Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
188. Syukurlah


__ADS_3

Mereka pun kemudian masuk ke dalam ruangan Steven di mana saat ini dia sedang berbaring di ranjangnya.


Melihat kedatangan Siska, Farel, Adrian dan juga Andini. Steven auto melek.


Hati Steven benar-benar tidak karuan rasanya ketika melihat Adrian dan Andini yang saling menggenggam telapak tangan satu sama lain ketika berdiri di hadapannya.


"Paman Bagaimana kabarmu?" tanya Siska yang merasa senang melihat Steven bahkan bisa tersenyum kepada mereka.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian? Kak Adrian. Kenapa kau jauh-jauh datang kemari? Ya ampun! Bukankah kau harus beristirahat Kak? Agar kesehatanmu bisa pulih dengan cepat." Steven tiba-tiba merasa canggung ketika berhadapan dengan Adrian dan Andini.


Adrian kemudian duduk di kursi yang ada di dekat Steven dengan Andini yang selalu mendampingi di sisinya.


"Bagaimana aku bisa beristirahat kalau melihat kau seperti ini? semalaman Aku tidak bisa tidur gara-gara kau tidak ada di rumah!" Adrian langsung memeluk Steven dengan erat. Menyatakan kekhawatiran dan juga rasa syukurnya karena saudaranya ternyata sudah baik-baik saja sekarang.


Steven cukup terkejut melihat kakaknya yang tiba-tiba saja memeluk dirinya.


" Aku baik-baik saja kak. Kau tidak usah khawatirkan aku!" ucap Steven yang meringis kepada kakaknya.


Adrian yang merasakan bahwa ada perubahan besar terhadap diri Steven ketika menatap matanya. Adrian bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan yang telah merubah diri adiknya menjadi 180 derajat tidak dia kenali. Ya!! Adrian merasa bahwa Steven seperti membentangkan tembok besar di antara keduanya.


"Bagaimana kata dokter?" tanya Adrian kepada Steven.


"Aku baik-baik saja kak, jangan khawatir!" Steven melirik sekilas kepada Andini yang sejak tadi hanya diam saja.


Hati Steven teriris sembilu melihat Andini yang tetap saja menggenggam telapak tangan Adrian walaupun saat ini ada yang sedang duduk di kursi.


Rasa cemburu itu begitu besar. Akan tetapi Steven tidak mau menunjukkan hal tersebut di depan semua orang. Hanya Siska dan Farel yang mengerti tentang perasaan Stevan saat ini terhadap kebersamaan Adrian dan Andini.

__ADS_1


Steven melirik ke arah Farel dan Siska yang saat ini sedang duduk di sofa terlihat Siska yang begitu kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh.


"Istirahatlah! Di depan rumah sakit ini aku lihat ada sebuah Hotel. Kalau kalian mau tinggal di sana sebentar, sambil menunggu aku diperbolehkan pulang oleh dokter!" ucap Steven yang merasa khawatir dengan kesehatan Siska yang sedang hamil muda.


"Ya paman! Aku juga tidak mengerti kenapa sejak kehamilan ini aku selalu saja mengantuk rasanya dan cepat sekali lelah." Siska kemudian berpamitan kepada mereka untuk membooking sebuah kamar hotel agar dia bisa beristirahat di sana.


Siska langsung terlelap begitu mendapatkan kamar. Farel merasa kasihan melihat istrinya yang begitu kelelahan.


Farel mengerjakan semua tugas kantornya di dalam kamar hotel melalui ponsel dan juga MacBook miliknya.


Asisten dan sekretarisnya mengirimkan semua pekerjaan Farel. Bahkan rapat perusahaan pun dilakukan melalui virtual semua itu dilakukan untuk menunjang tanggung jawabnya sebagai seorang sebuah perusahaan besar seperti Handoyo Group.


Farel melirik ke arah Siska yang masih saja tertidur di ranjang. Farel kemudian memesan makanan untuk mereka berdua. Karena dia sudah benar-benar rasa lapar tetap bekerja seharian di depan layar MacBook dan juga ponsel pintarnya.


