
Steven dan Rosa yang saat ini sedang sangat berbahagia dengan kehidupan baru mereka setelah pernikahan yang hampir berjalan satu bulan lamanya.
" Apakah aku boleh untuk bekerja di perusahaan ayahku?" tanya Rosa pada pagi itu, saat mereka masih bermalas-malasan di atas ranjang. Rosa sekarang mempunyai kebiasaan baru yaitu bermanja di atas dada suaminya yang menawan.
Steven memainkan anak rambut yang menghalangi pandangannya untuk menikmati kecantikan sang istri di pagi hari.
Mereka adalah pengantin baru yang masih menikmati indahnya cinta. Siska maupun kedua orang tua Rossa benar-benar sangat mengerti dengan kondisi mereka saat ini.
Mereka tidak memberikan terlalu banyak tugas kepada Steven selama berada di kantor. Sehingga Steven selalu cepat pulang dan tidak terlalu pusing untuk mengurus semua pekerjaan di kantornya. Karena sekarang Steven sudah diberikan asisten pribadi oleh Siska untuk membantu segala pekerjaannya di kantor.
" Sayang, bukankah lebih bagus kalau kau di rumah dulu dan fokus untuk kita dapat momongan dulu?" tanya Steven sambil menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
" Aiya!! Apa kau yakin kalau ingin aku hamil segera?? Bukankah itu terlalu cepat? Kenapa kau tidak ingin kita menikmati dulu masa-masa indah berpacaran?" tanya Rosa sambil tersenyum kepada suaminya.
Steven terlihat berpikir keras, akan tetapi Steven malahan menggelengkan kepalanya.
" Tidak sayang. Kau tahu bukan kalau aku ini termasuk terlambat menikah? Jadi aku ingin kita segera memiliki anak. kau Lihatlah anak Siska sudah berusia hampir saja 10 tahun. Sementara aku paman kecilnya malah baru menikah." Rosa meringis mendengar ucapan sang suami yang memang ada benarnya juga.
" Katakan padaku suamiku. Aku sangat penasaran sekali. Kenapa kau sampai terlambat menikah? Padahal aku memiliki segalanya. Kau memiliki wajah tampan dan kekayaan yang melimpah. Katakan padaku apa yang menghambatmu?" tanya Rosa dengan wajah antusias dan penasaran yang luar biasa.
" Tentu saja karena kita terlambat bertemu. Kau baru datang ke dalam hidupku, sayang! Apa kau lupa itu?" Tanya Steven sambil menyentil hidung sang istri yang saat ini tepat berada di depan wajahnya.
" Gak maksud." ucap Rosa sambil menggelengkan kepalanya.
" Sayang, jodoh, maut, rejeki. Semua itu sudah tercatat di *Lauhul Mahfudz. Kita sebagai hamba Allah hanya tinggal melaksanakan semuanya dengan penuh keikhlasan. Kau tercifta untukku dan aku tercifta hanya untuk kamu. Makanya sekarang kita baru menikah. Karena kita berdua baru saling menemukan satu sama lain!" Rosa tersipu mendengarkan semua yang dikatakan suaminya.
" Ayo kita berusaha untuk membuat Steven junior agar kita bisa segera pindah ke Mansion yang diberikan oleh Papa dan Mama. Aku benar-benar sangat tidak enak karena sudah mengecewakan mereka untuk pindah ke sana!" Steven kemudian memulai untuk melakukan aktifitas membahagiakan di pagi hari untuk mereka berdua.
***
Andini dan Adrian saat ini sedang disibukkan dengan aktifitas mereka di dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga kecil mereka.
Anto dan Andi harus berangkat sekolah pagi-pagi jadi mereka harus menyantap sarapan sebelum mereka pergi.
__ADS_1
" Sayang, biarkanlah pembantu yang mengerjakan semua ini. Ayo kita ke kamar saja!" Adrian masih belum juga mau menyerah untuk membujuk sang istri agar ke kamar dengannya.
Pembantu yang bekerja di mansion Prayoga hanya menggelengkan kepala Mereka melihat kelakuan pengantin baru yang lucu itu.
" Oalah! Mereka berdua itu sangat manis ya? Semoga mereka selalu berbahagia. Segera di berikan momongan dan selalu dilindungi dari marabahaya." Doa supir pribadi Adrian yang saat ini sedang memperhatikan tuannya yang masih belum berhasil membujuk Andini untuk meninggalkan pekerjaannya di dapur.
" Ayolah sayang. Aku ingin menyiapkan sarapan di pagi hari untuk kita dengan tanganku sendiri. Ini adalah bentuk cintaku sama kalian!" ucap Andini bersikeras dengan semua yang ingin dia lakukan saat ini.
" Ayolah!! Pekerjaan seperti ini bisa digantikan oleh orang lain. Tapi pekerjaan penting kamu bersamaku tidak akan bisa digantikan oleh 10 pembantu sekalipun." Ucap Adrian berbisik di telinga Andini.
Mendengar ucapan sang suami Andini pun menghentikan pekerjaannya. " Pekerjaan apa itu sayang? Yang tidak bisa diganti oleh 10 pembantu sekalipun?" tanya Andini dengan wajah bodohnya.
Adrian langsung mematikan kompor dan segera mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mereka.
Dengan kelakuan Adrian akhirnya mengerti dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.
Anto dan Andi yang baru keluar dari kamar mereka. Saat ini tampak tersipu malu saat melihat kelakuan Kakak dan juga Kakak iparnya yang benar-benar telah menodai mata suci mereka di pagi hari.
