
Rosa Mandalika yang saat ini sedang makan siang di cafe milik Abimana. Dia terus memperhatikan Steven yang sejak tadi terus saja melamun dan memperhatikan dua orang yang saat ini sedang makan dengan akrab dan dekat.
" Siapa mereka? Kenapa pria kurang ajar itu menatapnya dengan begitu sedih?" tanya Rosa Mandalika pada dirinya sendiri.
Steven yang merasakan luka hatinya akhirnya memilih untuk meninggalkan kafe.
Rosa Mandalika sengaja menabrakkan dirinya saat Steven berdiri sehingga pakaian Steven akhirnya kotor oleh coffe milik Steven yang sengaja di tumpahkan oleh Rosa Mandalika.
Steven seperti merasakan dejavu ketika mengalami hal tersebut.
" Kau?? Apa yang sedang kau lakukan ini?" tanya Steven kesal luar biasa kepada Rosa Mandalika yang sepertinya sengaja melakukan itu terhadap dirinya.
" Maaf aku tidak sengaja melakukan ini. Bagaimana kalau kita ke mall terdekat untuk mengganti pakaian aku akan bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah kulakukan!" Rosa Mandalika tersenyum kepada Steven yang langsung meninggalkannya tanpa banyak bicara.
Steven tadi melihat Adrian melirik kepadanya. Sehingga membuatnya langsung berlari. Karena Steven tidak mau kalau sampai Adrian maupun Andini melihat keberadaannya di cafe itu. Bisa brabe urusannya.
Rosa Mandalika yang masih penasaran dengan Steven dia langsung mengejar pemuda itu tanpa memperdulikan apapun.
" Weh, kenapa kau lari begitu aja?? Aku baca bersalah dengan apa yang sudah kulakukan padamu. Apa kau tidak mau aku bertanggung jawab kepadamu?" tanya Rosa Mandalika dengan senyum menyebalkannya.
Steven yang sedang buru-buru tidak memperdulikan apapun yang dilakukan oleh Rossa.
Steven melotot ketika melihat resah yang masuk ke dalam mobilnya.
" Apa yang kau lakukan? Astaga!! Turun gak?" tanya Steven dengan geram.
Rosa Mandalika dengan begitu damai Sentosa malah memasangkan seatbelt dan duduk dengan begitu anteng di samping Steven.
__ADS_1
Steven yang melihat Adrian dan Andini hendak keluar dari Cafe karena sudah selesai makan siang. Akhirnya memilih untuk tancap gas dan meninggalkan cafe itu. Karena bagaimanapun Steven tidak mau kalau sampai kepergok oleh mereka berdua bahwa dirinya berada di tempat yang sama.
Steven tidak mau mengambil resiko kalau perasaannya terhadap Andini bisa disadari oleh kakaknya ataupun Andini sendiri.
" Eh, kamu aku perhatikan sejak tadi loh. Perasaan kamu kok begitu aneh sih?? Siapa mereka berdua? Kamu seperti menghindari mereka." Tanya Rosa Mandalika yang asli kepo dan penasaran dengan Steven.
Steven sejak tadi hanya diam saja dan tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Rosa Mandalika. Sehingga membuat Gadis itu akhirnya merasa lelah sendiri.
Sepanjang perjalanan itu mereka hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Rossa tidak tahu ke mana Steven akan membawanya pergi. Akan tetapi dia tidak keberatan untuk menemani pemuda itu yang saat ini sedang merasakan patah hati karena sudah mengetahui kalau Andini pun memiliki ketertarikan yang sama seperti kakaknya.
visualisasi Rossa Mandalika
" Kita akan pergi ke mana? Bisakah kau memberikanku clue? Setidaknya aku bisa menyiapkan diriku kalau kau akan menculik diriku yang cantik ini," Rosa Mandalika terlihat tersenyum sambil melirik ke arah Steven yang hanya berdecih lidah tanpa mengatakan apa pun juga.
Rossa benar-benar merasa diabaikan oleh Steven yang bahkan sekarang mulai mengebut. " Weh!! Apa kau mau mati?? Mati sendiri saja kau tidak usah mengajak-ajak aku. Aku masih ingin punya suami dan anak. Weh, apa kau gila?" Rosa Mandalika memegang lengan Steven dengan kencang sambil terus merancau kata-kata yang malah membuat Steven semakin tergelitik hatinya untuk mempermainkan gadis itu.
