Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
222. Ada-ada saja!!


__ADS_3

" Ada-ada saja!" Andini tertawa karena merasa lucu dengan Indrana yang plin plan.


" Kenapa kau tertawa, huh? Katakan! Apa yang lucu di sini?" tanya Indrana yang merasa tersinggung kepada Andini yang sepertinya tidak memperdulikan semua yang dia katakan tentang Adrian.


Adrian menghela nafas berat karena benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Saat dia melihat kelakuan Indrana yang sudah kelewat batas menurutnya.


" Kau mengatakan Kalau suamiku adalah laki-laki bajingan. Lalu, apa yang sedang kau lakukan ini? Kenapa kau begitu menginginkan suamiku yang b******* ini?" tanya Andini dengan tatapan yang benar-benar membuat Indrana sangat membencinya.


Tatapan penuh percaya diri karena merasa dicintai oleh Adrian. Adrian tersenyum kepada Andini yang telah membelanya sejak tadi tanpa ragu sama sekali.


" Sayang, sebaiknya kita pulang saja. Biarkan saja anjing menggonggong sesuka hatinya. Kita tidak perlu melayani dia. Karena seekor singa tidak akan mati hanya karena di gigit oleh anjing gila!" ucapan Adrian benar-benar telah menghancurkan harga diri seorang Indrana yang merasa sangat tersinggung sekali dengan ucapannya.



" Kau mengibaratkan aku dengan seekor anjing? Lancang!!" Indrana semakin mengamuk kepada Adrian dan memukuli Adrian dengan membabi buta.


Irdina benar-benar ketakutan melihat kakaknya yang saat ini sudah hampir kehilangan akal.


" Ada keributan apa ini?" Paman Indrana langsung to the point bertanya kepada keponakannya yang sedang mengamuk kepada Adrian.


" Paman?" tanya Irdina yang sudah gemetar ketakutan melihat kakaknya yang sudah tidak bisa dikontrol lagi.


Adrian yang sejak tadi terus berusaha untuk menghindar dari pukulan Indana. Adrian langsung menarik tangan Andini dan berusaha melindunginya dari serangan Indrana yang membabi buta.


" Indrana hentikan semua kegilaanmu ini! Kenapa kau menyerang pelanggan VVIP ku? Apa kau sedang berusaha untuk menghancurkan bisnisku?" tanya sang Paman dengan suara menggelegar yang menghentikan aksi gila yang dilakukan Indrana kepada Adrian dan Andini.

__ADS_1


Andini berusaha sekuat tenaga untuk dapat melindungi perutnya yang sejak tadi terus diserang oleh Indrana yang menggila.


Indrana benar-benar merasa cemburu melihat Adrian yang begitu memperdulikan Andini yang saat ini sedang hamil. Indana berniat untuk membuat Andini keguguran. Oleh karena itu dia sejak tadi terus menyerang perut Andini. akan tetapi Adrian terus berusaha melindungi istrinya dari serangan Indrana yang sudah seperti orang gila.


" Amankan keponakan gilamu itu atau aku akan melaporkan semua ini ke kantor polisi, kalau sampai terjadi apa-apa dengan istri dan juga calon anakku! Karena dia sudah berusaha untuk membunuh calon pewaris Prayoga group!" Adrian benar-benar mengamuk dan tidak mau lagi memberikan toleransi kepada Indrana yang sejak tadi terus saja menguji kesabarannya.


" Denger Indrana! Aku bersamamu sudah sangat lama sekali berakhir. Sangat tidak pantas kau disini mengamuk dan mengarang cerita yang tidak benar antara kita berdua hanya untuk memisahkanku dengan istriku!! Aku sangat jelas tidak pernah menyentuh kamu, walaupun berkali-kali kamu ingin bersedekah padaku. Tapi berkali-kali pula aku selalu menolak semua yang kau tawarkan padaku. Itu pulalah yang membuatku dulu meninggalkanmu. Karena kamu terlalu murah dan tidak mampu menjaga kehormatanmu sendiri sebagai seorang wanita dihadapan seorang lelaki! Jangan coba-coba kau masuk ke dalam hidupku lagi atau aku akan melaporkanmu ke kantor polisi dengan perbuatan yang tidak menyenangkan dan juga fitnah yang sudah kau sebarkan!" Ancaman Adrian tidak main-main karena dia benar-benar serius dengan apa yang dia katakan tadi.


Mendengar semua yang dikatakan oleh Adrian Andini percaya dan bisa merasakan ketulusan di dalamnya.


" Sayang, ayo kita pulang. Tolong bawa aku ke rumah sakit rasanya perutku kram dari tadi." ucapan Deni sambil terus memegangi perutnya.


Adrian yang merasa khawatir dengan keadaan Andini langsung menggendong istrinya dan membawa masuk ke dalam mobil.


Irdina berusaha membangunkan Indrana yang sedang menangis di lantai meratapi nasibnya yang tidak dicintai lagi oleh Adrian.


Bahkan semua kata-kata pedas yang dikatakan oleh Adrian benar-benar sukses menyakiti hatinya.


