
Siska merasa benar-benar prihatin melihat Adrian sampai saat ini masih belum juga sadarkan diri dari komanya.
" Kita akan pindahkan Paman Adrian ke Jakarta. Di sana peralatan medis dan semuanya jauh lebih baik. Kita juga akan membawa Paman Adrian ke Amerika Jika perlu. Kita akan memasukkan Paman Adrian ke rumah sakit dokter Andrew!" Siska saat ini sedang berdiskusi dengan Steven dan juga Farel.
Ibu dari Adrian tidak suka kalau ada Siska di dekatnya. Oleh karena itu dia lebih memilih untuk menyingkir daripada harua bersama dengan Siska di dalam satu ruangan.
" Baiklah aku akan segera mengurus semuanya. Terima kasih Siska karena kau mau peduli dengan keadaan pamanmu yang saat ini sedang membutuhkan dukungan kita semua!" Steven sampai meneteskan air matanya benar-benar merasa terharu.
Siska bisa merasakan bahwa saat ini pamannya juga merasa sedih.
" Tenanglah paman kita akan menghadapi ini semua bersama-sama!" Siska dan Farel kemudian mengurus semua hal untuk kepindahan Adrian ke Jakarta.
Mereka akan melihat dulu perkembangannya. Kalau memang dibutuhkan untuk terbang ke Amerika. Mereka pun akan melakukan itu. Demi kesembuhan Adrian yang mereka sayangi.
" Ayo paman kita segera pindahkan Paman Adrian ke Jakarta kapan bulan sudah menunggu di sana!" Siska dan Farel serta Steven kemudian membiarkan perawat yang akan memindahkan Adrian menuju ambulans yang sudah menunggunya.
Adrian yang sampai saat ini masih belum juga menggerakkan anggota tubuhnya ataupun mendapatkan kesadarannya kembali. Tetapi dia mendengar apapun yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Adrian merasa sedih sekali mengenai Jasmine yang saat ini sudah meninggal.
Adrian merasa bersalah kepada dirinya sendiri. Karena sudah teledor dalam membawa mobil yang dikendarainya.
" Ya Tuhan! Tolonglah aku. Berilah aku kekuatan untuk bisa bangun dan segera menggerakkan anggota tubuhku. Aku tidak mau selamanya seperti ini! kasihan mereka semua yang saat ini sedang memikirkanku." Adrian yang saat ini berada di ruangan hampa hanya bisa berdoa dan terus berdoa agar dirinya bisa kembali menggerakan tubuhnya dan membuka matanya.
__ADS_1
Siska, Steven, dan Farel. sekarang mereka bertiga sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk ke Jakarta.
Stevan tidak peduli dengan ibunya yang bahkan hanya menengok Adrian beberapa kali selama kakaknya itu berada di rumah sakit. Steven tahu keberadaan Siska yang tidak dia sukai. Hal itu hanyalah sebuah alibi untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang harus mengurus pertanyaan yang saat ini sedang koma.
" Apakah Nenek nanti tidak marah kalau kita memindahkan Paman Adrian tanpa sepengetahuannya?" Siska merasa khawatir juga dengan reaksi dari nenek tirinya yang dia tahu bahwa selama ini tidak pernah menyayangi dan juga mencintainya.
" Sudahlah tidak usah dipikirkan tampaknya dia tidak pernah memperdulikan keadaan kakakku. Kau bisa lihat sendiri kan? Hampir dua minggu kakakku berada di rumah sakit berapa kali dia menengoknya? Ibuku itu hanya sibuk dengan arisannya dan teman-teman sosialitanya. Sejak dulu dia tidak pernah memperdulikan kami berdua sebagai anaknya. Sudahlah Siska Paman tidak mau membahas tentang nenekmu lagi!" Steven tampak merasa marah ketika Siska bertanya tentang ibunya Adrian yang juga merupakan ibunya sendiri.
Memang sangat rumit sekali hubungan antara Steven Adrian dan juga ibunya.
Pada dasarnya ibunya Adrian merasa kesal kepada kedua anaknya yang lebih senang menjadi pembantu Siska daripada mereka mengambil alih perusahaan Prayoga group untuk di bawah kekuasaan mereka.
Hal itulah yang menjadi hubungan ibu dan anak menjadi mendingin dan tidak akur.
