Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
52. Entahlah


__ADS_3

Siska menangis di atas ranjang. Setelah apa yang dilakukan oleh Farel kepadanya hanya karena rasa cemburu yang terlalu berlebihan.


" Kamu jahat Farel!" ucap Siska dengan air mata yang terus mengalir di pipi-nya. Saat ini hatinya benar-benar sangat sakit sekali atas perlakuan Farel yang begitu tega merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis.


Farel menatap Siska yang sedang memeluk kedua kakinya dan menangis tersedu-sedu.


Farel terus berusaha untuk merangkul Siska agar masuk ke dalam pelukannya. Akan tetapi Siska selalu menolak dan malah histeris.


" Menjauh dariku Farel! Cukup! Cukup sudah semua penghinaanmu terhadapku! Aku benci sama kamu Farel!" ucap Siska getir.


Siska pun kemudian bangkit dari tempat tidur dan mengambil semua pakaiannya yang dilemparkan begitu saja oleh Farel yang saat itu sedang di amuk oleh nafsu amarah dan juga resa cemburuannya yang membabi buta.


Farel meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia hanya menatap Siska yang saat ini sedang berusaha menggunakan pakaiannya yang agak robek-robek gara-gara perbuatan dia yang terlalu bernafsu.


" Tolong maafkan aku sayang. Aku akan mengatakan kepada kedua orang tua kita untuk mempercepat pernikahan kita!" Ucap Farel dengan suara para sungguh dia saat ini tidak berani untuk menatap mata Siska yang memerah dan bengkak karena terlalu banyak menangis.


Siska tidak mengatakan apapun dia hanya langsung keluar dari apartemen Farel dengan hati yang sangat hancur.


Farel langsung mengambil pakaiannya dan segera bergegas keluar dengan membawa kunci mobilnya.


" Aku akan mengantarmu!" ucap Farel ketika dia sudah berada di dalam satu lift bersama dengan Siska yang masih belum mau bicara dengannya.


Farel benar-benar frustasi melihat Siska yang sejak tadi hanya diam saja tidak mau mengatakan apapun kepada nya.


Bahkan sampai mereka berdua telah ada di basement apartemen pun, Siska masih diam seribu bahasa.

__ADS_1


Siska langsung mendekati Matteo yang masih menunggunya sejak tadi.


" Apa kau baik-baik saja Siska? Ya ampun! Kenapa kau menangis?" terlihat Matteo yang sangat khawatir dengan keadaan Siska.


Siska hanya menggelengkan kepalanya dan dia bersiap untuk masuk ke dalam mobil Matteo. Akan tetapi tiba-tiba saja Farel langsung menarik tangannya dan seketika itu juga Farel menggendongnya seperti karung beras. Farel langsung mendudukkan Siska di kursi mobilnya. Siska terus memberontak dan tidak mau berada dalam satu mobil dengan Farel.


" Lepaskan aku Farel! Aku tidak mau ikut bersamamu. Cepat buka pintunya!" ujar Siska dengan mata berapi-api menatap Farel yang sudah menghancurkan hatinya.


Farel tidak mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh Siska kepada dirinya. Dia langsung menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari basement apartemennya.


" Cepat hentikan mobilnya atau aku akan meloncat dari sini!" ancam Siska yang sedang kesal kepada Farel yang selalu berbuat sesuka hatinya.


Farel mengunci otomatis semua pintu mobilnya sehingga Siska tidak bisa berkutik.


" Berhentilah membuatku gila sayang! Bukankah sudah aku katakan kepadamu? Tolong Jangan mendekati lagi Matteo. Atau aku akan memperkosamu di sini seperti tadi!" ancam Farel yang sudah benar-benar hilang akal untuk mengendalikan Siska yang sajak tadi terus memberontak dan minta keluar dari mobilnya.


Farel memukul setir mobilnya berkali-kali. Sehingga lukanya kembali mengeluarkan darah segar dan itu membuat Siska menjadi terhenyak seketika.


" Apa yang kau lakukan Farel? Apa kau sudah tidak menginginkan lagi tanganmu?" tanya Siska sambil menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh Farel.


Siska menggenggam kedua telapak tangan Farel yang tampak merah karena darah yang terus mengalir dari tangannya.


