.
Farel dan Siska kemudian berpamitan kepada Steven karena mereka ingin bertemu dengan Aaron, putra mereka.
__ADS_1
" Sayang kau juga harus memperhatikan dirimu. Ingatlah sayang. Bahwa saat ini kau sedang hamil muda. Sayang, kau tidak boleh terlalu lelah. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita!" Farel menggenggam telapak tangan Siska yang ada di pangkuan nya. Kepala Siska saat ini ada di bahunya.
" Ya sayang! Aku tahu ko. Hanya saja masalah Paman Adrian memang benar-benar membuatku tidak bisa berpikir santai. Kau tahu sendiri kan sayang?? Bahwa selama ini Paman Ardian dan Paman Steven lah yang sudah berlaku seperti ayahku selama ini. Mereka sudah mengorbankan banyak hal untuk bisa membuat kita berdua bahagia seperti sekarang." Siska mengingat semua yang sudah dilakukan oleh kedua pamannya.
" Bahkan mereka harus bermusuhan dengan ibu kandung mereka. Hanya karena mereka menolak untuk merebut perusahaan dari tanganku. Karena itu bukan wasiat dari Kakek kepada mereka. Kakek hanya berpesan kepada mereka untuk menjaga dan juga melindungiku dan mendukung semua yang kulakukan di perusahaan!" Siska merasa sangat sedih ketika melihat nenek tirinya yang begitu memusuhinya hingga saat ini.
" Bukankah kau lihat sendiri sayang?? Bahkan sampai Paman Adrian seperti itu pun Nenek tiriku sama sekali tidak mau memperdulikan Paman Adrian. Hal itulah yang menjadi beban berat untuk paman Steven saat ini!" Siska ternyata bisa menganalisis raut wajah Steven yang terlihat menanggung beban begitu berat.
Farel hanya bisa mengecup kening istrinya. Farel juga merasakan hal yang sama seperti Siska yang benar-benar merasa hutang Budi kepada kedua pamannya yaitu Adrian dan Steven. Mereka berdua adalah orang-orang hebat yang tidak pernah mau keserakahan masuk ke dalam hati mereka. Farel bangga dengan itu dari mereka berdua.
" Baiklah sayang. Sekarang kau tidurlah dulu. Nanti kalau kita sudah sampai aku akan membangunkanmu!" Farel kemudian mengelus kepala istrinya.
Siska pun kemudian memejamkan matanya karena dia pun sedang merasa lelah dan juga mengantuk.
Pada saat Siska sudah terlihat tertidur tiba-tiba saja ponsel Farel berdering.
" Rosa Mandalika? Untuk apa wanita ini menghubungi kau lagi?" terlihat Farel yang merasa jengkel sekali.
" Tapi kalau tidak diangkat, dia pasti akan terus mencari aku. Baiklah!! Aku akan mencari tahu apa yang dia inginkan dariku!" Farel pun kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut.
" Ada apa kau menghubungi aku?? Bukankah investasi keluargamu sudah aku kembalikan semuanya? Sekarang kita sudah tidak punya urusan apapun lagi!" Farel terlihat begitu geram kepada wanita yang bernama Rossa yang selama ini selalu terus mengganggunya dan seperti sebuah mimpi buruk untuk dirinya.
__ADS_1
" Ayolah Farel kau tidak usah terlalu keras begitu kepadaku! Kenapa memangnya kau selalu menghindari aku? Bukankah kita bisa bermain cantik di belakang istrimu? Kenapa kau begitu bodoh?" tanya Rosa Mandalika kepada Farel yang benar-benar sangat geram sekali mendengar ucapannya.
" Kau bisa mencari laki-laki lain yang bisa kau jadikan seperti itu. Mencari laki-laki yang bisa kau ajak untuk bermain cantik di belakang istrinya. Tapi maafkan aku laki-laki itu bukan lah aku! Karena aku terlalu mencintai istriku dan juga keluargaku! Ingat Rosa Mandalika! Jangan pernah menghubungiku lagi!! Kalau tidak aku akan langsung memblokir nomormu tanpa ampun!" Farel memberikan peringatan kepada wanita itu yang malah tertawa terbahak-bahak mendengarkannya.
" Aku bisa memberikan 50% perusahaan grup Mandalika untuk menjadi milikmu Farel Handoyo. Asalkan kau mau menjadikanku sebagai istri kedua kamu!" Rosa Mandalika benar-benar sudah melewati batas kesabaran seorang Farel.
" Eh, perempuan kurang ajar!! Kamu dengar ya dan buka telinga kamu lebar-lebar!! Aku tidak membutuhkan 50% saham perusahaan keluargamu! Karena aku hanya membutuhkan istriku dan juga anakku di dalam hidup aku! Apa kamu paham?" setelah mengatakan itu Farel pun langsung menutup panggilan telepon tersebut dan memblokir nomor Rosa Mandalika. Perempuan aneh yang selama berapa bulan belakang an ini selalu saja mengganggunya terus di manapun juga.
Siska yang sebenarnya tidak tidur dia merasakan begitu bahagia melihat suaminya yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Tanpa terasa air mata menetes di kelopak mata Siska. Karena rasa haru yang begitu besar dengan cinta sang suami untuk dirinya dan juga anak mereka.
Siska sengaja mengerutkan pelukannya kepada Farel sehingga mengejutkan laki-laki itu yang tadi barusan saja marah-marah kepada Rosa Mandalika.
" Sayang?" tanya Farel yang mengira kalau Siska terbangun.
Bagaimanapun Farel tidak mau mengganggu perasaan Siska dengan mengetahui bahwa Rosa Mandalika saat ini sedang mengganggunya dan terus menggoda dirinya dengan segala cara.
" Sayang!! Aku akan terus berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita. Aku tidak akan mau kalau sampai seseorang merusaknya. Untuk sampai ke titik ini kita sudah melewati begitu banyak rintangan dan derai air mata yang tidak sedikit. Aku tidak akan rela menghapus itu semua begitu saja di dalam hatiku!" monolog Farel sambil mencium kening Siska yang saat ini sedang tidur di dalam pelukannya.
Siska bisa merasakan cinta yang sangat besar di dalam suara Farel untuk dirinya dan dia merasa bahagia sekali.
__ADS_1