
Dokter Andrew menatap kepada Farel yang kembali lagi berada di hadapannya setelah beberapa jam yang lalu datang dengan permasalahan yang sama. Tangan yang berdarah.
" Sebenarnya apa yang anda lakukan kenapa luka yang baru saja dijahit sudah terbuka lagi seperti ini? pun belum ada 5 jam dari terakhir kali saya jahit luka ini!" ucap dokter Andrew sambil menggelengkan kepalanya.
Siska menatap Farel dengan khawatir karena wajah Farel begitu pucat dan tampak lelah. Sungguh meresahkan sekali.
" Dokter! Tolong siapkan kamar untuknya saja sekarang agar dia dirawat di rumah sakit supaya dia bisa beristirahat dengan baik!" ucap Siska kepada dokter Andrew yang langsung melakukan kepalanya.
Akan tetapi Farel tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Siska karena dia tidak mau menghabiskan waktunya di rumah sakit.
" Ini hanya luka kecil saja. Kau tidak usah berlebihan begitu sayang. Aku ini seorang laki-laki! Dulu di masa mudaku aku pernah mengalami hal yang jauh lebih dari sekedar luka ini!" ucap Farel menatap Siska dengan lekat.
Akan tetapi Siska menatap mata Farel dengan sangat tajam dan seketika membuat nyali Farel menjadi menciut di buatnya.
" Jadi Anda sadarkan? Kalau kalau Anda itu sudah tua, hmmmm? Jadi, tolong kau berhentilah untuk bersikap kekanakan seperti ini! Kau selalu saja membuat aku khawatir!" omel Siska kepada Farel yang sejak tadi terus menatapnya dengan kebahagian.
Tidak ada yang lebih membahagiakan hati Farel selain rasa khawatir yang dimiliki oleh Siska terhadap dirinya.
" Apakah aku harus melukai diriku sendiri untuk bisa mendapatkan perhatian dan rasa khawatirmu sayang? Kalau setelah itu aku rela setiap hari terluka agar melihat wajah cemasmu dengan keselamatan diriku," ucap Farel sambil tersenyum kepada Siska tangannya yang saat ini sedang dibersihkan dan juga dijahit oleh dokter Andrew sama sekali tidak dia rasakan sakitnya.
Dokter Andrew hanya bisa menggalangkan kepalanya mendengarkan semua percakapan antara Siska dan Farel yang menurutnya sangat menggelikan.
" Jangan anda bermain-main dengan nyawa anda sendiri hanya untuk mendapat perhatian kekasih anda itu benar-benar tidak jantan!" ucap dokter Andrew sambil menatap tajam kepada Farel yang langsung meringis karena mulai merasa sakit telapak tangannya.
__ADS_1
Melihat Farel yang meringis membuat Siska menjadi khawatir kepada Farel. Sejak tadi Siska terus mengelus punggung Farel dan berusaha memberikan support kepadanya.
Dokter Andrew benar-benar salut kepada Siska yang masih bertahan dengan laki-laki kekanakan seperti Farel yang bahkan tidak mempedulikan dirinya sendiri.
" Sebaiknya Anda dirawat saja Tuan. Karena saat ini darah di dalam tubuh anda berkurang banyak sekali. Kami akan melakukan transfusi darah kepada anda supaya Anda kembali segar!" ucap dokter Andrew kepada Farel yang wajahnya terlihat pucat
Farel langsung menggelengkan kepalanya dan tidak setuju dengan penilaian sang dokter tentang kesehatan dirinya.
" Anda jangan berlebihan dokter. Ini hanyalah luka kecil, aku tidak akan mati hanya karena luka ini!" Ucap Farel bersikaplah tidak mau dirawat di rumah sakit.
Tiba-tiba saja Siska bangkit dari duduknya dan siap-siap untuk meninggalkan Farel, sehingga membuat Farel menjadi tersentak dibuatnya. Dengan kelakuan kekasihnya.
" Ya sudah karena kau tidak peduli dengan kesehatanmu sendiri, lalu untuk apakah? Aku susah payah di sini dan mengkhawatirkanmu dan perduli dengan kamu? aku pergi Farel terserah kau mau hidup atau mati aku tidak peduli denganmu!" Farel terkesiap melihat kemarahan Siska.