" Maafkan semuanya atas ketidaknyamannya. Mohon maaf sekali lagi!" setelah mengatakan itu pada semua pelanggannya, paman Indrana langsung menarik keponakannya untuk masuk ke dalam kantor miliknya.


Irdina dengan langkah lemas mengikuti sang paman yang saat ini sedang marah kepada kakaknya yang sudah sangat keterlaluan.


Di dalam ruangan pamannya, terlihat Indrana yang masih menangis tersedu.


" Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan ini? Apakah puas sudah mempermalukan dirimu sendiri?" Tanya sang paman yang benar-benar murka dengan kelakuan keponakannya yang sangat memalukan itu.

__ADS_1


" Irdina! Segera kau bawa kakakmu pulang. Suruh dia pulang ke Bandung karena Paman tidak mau melihatnya lagi ada di sini! Untuk masalah Tuan Adrian, kalian tenang saja! Nanti paman yang akan minta maaf langsung ke rumahnya dan meminta kepadanya untuk tidak melaporkan kakakmu ke kantor polisi!" Indrana masih menangis sesegukan di dalam pelukan adiknya.


" Maafkan kakakku Paman. Dia masih sedih dan tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Adrian yang sudah meninggalkannya begitu saja dan menikahi perempuan tadi." Indrana semakin sedih mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya.


Sang Paman terlihat menghela nafas begitu berat dengan masalah keponakannya yang begitu pelik. Kakaknya sudah menitipkan kedua keponakan itu kepadanya selama berada di Jakarta. Jadi apapun yang dilakukan oleh mereka menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang paman.


" Kenapa kamu seperti wanita yang sangat bodoh Indrana? berapa banyakkah laki-laki di atas dunia ini sehingga kau harus mempermalukan dirimu dan juga keluarga besar kita dengan semua omong kosongmu tadi? Huh?? Kau benar-benar sudah tidak bisa ditolong sama sekali!" sang Paman begitu murka kepada keponakannya yang benar-benar sudah membuat dia merasa malu sekali kepada semua orang yang malam ini melihat kejadian itu.


" Sekarang Paman sudah benar-benar malu dan tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyelesaikan masalah besar yang sudah kau timbulkan di restoran paman. Indrana! Sebaiknya kau kembalilah ke Bandung bersama dengan adikmu. Paman sudah tidak sanggup lagi untuk menampung mu di sini!" Indrana dan Irdina terkejut bukan kepalang mendengar keputusan sang paman.


" Paman?? Apa kau benar-benar tega mengusir kami dari Jakarta? Jelas di sini Adrian yang bersalah dan berdosa kepadaku!" Indrana seperti yang tidak terima dengan apa yang dilakukan pamannya kepada dirinya.


Paman sampai menggebrak meja mendengarkan apa yang dikatakan keponakannya yang benar-benar tidak masuk akal baginya.


" Jangan dikira pamanmu ini bodoh! Paman sudah mengenalmu sejak lama dan Paman tahu siapa kamu yang sesunguhnya. Indrana!! Tuan Adrian itu bukanlah orang yang bisa kau ajak bermain-main seperti itu. Prayoga Group adalah perusahaan yang besar yang memiliki banyak sekali cabang dimana-mana. Kau bermain api dengannya sama saja sudah bisan hidup! Apa kau faham?" tanya sang paman yang sedang berusaha untuk membujuk keponakannya untuk segera meninggalkan kota Jakarta sebelum semuanya terlambat.


" Sekarang kita semua hanya bisa berdoa supaya calon anak dari tuan Adrian tidak kenapa-napa. Kalau tidak, nasibmu di masa depan, sungguh tidak bisa Paman prediksikan lagi. Paman pastikan tidak akan bisa menolongmu kalau sampai Tuan Adrian benar-benar melaporkanmu ke kantor polisi!" Irdina sampai kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar semua yang dikatakan pamannya tentang masa depan kakaknya yang berada di ujung tanduk.


" Baiklah Paman kami permisi dulu aku akan membujuk kakakku untuk segera kembali ke Bandung. Paman tenang saja!" ucap Irdina kepada pamannya.


Irdina kemudian mengajak Indrana yang sampai saat ini masih menangis di dalam pelukannya karena sakit hati yang tak terkira diperlakukan begitu buruk oleh Adrian yang bahkan begitu tega telah mengancamnya akan melaporkan ke kantor polisi.


" Kak Ayo kita pulang ke Bandung saja. Ayolah kak! Aku mohon padamu. Kau turutilah apa nasehat paman kita. Semua itu adalah demi kebaikanmu!" Irdina yang masih bisa berpikir logis, terus berusaha membujuk kakaknya untuk menyerah dan tidak lagi membuat masalah di Jakarta dengan Adrian dan istrinya yang saat ini sedang hamil.


Indrana menatap adiknya dengan sendu dan penuh kesedihan. Saat ini hanya adiknya yang mengerti bagaimana perasaannya. Karena mereka memiliki nasib yang sama disakiti oleh lelaki dari keluarga Prayoga Group.

__ADS_1


__ADS_2