Farel kemudian menepikan kendaraannya di bahu jalan. Sehingga tidak mengganggu kendaraan lain yang hendak melintas.


" Apa yang kau lakukan ini kau benar-benar telah menyakiti hatiku Farel!" ucap Siska merasa sedih melihat tangan Farel yang kembali berdarah.

__ADS_1


Farel hanya melihat wajah Siska dengan seksama. Dia merasa senang karena masih melihat kekhawatiran di wajah kekasihnya.


Walaupun tadi Siska sangat marah kepadanya gara-gara perbuatannya yang sudah menodai Siska yang dipicu oleh rasa cemburunya mendengarkan Siska yang minta dijemput kepada Matteo.


Entah kenapa Farel merasa hampir gila di buatnya ketika dia melihat Siska yang lebih mempercayai orang lain daripada dirinya, Siska yang lebih membutuhkan orang lain daripada dirinya. Siska terus memperhatikan Kedua telapak tangan Farel yang sekarang mengucurkan Darah segar bahkan sampai ke lantai mobil.


" Turunlah Farel. Biarkan Aku yang akan menyetir mobilnya. Kita harus ke rumah sakit lagi Farel. Ya Allah aku benar-benar khawatir dengan keadaan tanganmu. Kau benar-benar sangat ceroboh sekali!" ucap Siska dengan wajah khawatirnya.


Akan tetapi Farel tidak bergeming sama sekali. Dia hanya terus menatap Siska dan menikmati kekhawatiran yang ditunjukkan oleh kekasihnya terhadap dirinya.


" Ayolah Farel! Cepat buka pintunya dan keluarlah dari situ. Biar aku yang menyetir. Kita harus segera ke rumah sakit. Kau akan kehilangan banyak darah kalau seperti ini terus!" ucap Siska sambil mendorong bahu Farel yang malah tersenyum melihat dia begitu khawatir.


Farel menarik tubuh Siska dan memeluknya dengan erat. Tiada hentinya dia terus mencium pucuk kepala Siska. Farel seakan ingin menenggelamkan wajah kekasihnya di dalam pelukannya. Farel tidak memperdulikan rasa sakit yang ada di telapak tangannya yang terus mengucurkan darah segar.


Siska berusaha untuk keluar dari pelukan Farel dan membujuk kekasihnya untuk segera keluar dari mobil agar mereka bisa segera ke rumah sakit.


" Diamlah Sayang! Tolonglah! Aku ingin memelukmu seperti ini. Setidaknya aku tahu bahwa kau masih khawatir denganku!" ucap Farel dengan suara gemetar sehingga membuat Siska menjadi merasa bersalah karena sudah membuat kekasihnya merasa sedih malam ini.


Karena merasa tidak tega dengan Farel. Akhirnya Siska pun memilih untuk diam dan membiarkan Farel meluapkan segala perasaan cinta untuk dirinya dengan membiarkan Farel untuk memeluknya semakin erat dan mencium wajahnya sepuasnya untuk mengungkapkan perasaan cinta di hatinya untuk Siska.


Setelah perasaan Farel sudah lebih baik. Siska pun kemudian meminta kepada Farel untuk turun agar mereka bisa segera ke rumah sakit dan mengobati kembali luka jahitan Farel yang sepertinya kembali terbuka.


" Ayo kita ke rumah sakit sekarang Farel! Aku mohon! Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus!" ucap Siska meminta kepada Farel untuk segera ke rumah sakit.


Farel menatap wajah Siska yang begitu khawatir dengan dirinya.

__ADS_1


" Tidak apa-apa sayang! Bagiku, ini hanyalah luka kecil yang tidak akan mungkin dapat membunuhku. Tetapi luka disini yang sangat besar.( Farel menaruh telapak tangannya di dadanya sehingga darah mengotori kemeja yang dia gunakan?) Sakit sekali sayang. Karena kau selalu menolakku dan selalu membuat aku marah dengan menyebut nama Matteo di hadapanku. Please sayang! Jangan kau lakukan lagi hal itu kepadaku! Sungguh! Rasa sakit itu sangat besar dan aku tidak mampu untuk menanggungnya!" ucap Farel dengan berlinangan air mata.


__ADS_2