
Indrana marah sekali karena diperintahkan oleh pamannya untuk segera meninggalkan Jakarta. Padahal dia masih mempunyai urusan dan belum rela untuk meninggalkan Jakarta. Indrana masih penasaran dengan Adrian yang mengatakan akan melaporkan dia ke polisi kalau terjadi apa-apa dengan anak yang di kandung oleh Andini.
Siang itu Indrana langsung mendatangi Andini dan Adrian yang berada di rumah sakit. Dia ingin memastikan keadaan Andini.
" Kak, Ayo kita pulang saja ke Bandung. Tolong jangan menambah lagi masalah yang akan membuatmu menyesalinya suatu saat nanti!" Irdina terlihat sangat mengkhawatirkan kakaknya yang kemarin sudah berbuat keterlaluan kepada Andini.
Indrana menatap adiknya dengan penuh rasa kesal." Kamu kalau mau pulang ke Bandung pulang saja tidak usah mengajak aku segala! sebelum aku membalaskan dendamku kepada Andrian dan juga istrinya Aku tidak akan pernah meninggalkan Jakarta!" Indrana kemudian melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit dan mencari ruangan Andini.
Ketika mereka sudah menemukan ruangan Andini dirawat terlihat Steven dan Rossa keluar dari sana. Irdina membeku di tempat ketika melihat Steven yang menggenggam telapak tangan Rossa dengan penuh kasih sayang. Hati Irdina seakan tertusuk sembilu.
Indrana menatap pandangan adiknya dan sekarang dia mengerti. Kenapa adiknya membeku di tempat seperti orang linglung.
" Sekarang kau mengertikan? Bagaimana perasaanku saat ini, setelah melihat Adrian dan istri yang begitu bahagia?" tanya Indrana sambil menepuk bahwa adiknya yang tidak bisa berkata-kata lagi.
Indrana mendekati Steven yang sedang merapikan rambut Rossa di depan ruangan Andini.
" Yoooo, ada seorang laki-laki yang tidak setia rupanya di sini! Cih, tak bermalu sangat!! Apa kau tahu kalau suamimu yang tampan ini sudah mencampakan adikku hanya untuk menikah denganmu?" tanya Indrana sambil menatap sinis kepada Steven.
Steven mengerutkan keningnya ketika dia melihat Indrana yang berjalan ke arahnya.
Steven juga melihat Irdina yang masih membeku dan tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya untuk mendekatinya.
" Irdina?? Kau kenapa?" Steven merasa khawatir melihat Irdina yang hanya diam saja mematung di tempat seperti orang yang kena genta dan tidak mampu melepaskan diri.
__ADS_1
" Irdina?? Apa kau baik-baik saja?" tanya Steven sambil menyentuh bahunya.
Rosa hanya mengurutkan keningnya melihat Apa yang dilakukan suaminya sekarang pada Irdina. Irdina sontak memeluk Stevan, ketika dia menyadari bahwa laki-laki yang dia cintai berada di sampingnya.
" Steven!! Aku merindukanmu. Kenapa kau lama sekali tidak pernah mencariku? Kenapa?" Irdina tidak mampu membendung air matanya lagi.
Steven cukup terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Irdina kepadanya. " Irdina, tolong jangan seperti ini. Duduklah dulu! Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja??" Terlihat Steven yang mengkhawatirkan kondisi Irdina yang menangis sesegukan.
Hati Irdina memang jauh lebih sensitif jika dibandingkan dengan Indrana yang lebih cenderung barbar dan frontal.
" Kenapa kau tidak pernah mencariku Steven? Kenapa? Hiks hiks!" Irdina kembali menangis di dalam pelukan Stevan.
Rosa menatap semua kejadian itu dengan tatapan datar dan nyaris tanpa ekspresi. " Apakah sudah selesai dagelan yang kalian buat? Kami harus segera kembali ke kantor! Kami berdua tidak punya waktu untuk melayani wanita labil seperti kamu yang masih belum bisa move on dari mantan. Sayang! Ayo kita segera pergi meninggalkan Rumah Sakit Ayahku sudah menunggu kita berdua!" setelah mengatakan itu, Rossa pun langsung menarik tangan Steven dan menggenggamnya dengan erat.
" Dia adalah kekasihku. Kami tidak pernah ada kata putus atau pun kata berpisah. Kau Jangan sembarangan bicara!" Irdina menarik telapak tangan Steven yang berada di dalam genggaman Rosa.
Rosa hanya tersenyum sinis melihat Apa yang dilakukan oleh irdina yang bagiannya sangatlah memalukan.
Indrana hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan adiknya. Bagaimanapun dirinya juga Berada di posisi yang sama seperti sang adik yang telah disakiti oleh Adrian.
