
Farel segera terbang ke Jakarta setelah mendengar kondisi Siska yang saat ini berada di rumah sakit.
" Paman, aku harus kembali ke Jakarta malam ini juga. Apakah Paman bisa mengurus semuanya sendiri?" tanya Farel pada Adrian yang tampak begitu bersemangat karena sudah berhasil menangkap Indrana bersama dengan Amora.
" Ya Farel. Tidak apa-apa kok. Nanti Paman akan menghubungi pengacara keluarga kita untuk membantu kita menyelesaikan masalah di sini. Kau uruslah Siska baik-baik. Jangan sampai kalian kehilangan anak lagi seperti paman! Itu sungguh menyakitkan sekali Farel," terlihat Adrian dengan mata berkaca-kaca sambil menepuk bahu Farel.
Farel mengerti bagaimana perasaan Adrian saat ini yang sedang merasa tersiksa dan juga sedih karena mengingat kembali tentang istri dan anaknya yang meninggal karena dibunuh oleh Indrana.
" Tenanglah Paman. Saya pasti akan memastikan pembunuh dari Bibi Andini dan calon anak paman akan dihukum setimpal dengan perbuatan jahat mereka." Farel meyakinkan Adrian bahwa seluruh keluarga berada di pihaknya.
" Terima kasih Farel. Pulanglah sekarang juga. Kasihan Siska. Pasti di sana sedang menunggu kamu dengan harap cemas." Adrian kemudian mengantarkan Farel ke bandara.
" Kita sekarang bisa bernafas lega karena Indrana dan juga David sudah tertangkap. Semoga saja tidak ada orang lain yang diperintahkan oleh wanita keji itu untuk mencelakai keluarga kita." Adrian benar-benar berharap doanya dikabulkan oleh Tuhan yang seakan masih belum puas memberikan cobaan yang begitu banyak kepada keluarga mereka.
" Tenanglah Paman setelah mendung pasti akan terbit mentari yang indah yang akan menghangatkan seluruh kehidupan kita dengan kebahagiaan!" Farel kemudian berpamitan kepada Adrian dan langsung masuk ke dalam pesawat.
Sepanjang perjalanan Farel banyak merenungkan hidupnya yang selama ini begitu banyak onak duri. Farel sampai saat ini masih penasaran dengan pembunuh kedua orang tuanya Siska yang sudah lebih dari 10 tahun belum juga terungkap.
" Siska pasti terasa sedih atas pembunuhan kedua orang tuanya yang sampai saat ini masih belum juga terungkap. Syukurlah pembunuhan Andini sekarang dalam proses pengadilan. Pembunuhnya akan segera mendapatkan ganjaran atas perbuatan dan kejahatannya." Farel terlihat memejamkan matanya sepanjang perjalanan menuju Jakarta.
Farel sejak kemarin memang belum tidur sama sekali karena begitu banyak urusan yang harus dia kerjakan bersama Adrian selama di Surabaya.
__ADS_1
Farel kembali mengingat kejadian ketika dirinya berbicara dengan Amora di dalam penjara. Hati Farel benar-benar sakit mengetahui Amora hidup dengan begitu baik bahkan menjadi artis terkenal di negeri ini dengan wajah dan nama lain.
Flash back on
" Amora!! Pintar sekali Kamu menyembunyikan dirimu dengan begitu rapih. Pantas saja kami sudah setengah mati mencarimu kemana-mana tidak pernah berhasil. Kamu terlalu menganggap dirimu terlalu hebat!" Farel terlihat begitu marah ketika berhadapan dengan Amora yang hanya tersenyum miring penuh kemenangan.
" Hahahaha! Bukankah aku memang pintar Farel?? Lihatlah!! Kalau bukan karena perempuan bodoh itu yang sudah mengungkapkan identitasku yang sesungguhnya, tidak mungkin kalian bisa menemukan aku kan? Aku menyesal karena sudah mau menolong perempuan tidak tahu diri itu!" terlihat Amora yang begitu murka ketika dia mengingat tentang Indrana yang sudah membuka identitasnya hanya untuk mendapatkan keringanan hukuman dan pengampunan dari keluarga Prayoga.
Farel begitu murka dan hampir saja mencekik Amora kalau Adrian tidak menghalanginya dengan segera, mungkin saja Amora sudah mati di tangan Farel yang emosi luar biasa kepada wanita itu.
" Akan kupastikan kau memdekam di penjara seumur hidupmu! Camkan itu!" Farel kemudian meninggalkan Amora yang ada di dalam sel penjara yang kemudian menangis pilu karena melihat kebencian di mata laki-laki yang selama ini dia cintai dengan sepenuh hati.