" Baiklah sayang. Aku mau dirawat disini! Tapi janji! Kau tidak boleh meninggalkanku di sini. Kau harus selalu di sini! Karena aku paling tidak suka berada di rumah sakit, apalagi kalau sampai harus dirawat seperti ini!" ucap Farel pada akhirnya menyerah dengan Siska.
" Setelah luka-luka ini dirawat dengan baik. Saya akan langsung membukakan kamar untuk anda, sehingga Anda bisa menerima satu kantong darah. Untuk mengganti darah yang hilang dari tubuh anda!" kemudian dokter Andrew pun menyelesaikan tugasnya dan langsung memberikan kamar untuk Farel bisa beristirahat dan juga melakukan transfusi darah.
Dokter Andrew terlihat cukup lucu dengan Farel yang rupanya sudah ketemu dengan sang pawang yang bisa membuat dia merubah pikirannya hanya dalam satu detik.
" Baiklah aku akan meninggalkan kalian berdua! Ingat Anda harus beristirahat full malam ini. Setelah mendapatkan transfusi darah itu. Besok pagi baru Anda bisa kembali ke rumah anda untuk melakukan aktivitas yang lainnya!" pesan dokter Endro sebelum dia meninggalkan ruangan tempat Farel dirawat di rumah sakit.
" Hmmm," padahal sebenarnya Merasa tidak senang dari tadi karena melihat dokter Andrew yang terus melirik ke arah kekasihnya membuat hatinya panas kembali.
__ADS_1
' Ya Tuhan begini sekali rasanya memiliki seorang kekasih secantik Siska di mana-mana selalu ada pria yang selalu meliriknya dan tatapan penuh damba! Aku harus segera menelpon kedua orang tua kami agar segera mengatur pernikahan kami secepatnya!' bathin Farel merasa tidak aman.
Siska terus menata Farel yang sejak tadi terus melihat kepadanya tanpa berkedip sama sekali. Membuat Siska menjadi tidak nyaman sama sekali di buatnya.
" Apa yang kau lihat dariku?" tanya Siska heran.
" Tidak ada. Aku hanya melihat kecantikan dan rasa khawatir di matamu dan itu benar-benar sangat membuatku bahagia!" Ucap Farel mengulas senyum kepada Siska.
Mendengar semua perkataan Farel membuat Siska menjadi serba salah dan kepalanya merasa pening seketika.
" Tidurlah! Aku juga butuh untuk tidur setelah selama seharian ini aku hanya terlibat dengan masalahmu. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku makan!" ucap Siska yang langsung menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.
Mendengar perkataan Siska, auto Farel mengingat bahwa memang sejak tadi pagi. Sejak pertemuan mereka berdua bertemu, Siska belum makan apapun.
" Apa aku perlu memesan makanan untuk diantar kemari?" tanya Farel merasa bimbang.
Siska menggelengkan kepalanya dan memilih untuk tidur karena saat ini dia benar-benar sangat mengantuk.
" Tidurlah Farel karena besok pagi-pagi aku harus ke kampus dan memulai kuliah aku!" ucap Siska sambil melotot kelada Farel.
Farel merasa tidak senang mendengar Siska yang masih mempunyai niat untuk kembali ke kampusnya.
" Baiklah sayang. Kau tidurlah! Karena aku juga mau tidur kok! Selamat malam!" ucap Farel sambil mengulas senyum kepada Siska.
__ADS_1
Siska tidak menanggapi apapun perkataan Farel karena dia sudah mulai terlelap dalam tidurnya.
Tubuh Siska memang benar-benar lelah lahir dan bathin. Setelah dia tadi kehilangan mahkotanya gara-gara Farel yang cemburu buta kepada Matteo dan seharian emosinya telah terkuras habis gara-gara Farel yang selalu membuat dia merasa khawatir dengan keadaannya yang sangat mudah terpancing emosi dan punya kecenderungan untuk bisa melukai dirinya sendiri ketika dalam keadaan marah. Membuat Siska menjadi cemas.