Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
Bab 252


__ADS_3

Farel dan Siska merasa lega karena akhirnya para penjahat itu meninggalkan mereka. " Syukurlah kita berhasil selamat!" Farel menghela nafas lega. Setelah melihat para penjahat itu meninggalkan dirinya dan juga keluarganya. Mereka pun kemudian langsung keluar dari kantor polisi menuju kediaman mereka yang agak jauh lokasinya dari sana.


Terlihat Siska masih memeluk Aaron yang tadi cukup heboh saat melihat ayahnya yang bermanuver ketika berusaha keras untuk melepaskan diri dari kejaran para penjahat yang di perintahkan oleh Abian untuk menculik mereka.


" Siapa kira-kira mereka dan kenapa Mereka mau mengganggu kita?" tanya Siska sambil menatap suaminya yang masih fokus menyetir.


Sopir pribadi Farel benar-benar merasa insecure dengan kemampuan bosnya dalam mengendarai mobil yang sangat luar biasa.


Dirinya tidak berani untuk terlalu mengebut karena merasa takut dengan keselamatan penumpang yang dia bawa. " Tenanglah kita pasti bisa sampai ke rumah dengan selamat, apalagi polisi yang sudah mengawal kita untuk sampai ke kediaman." Siska melihat ke arah mobil polisi yang sedang mengawal mereka saat ini.


Mereka langsung masuk ke dalam mansion. Setelah mengucapkan terima kasih kepada polisi yang sudah mengawal mereka dengan baik.


" Berhati-hatilah mulai sekarang. Ke mana-mana kita harus membawa bodyguard untuk menjaga kita sekeluarga. Jangan lengah!" Farel kemudian mengajak Siska untuk masuk ke dalam kamarnya.


Aaron yang sudah mengantuk pun langsung masuk ke dalam kamarnya tidak menunggu kedua orang tuanya lagi yang tampak begitu kelelahan.

__ADS_1


Aron sekarang sudah menjelma menjadi bujang tanggung, jadi dia tidak membutuhkan lagi baby sitter. Dia sudah mengerti kesulitan kedua orang tuanya jadi tidak terlalu menunjukkan kemanjaan seperti biasanya.


Aaron sadar bahwa orang tuanya saat ini sedang menghadapi banyak masalah. Sejak meninggalnya Andini sampai saat ini mereka belum bisa beristirahat dengan tenang.


" Tidurlah Sayang. Aku akan mengambilkan obatmu dulu. Berbaringlah, tunggu ya?" Farel kemudian menuju ke arah nakas di mana Siska biasa menaruh obat-obatannya di sana.


Hingga saat ini Siska masih harus mengkonsumsi obat-obatan untuk menjaga kehamilannya agar tetap aman dan tidak mengalami masalah.


" Siapa mereka kira-kira?? Aku rasa kita sekarang sudah aman. Tapi ternyata malah jauh lebih berbahaya. Sekarang kita tidak tahu siapa musuh yang menginginkan nyawa kita." Siska terlihat begitu lesu karena merasa sangat khawatir dengan keadaan keluarganya yang selalu tidak lepas dari para penjahat.


" Minum obatmu dulu, sayang. Setelah itu kau istirahatlah. Tidak usah memikirkan hal-hal seperti itu. Aku akan berunding dengan tim keamanan dan juga para Bodyguard untuk melindungimu dan juga Aaron selama tidak ada Aku di samping kalian. Tenanglah Sayang aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian berdua!" Farel memeluk Siska yang masih gemetar ketakutan.


" Apakah kita masih memiliki musuh yang lain yang tidak kita ketahui?" tanya Siska dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


" Aku rasa tidak ada. Entahlah. Aku nanti akan memikirkannya lagi. Siapa kira-kira orang yang memiliki motif untuk menyakiti kita sekeluarga." Farel merasa prihatin melihat Siska yang begitu mengkhawatirkan keselamatan mereka.

__ADS_1


Siska terlihat berpikir keras sampai dia bisa menemukan sebuah nama yang terlintas di dalam pikirannya sekarang.


" Apakah mungkin Abian yang memiliki keinginan untuk mencelakai kita?" tanya Siska sambil menata Farel yang menatap istrinya dengan lekat.


Farel sontak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Siska yang sebelumnya sama sekali tidak ada dalam pikirannya.


" Abian?" padahal seperti tidak percaya kalau sudah punya itu memiliki nyali untuk melakukan itu.


Siska menganggukan kepalanya. " Dia pasti sudah mengetahui tentang Amora yang sudah mengembalikan aset yang diacuri dari dia." terlihat memikirkan apa yang dikatakan istrinya.


" Sepertinya memang begitu. Aku rasa aku harus mulai waspada kepada Abian. Manusia serakah itu. Dulu sudah pernah hampir membunuhku hanya karena ingin menguasai perusahaan Handoyo group. baginya persaudaraan kami tidak penting sama sekali, kecuali harta yang lebih menarik untuk dirinya." Farel merasa benar-benar kecewa ketika dia berpikir tentang Abian yang sangat jahat.


Farel masih ingat bagaimana dulu Abian pernah mengurungnya bersama dengan asistennya di Amerika. Demi keinginan Abian yang mau menguasai Handoyo Group.


Farel dipaksa untuk menandatangani penyerahan seluruh aset perusahaan keluarga mereka kepada Abian.

__ADS_1


Untung saja waktu itu dokter Andrew dan istrinya membantunya untuk bisa lepas dari Abian dan akhirnya dia diselamatkan dan dirawat di rumah sakit setelah perjuangan yang tidak sederhana.


__ADS_2