Adrian yang marah sekali ketika melihat Indrana yang dari tadi hanya menundukkan kepala di belakang Amora dan tidak berani menatap Adrian yang begitu membenci dirinya.
Flash back off
Farel meraup wajahnya dengan pasar ketika mengingat semua kejadian itu yang sampai saat ini terasa begitu menghiris hatinya.
Terbayang kembali segala kesusahan yang sudah dilakukan oleh Amora kepada dirinya dengan mencuri semua aset yang di curi oleh Abian yang kemudian dia bawa lari entah ke mana dalam pelariannya.
' Akan kupastikan semua milik keluarga Handoyo aku rebut kembali. Untung saja waktu itu keluarga Prayoga menolong kami untuk menghadapi krisis itu. Kalau tidak, perusahaan Handoyo yang sudah dirintis oleh nenek moyangku pasti sudah tenggelam dan hancur di tanganku. Itu adalah dosa besar yang tidak akan pernah bisa aku untuk menanggungnya.' Farel terlihat menangis sedih.
__ADS_1
Air mata Farel luruh begitu saja ketika dia mengingat begitu banyak pengorbanan yang sudah dilakukan oleh Siska selama menjadi istrinya.
Tiba-tiba saja Farel begitu merindukan Siska yang saat ini berada di rumah sakit. 'Tungguan aku sayang!' Farel menyeka air matanya dengan kedua tangannya yang bergetar karena rasa haru yang saat ini sedang menguasai hatinya karena merasa senang akhirnya Amora bisa ditangkap.
Farel berjanji bahwa dirinya akan memberikan hukuman yang sangat berat kepada Amora dan dia bersiap untuk menyewa pengacara terbaik yang akan membantunya mewujudkan apa yang ada di kepalanya saat ini.
' Aku tidak akan melepaskanmu kali ini, Amora! Aku akan pastikan kau menerima hukumanmu berlipat kali ganda!' Farel meremas kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih karena emosi di hatinya yang begitu besar.
Farel mengingat cerita Siska bahwa rekan Indrana dalam membunuh Andini adalah David. " Bagaimana mungkin wanita keji itu bisa kenal dengan David? apa sebenarnya hubungan mereka berdua?" monolog Farel yang memperlihatkan begitu banyak ekspresi dalam satu waktu.
Membuat wanita yang duduk di samping Farel mengerutkan keningnya karena heran dengan perilaku Farel yang aneh luar biasa menurutnya.
"Eh, apa kau gila? Kenapa dari tadi kamu terus saja menggeram dan terlihat marah. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya wanita muda yang duduk di samping Farel.
Farel yang sudah kaya dengan pengalaman tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Berdasarkan pengalaman adalah selalu dibuat susah oleh para wanita yang ngefans kepadanya. Oleh karena itu, Farel memutuskan untuk mengacuhkan wanita yang duduk di sampingnya dan memilih untuk kembali tidur sampai pesawat mereka landing di Jakarta.
" Ih, dasar pria sombong dan aneh! Diajak bicara saja sombong sekali. Wej, seperti aku akan merampok kamu saja!" gadis itu bahkan sampai memukul dengan Farel yang dia lipat di depan dadanya untuk melampiaskan kemarahan di hatinya.
Farel memasang headset telinganya agar tidak merasa terganggu dengan perempuan labil yang ada di sampingnya.
' Aku tidak mau mengundang Amora lainnya ke dalam hidupku. Satu Amora saja sudah cukup untuk memporak-porandakan hidupku dan keluarga kecil sehancur-hancurnya. Aku tidak mau jatuh kembali di situasi yang sama. Kalau seandainya dulu aku tidak berbaik hati untuk menggubris kehadiran Amora pasti wanita gila itu tidak akan nekat untuk melakukan semua rencana jahatnya. Ibuku mungkin tidak akan mati di tangan dia!' bathin Farel yang bahkan meneteskan air matanya ketika mengingat tentang ibunya yang sudah meninggal karena dibunuh oleh Amora.
__ADS_1
Gadis muda yang duduk di samping Farel terlihat bingung melihat Farel yang memejamkan matanya dengan meneteskan air mata.
" Rupanya benar dugaanku, kalau kau adalah pria depresi yang menyedihkan. Buktinya kau sejak tadi nyaris tanpa ekspresi dan sekarang kau malah menangis tanpa alasan. Baiklah untuk kali ini aku akan mengampunimu karena sudah cuek dan sombong kepadaku!" akhirnya Gadis itu pun memilih untuk diam dan mengacuhkan Farel yang duduk di sampingnya seperti orang asing yang tidak mau saling mengenal satu sama lain hingga akhirnya mereka landing di Jakarta dan berpisah di bandara.