Setelah makanan yang diabaskan datang Farel pun kemudian membangunkan Siska agar bisa makan bersamanya.


"Sayang, ayo kita makan dulu!" Farel menggoncangkan tubuh Siska agar istrinya bangun dari tidurnya.


"Kamu masih ngantuk sayang?" tanya Farel pada istrinya yang tercinta.


Siska langsung membuka kedua tangannya untuk dipeluk oleh suaminya.


"Aku masih ngantuk sekali. Tadi malam gara-gara memikirkan keselamatan Paman Stevan, aku sangat sulit untuk tidur. Alhasil, sekarang rasanya begitu ngantuk!" Siska kembali menguap.


Farel mengerti bahwa istrinya saat ini sedang mengalami perubahan hormon setelah kehamilan keduanya.


Sangat wajar ketika seorang ibu hamil selalu merasa mengantuk dan juga kelelahan.

__ADS_1


"Ya udah Sayang. Aku akan mengambil makanannya dan akan menyuapimu. Kau harus makan demi anak yang ada di dalam kandunganmu!" Siska pun menganggukan kepala dan menurut.


Sambil memeluk Farel. Siska pun membuka malamnya. Setiap suapan, Farel memberikan hadiah ciuman untuk istrinya sehingga membuat Siska jadi tersipu malu karenanya.


"Ih, kayak pengantin baru aja sih!" protes Siska kepada Farel yang memperlakukannya dengan begitu manis. Siska merona pipinya.


"Bagiku rasanya kita seperti baru menikah kemarin dan aku sangat bahagia sekali telah menjadi suamimu! Aku ingin setiap hari yang kita lalui adalah penuh dengan cinta bukan amarah ataupun kebencian," Farel kemudian meletakkan piring tadi, setelah mereka selesai makan.


Siska kemudian menyenderkan tubuhnya di dashboard ranjang.


"Sayang. Hubungilah Paman Adrian. Kapan Paman Steven akan kembali ke Jakarta?" tanya Siska saat suaminya hendak kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Farel pun kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Adrian yang saat ini masih menunggu Steven di sana bersama Andini.


"Paman bagaimana?" tanya Farel ketika telepon tersebut diangkat oleh Adrian.


"Kita hanya tinggal menunggu infus habis. Setelah itu kita bisa memindahkan Steven ke Jakarta kalau dia masih ingin dirawat di rumah sakit!" Farel dan Siska merasa sangat lega dengan berita itu.


"Maafkan kami Paman. Karena tidak bisa menemani kalian di sana. Siska saat ini benar-benar sedang drop tubuhnya. Dia lemas sekali Paman. Sejak tadi dia cuma tidur saja." Farel melihat ke arah Siska yang saat ini sedang membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk kembali tidur.


Adrian sangat mengerti bagaimana kondisi Siska yang saat ini sedang hamil muda.


"Iya tidak apa-apa Farel. Kami mengerti kok. Ini saya juga sedang dirawat disini. Andini memaksa saya untuk di inpus, karena melihat wajah saya yang begitu pucat dan terlihat lemah. Andini bilang, setidaknya saya butuh menghabiskan satu infus untuk kembali fit. Perjalanan jauh itu benar-benar sangat melelahkan dan mempengaruhi kondisiku juga." Farel cukup terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Adrian.


Farel menarik nafasnya dalam-dalam dia benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat Adrian harus mengalami hal seperti itu.


"Maafkan saya Paman. Seandainya saya tidak mengizinkan Paman untuk ikut bersama kami, mungkin kondisi Paman tidak akan seperti sekarang!" Farel benar-benar merasa bersalah kepada Adrian.

__ADS_1


Susah payah Adrian untuk bisa sampai kepada titik sekarang dan kini dia kembali drop. Karena kelelahan yang luar biasa saat melakukan perjalanan hampir 10 jam lebih menggunakan mobil untuk menuju ke tempat Steven saat ini.


"Sudahlah Farel. Itu bukan salahmu. Aku sendiri yang memaksa untuk ikut. Jagalah Siska. Aku tutup dulu." ucap Adrian pada Farel.


__ADS_2