Oleh karena itu beliau memilih untuk Acuh dan tidak peduli dengan kehidupan mereka berdua yang pembangkang menurut versinya.
Setelah Adrian berada di rumah sakit yang ada di Jakarta. Segala yang terbaik diberikan oleh Siska dan Farel untuk menunjang kehidupan Adrian.
Steven benar-benar masa terharu atas apa yang dilakukan oleh siska dan juga farel terhadap saudaranya.
" Terima kasih Siska kan aku sudah memperhatikan keberadaan saudaraku dengan baik. Aku berharap setelah semua ini berakhir keluarga kita akan baik-baik saja!" Steven benar-benar merasakan hatinya terenyuh ada juga tersentuh dengan semua yang sudah dilakukan oleh Farel dan Siska.
Bahkan ibu kandungnya pun tidak memperdulikan lagi Adrian dan tidak mau membiayai semua pengobatannya.
__ADS_1
" Sudahlah Paman! Bukankah Paman Adrian juga selalu memberikan yang terbaik ketika aku di dalam kesulitan? Aku yakin bahwa Paman Adrian juga pasti sedang berusaha untuk bisa kembali ke sisi kita!" Siska berusaha untuk menghibur Steven yang saat ini sedang sedih karena saudaranya yang sampai sekarang masih juga belum bangun.
" Kak cepatlah kau bangun apa kau tidak kasihan kepada keponakanmu yang harus mengurus perusahaan dan juga mengurus kamu? Apakah kau tidak merindukan keponakan kita yang sekarang sudah semakin tampan?" Steven berusaha untuk mengajak bicara Adrian yang masih dalam status vegetatif.
Farel tahu bawa perasaan Siska dan Steven saat ini benar-benar membutuhkan support dan juga dukungan darinya.
" Paman beristirahatlah. Nanti saya akan mencari suster profesional yang akan selalu stand by menjaga Paman Adrian. Sudah berhari-hari Paman kesulitan untuk tidur." Farel meminta kepada Steven untuk dia beristirahat di apartemennya.
" Kalian berdua juga kan sudah kelelahan. Sesama beberapa hari ini kita sudah mencurahkan semua perhatian dan juga tenaga kita untuk kesembuhan Kakakku. Aku yakin Kakakku juga pasti tahu bahwa kita sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik baginya!" tiba-tiba saja Farel yang saat ini sedang menatap Adrian dia melihat Adrian yang menangis.
" Lihatlah semuanya. Paman Adrian sepertinya mendengarkan apa yang kita bicarakan." Mereka terkesiap melihat air mata yang membasahi kelopak mata Adrian.
" Maafkan kami Kak. Kalau kami selalu mengeluh tetapi kami benar-benar tidak tega melihatmu terus seperti ini! Cepatlah bangun Kak Apakah kau tidak ingin berziarah ke makam dan mendoakan dia?" tanya Steven tampil menggenggam telapak tangan Adrian yang terlihat bergerak sedikit.
Hati mereka benar-benar lega. Setidaknya sejauh ini sudah ada respon yang diberikan oleh Adrian terhadap semua yang mereka lakukan.
" Aku akan memanggil dokter." Farel kemudian langsung menuju ke dokter yang menjadi penanggung jawab Adrian selama dia berada di rumah sakit itu.
Dokter senang sekali mendengarkan kabar gembira tentang Adrian yang bisa menangis dan juga menggerakkan jari jemarinya. Walaupun masih terlihat lemah dan hanya sebentar saja.
" Syukurlah! Tampaknya ada kemajuan besar di dalam kondisi kesehatan Tuan Adrian. Lita bisa optimis untuk kesembuhan dan juga kesadarannya kembali! Perbanyaklah berdoa kepada Tuhan dan ajaklah dia terus untuk berbincang-bincang. Saya percaya bahwa pasien bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan. Terlihat dari Respon yang diberikan oleh pasien." ucap dokter yang saat ini sedang memeriksa kondisi Adrian.
" Dokter Tolong carikan untuk kami seorang suster yang akan menjadi perawat untuk Pamanku selama 24 jam. Kami akan menggajinya secara pribadi!" pinta Farel kepada dokter yang saat ini sedang memeriksa keadaan Adrian dengan begitu teliti.
__ADS_1