' Kakak Adik itu memang harus diberikan pelajaran Karena dia sudah berani bermain-main dengan perasaan kami. Seenaknya saja dan mereka meninggalkan kami berdua dan sekarang mereka malah berbahagia dengan istri mereka? Tidak akan pernah aku biarkan hal demikian!' batin Indrana sambil melangkahkan kakinya kepada Stefan yang sedang berusaha untuk melepaskan diri dari irdina.
" Yoo yoo yoo! Apa kau lupa Stevan? Kalau dulu kau meminta kepadaku untuk membantumu mendapatkan adikku sebagai kekasih kamu? Lalu, apa sekarang yang kau lakukan pada adikku? Kau menikah dengan wanita lain dan mencampurkannya seperti barang usang yang sudah tidak menarik lagi!" kata-kata Indra nah benar-benar sangat pedas akan tetapi Steven tidak terpengaruh sama sekali dengan hal itu.
__ADS_1
Steven menatap kepada Rossa yang hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan adik kakak yang menurutnya sangat memalukan.
" Kalian itu adik kakak yang benar-benar tidak tahu malu. Tadi malam kamu yang sudah melukai kakak ipar Kami sampai dia sekarang masuk rumah sakit dan harus dirawat intensif karena bayinya mengalami sedikit gangguan. Berdoalah yang banyak supaya calon keponakan kami baik-baik saja agar kau tidak diseret ke kantor polisi!" Indrana terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Rossa.
Indrana kemudian menatap kepada Irdina yang masih menangis sesegukan.
" Kak, Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Irdina sudah terlihat putus asa.
" Tenanglah adikku Kakak ada disini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menindas kamu. Steven! Jelaskan kepadaku kenapa kau menikahi wanita itu padahal jelas-jelas kau masih merupakan kekasih adikku. Apa kamu sudah melupakan janjimu untuk menikahi adikku?" tanya Indrana menatap tajam kepada Steven yang kesulitan menelan salivanya sendiri. Steven saat ini memang dalam posisi salah karena selama ini memang tidak ada kata putus di antara mereka berdua.
Rosa terus memperhatikan wajah suaminya yang berubah mimiknya menjadi pucat dan gugup. " Selama ini aku memang tidak pernah mengatakan putus dengan adikku. Itu karena adikmu yang menghilang tiba-tiba. Dia pergi ke luar negeri tanpa mengatakan apapun padaku dan tidak pernah memberikan kabar apapun juga kepadaku. Sehingga aku berpikir bahwa dia sudah tidak menginginkanku sebagai kekasihnya lagi. Apakah aku salah kalau menganggap bahwa hubungan kami sudah berakhir? Lebih dari lima tahun kami berpisah tanpa ada kabar apapun darinya. Apa sekarang kamu masih berani mengklaim bahwa kau adalah kekasihku?" tanya Steven sambil menghempaskan telapak tangan Irdina yang tadi menggenggam tangannya.
Irdina merasa lemas tubuhnya mendengar semua yang dikatakan oleh Steven yang semuanya adalah kebenaran.
" Aku punya kesulitanku sendiri kenapa dulu tidak pernah menghubungimu. Steven! Percaya padaku! Aku mohon padamu. Selamanya, di hatiku hanya kau yang merupakan kekasih yang paling kucintai. Aku mohon! Kembalilah Padaku dan tinggalkan wanita itu. Aku janji padamu Aku tidak akan pernah mengungkit pernikahanmu dengan dia! Steven!! Aku sangat mencintaimu dan aku benar-benar menginginkanmu untuk kembali padaku!" Irdina kembali mendekat ke arah Steven dan berusaha untuk memeluknya lagi.
Akan tetapi Steven langsung menghindar dan mendekati Rosa. " Maafkan aku Irdina tetapi aku tidak tertarik untuk kembali menjadi kekasihmu. Kedatanganmu sudah terlambat karena sekarang aku sudah memiliki seorang istri dan sebentar lagi kami juga akan memiliki seorang anak. Buah cinta kami berdua!" Steven menatap Rossa dengan penuh kasih sayang yang membuat Irdina seketika mengamuk.
Rosa langsung bersembunyi di balik tubuh Steven karena dia tidak mau mengalami nasib seperti Andini yang sekarang terbaring di rumah sakit tanah perbuatan Indrana yang sangat barbar.
Rossa dan Stevan sudah mendengar kisah tadi malam yang dilakukan oleh Indrana yang telah menyerang Andini setelah mengetahui dia sedang hamil. Irdina terlihat limbung bahkan hampir jatuh.
Indrana langsung menangkap tubuh adiknya sehingga tidak jatuh ke lantai. " Adikku, Apa kau baik-baik saja?" Terlihat Indrana yang menghawatirkan kondisi adiknya yang sekarang semakin pucat wajahnya. Indrana mulai panik dengan kondisi Irdina sekarang yang terlihat begitu lemas seakan tak bertenaga.
__ADS_1
" Kak! Tolong bukakan kamar untukku di rumah sakit. Aku harus segera dirawat kalau tidak penyakitku akan kambuh lagi!" Bisik Irdina di telinga kakaknya.