' Tampaknya bermain-main dengan dia sedikit tidak masalah. Suruh siapa dia mengganggu aku pada saat aku ingin sendiri seperti ini?' bathin Steven yang tersenyum di dalam hatinya melihat ekspresi ketakutan di wajah Rossa Ketika dia terus mengebut dan menyalip beberapa mobil yang ada di hadapan mobilnya.
" Weh, rupanya kau sudah bertekad untuk mati? OMG!! Apa kita akan mati bersama?? Ya sudah tidak apa-apa. Rasanya tidak rugi juga untuk aku mati dengan pemuda tampan sepertimu. Mungkin kita bisa menikah di akhirat sana dan kau wujudkan impianku untuk mempunyai suami dan anak di dunia yang harus kandas gara-gara kau membunuh aku!" Steven sampai tergelak gara-gara mendengarkan semua ucapan Rossa yang begitu konyol baginya.
" Weh, di saat seperti ini kau masih bisa menertawakanku? OMG!! Aku kira kau memang memiliki masalah mental yang sangat luar biasa! Oh ya nanti di akhirat aku akan mencari kamu seorang psikiater agar kau bisa sembuh. Ya benar!! Tenanglah aku akan menjadi istri idaman untukmu dan akan menjamin semua kebutuhanmu di sana. Ya benar!! Kita bisa menikah di sana kalau kita mati bersama hari ini!" Rosa Mandalika semakin kencang memegang telapak tangan Steven yang sekarang malah semakin melajukan kendaraannya.
__ADS_1
Jantung Rossa benar-benar berdebar sangat kencang gara-gara perbuatan Steven yang sedang mengadu nyawa di jalanan.
" Ya Allah ampunkan dosaku!! Papah, maafkan anakmu yang selama ini selalu menyusahkan! Ya ampun!! Weh, aku belum memberikan kata terakhir untuk Ayahku yang kejam itu. Tapi kau udah mau membunuhku? Ya Tuhan!! Semoga kalau aku sudah mati aku tidak akan menjadi arwah gentayangan!" Doa Rosa Mandalika dengan begitu khusyuk sambil memejamkan matanya dan bahkan sekarang sudah memenuhi kebutuhan yang sedang fokus mengebut.
Saat Rossa membuka matanya. Dia takjub ketika mereka ternyata sudah berhenti dan berada di pinggir pantai yang sangat indah.
" Wah!!! Kita berdua sudah ada di surga kah?? Tapi kenapa aku tidak merasakan sakit apapun? Weh! Apakah kita sudah mati? Dan sekarang kita sedang berada di surga?" Rosa Mandalika malah menjadi panik dan segera keluar dari mobil.
Steven hanya tertawa tergelak melihat kelakuan Rossa yang benar-benar membuat dia tidak bisa menghentikan gelak tawanya.
" Ya ampun ternyata di balik kesombongan dan arogansinya dia cuma gadis konyol yang lucu dan menggemaskan!" Steven yang sejak tadi hanya diam dan fokus menyetir. Akhirnya bisa bersuara juga. Ya! Perasaannya sekarang sudah sedikit lebih baik melihat semua kekonyolan yang ditunjukkan oleh Rossa saat ini.
Rossa masih merasa bahwa dirinya sudah mati. Tapi saat dia melihat ada nelayan yang mendapatkan perahunya seketika dia pun sadar bahwa dirinya masih hidup.
" Ah, syukurlah!! Aku ternyata masih hidup!!" Siapa yang menyangka kalau tiba-tiba saja Rossa Mandalika malah meloncat ke atas tubuh Adrian sehingga mereka berdua akhirnya jatuh terguling di pasir pantai yang putih dan cantik.
Steven yang tidak siap menerima tubuhnya mau tidak mau harus rela jatuh di atas pasir.
" Aiya!! Rupanya sekarang kau yang bertekad untuk membunuhku!" ucap Steven yang merasakan bahwa kepalanya terasa sakit karena tadi terantuk batu yang ada di belakang kepalanya saat ini.
" Aiya!! Sakit sekali kepalaku." kepala Steven terasa berkunang-kunang ketika dia melihat tangannya ada Darah segar yang mengalir.
Rosa Mandalika terkejut melihat tangan Steven yang berdarah.
" Ya ampun!! Darah?? Maafkan aku!! Apakah di mobilmu ada kotak P3K?" tanya Rosa Mandalika yang terlihat begitu gugup dan panik saat melihat Darah segar yang mengalir di kepala Steven.
Rossa melihat ada batu runcing yang tadi sepertinya menancap di kepala Steven. Sehingga mengakibatkan Steven berdarah dengan deras sekarang.
__ADS_1