" Kau ada-ada saja. Memangnya siapa yang mau menikah denganmu? Anak masih bau kencur begini. Hahaha! Mencari makan untuk diri sendiri saja belum mampu, eh, kau ingin menikahi anak orang lain!" Ledek Anto.
" Ckck!" Andi berdecak lidah mendengar ucapan saudaranya tadi.
" Makanya kita pindah ke apartemen kita saja. Daripada tinggal di sini, otak kita jadi terkontaminasi gara-gara mereka berdua yang selalu kayak gitu setiap hari di depan kita. Ayolah kita pindah saja dari sini Demi menjaga kewarasan otak kita!" Ucap Andi berusaha untuk membujuk saudaranya agar mengikuti ide dan keinginannya.
Akan tetapi terlihat Anto yang sedang berpikir keras memikirkan tentang apa yang dikatakan saudaranya.
Karena sejujurnya dirinya juga merasa agak terganggu dengan semua aktivitas kemesraan yang dilakukan oleh pasangan pengantin baru itu yang seperti tidak kenal tempat dan waktu.
Sementara itu pembantu melanjutkan pekerjaan yang tadi ditinggalkan oleh Andini karena perbuatan Adrian yang menyabotase sang istri tercinta.
" Baiklah nanti saat sarapan bersama, aku akan menyampaikan keinginan kita untuk kembali ke apartemen kita." akhirnya Anto menyetujui apa yang diinginkan oleh Andi.
Kedua remaja tanggung yang rupawan itu pun kemudian masuk ke dalam kamar mereka dan mengambil tas serta semua perlengkapan sekolahnya.
__ADS_1
" Ayo kita sarapan saja duluan. Kita tidak usah menunggu mereka berdua. Nanti yang ada kita malah terlambat sekolah." ucap Andi terlihat kesal dengan kelakuan saudaranya.
Anto hanya mengangguk dan setuju dengan semua yang dikatakan saudaranya karena hal itu pun sejalan dengan pikirannya.
" Sudah Tuan makan saja duluan tidak usah nunggu mereka. Mereka berdua sedang berusaha untuk memberikan keponakan untukmu secepatnya. Jadi Kalian tidak usah menunggu mereka lagi!" ucap pembantu yang kemudian meletakkan sarapan di atas meja untuk mereka berdua.
Andi dan Anto saling menatap satu sama lain.
" Keponakan?? Ah ya!! Kalau mereka berdua nanti memiliki anak, maka otomatis kita berdua akan menjadi Om! Wow!! Andi!! Bukankah itu sangat menyenangkan?" Anto terlihat begitu excited walaupun hanya sekedar membayangkannya saja.
Andi juga tersenyum saat mendengar apa yang dikatakan saudaranya.
" Kita jadikan? Nanti pindah ke apartemen kita? Sebaiknya kita berdua tidak usah mengganggu mereka memproduksi keponakan untuk kita. pasti nanti lucu deh kalau kita dipanggil om sama anak mereka." terlihat Andi yang juga sumringah saat membayangkan kejadian itu benar-benar terjadi pada mereka.
Mereka berdua pun kemudian menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh pembantu.
" Nanti malam saja kita bicarakan soal niat kita untuk pindah dari mansion ini. Kalau kita bertemu mereka saat makan malam. Ya, tentu saja kalau kita beruntung dan bertemu mereka!" Anto tertawa melihat sikap frustasi saudara yang tak mampu berkata-kata lagi.
Bibi pembantu yang sejak tadi terus setia mendengarkan semua percakapan mereka hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum bahagia.
" Aku bersyukur karena akhirnya Tuan Andrian bisa menemukan kebahagiaannya. Setelah bertahun-tahun lamanya dia selalu menderita dan disakiti oleh para kekasihnya." Bibi tampak meneteskan air matanya karena merasa terharu dengan kebahagiaan Tuan mudanya yang sudah hampir 10 tahun dia mengabdi kepada Adrian dan mengikutinya.
Kedua adik kakak itu pun sudah diantarkan oleh Supir yang sengaja diatur oleh Adrian untuk antar jemput mereka berdua.
" Lega rasanya setelah meninggalkan rumah. Ya Tuhan! Apa rasanya tercekik berada di sana melihat kemesraan mereka yang tidak ada habisnya!" Anto terlihat begitu lesu karena kekurangan tidur dan istirahat.
Bagaimana dia bisa beristirahat dengan tenang di malam hari. Kalau Adrian dan Andini selalu mengganggu otak remajanya dengan aktifitas kemesraan mereka hampir tiap malam. Benar-benar sukses membuatnya tidak bisa tidur semalaman karena suara-suara aneh yang keluar dari kamar mereka.
" Kamu kenapa lesu begitu?" tanya teman Anto saat melihat temannya tidak bersemangat sama sekali untuk memulai pelajaran mereka.
" Sudahlah jangan banyak bertanya dan jangan ganggu aku!" Anto kemudian menlungkapkan wajahnya di atas meja dan bersiap untuk tidur kembali.
" Eh, Apa kau sudah bosan hidup? Kenapa kok malah tidur di kelas sih? Kau tahu kan kalau guru kita itu galak dan tidak pernah mentolerir murid yang tidur di kelas. Ayolah! Bangun cepat! Jangan sampai nanti kamu diskorsing gara-gara tidur di kelas!" teman Anto terus mengingatkan sahabatnya agar tidak bermain-main seperti itu saat mulai jam pelajaran.
__ADS_1