Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
233. Nasib Irdina


__ADS_3

" Paman, di mana sekarang Irdina? Bagaimana caranya Paman bisa mendapatkan ponsel dia?" tanya Siska kepada Adrian setelah pamannya itu bisa tenang kembali.


" Wanita licik itu aku kurung di gudang kita yang ada di pinggiran kota." Siska terlihat mengangguk.


" Dengan siapa Irdina di sana?" Tanya Steven yang merasa khawatir.


Rosa bisa menatap kekhawatiran di wajah suaminya terhadap wanita bernama Irdina yang berniat ingin membunuhnya.


" Apakah mengkhawatirkan wanita keji itu!" tanya Rosa yang merasa marah dan sakit hati ketika memikirkan bahwa suaminya masih mencintai Irdina yang sekarang berniat ingin mencelakai dia dan anak yang ada di dalam kandungannya.


Steven langsung mendekati Rossa dan berusaha menjelaskan bahwa apa yang saat ini ada di kepalanya bukanlah sesuatu yang ada di pikiran Rosa sekarang.


" Sayang! Dengarkan aku! Tolonglah sayang! Kau jangan salah paham terhadapku dulu. Aku tidak ada pemikiran seperti itu. Aku khawatir kalau Irdina terbebas dari tangan kita, lalu dia benar-benar melakukan niatnya untuk membunuh kamu. Aku benar-benar tidak mau hal itu terjadi. Aku mohon kamu jangan berpikir yang tidak-tidak tentang aku!" Steven berusaha untuk meyakinkan Rossa bahwa hatinya tidak memiliki pemikiran tentang Irdina sama sekali.


Siska menggenggam telapak tangan Rosa.


" Bibi, Percayalah kepada Paman Stevan. Dia sangat mencintaimu Oleh karena itu dia merasa khawatir kalau sampai Irdina keluar dari kurungan kita. Aku akan mengirimkan anak buahku juga untuk mengawasi wanita itu dan segera menangkap Indrana yang sekarang alamatnya sudah kita ketahui!" Siska kemudian berbicara kepada suaminya untuk mengirimkan anak buah keluarga Handoyo untuk menangkap Indrana di Surabaya.


" Tenanglah Sayang. Aku yang akan pergi untuk menangkapnya sendiri dan memastikan wanita itu mendapatkan ganjarannya. Kamu di sini saja dan menjaga Paman Adrian dan juga Aaron. Kita akan berbagai tugas untuk ini!" akan tetapi Adrian menolak pengaturan yang dibuat oleh Farel.


" Tidak! Aku akan ikut denganmu dan menangkap penjahat itu. Akan kupastikan bahwa aku sendiri yang akan menyerahkan dia ke kantor polisi. aku akan memberikan keadilan kepada istri dan juga calon anakku dengan menghukum seberat-beratnya wanita jahat itu!" Adrian terlihat begitu marah.


Farel saling menatap satu sama lain dengan semua orang yang ada di ruangan itu.


" Tenanglah Kami akan membantu untuk menangkap pembunuh yang sekarang sedang berusaha untuk menyakiti istri Paman Steven!" Andi langsung mengajukan dirinya untuk membantu mereka.


" Aku juga tidak akan mau untuk berdiam diri saja. Aku juga harus menangkap pembunuh yang sudah menghilangkan nyawa Kakak dan juga keponakanku. Tolong! Jangan larang kami berdua untuk membantu kalian semua menangkap penjahat itu!" Anto tidak kalah bersemangat seperti Andi yang ingin membantu mereka semua.


Steven dan Adrian menatap kagum kepada Andi dan Anto yang memiliki semangat juang yang sangat luar biasa walaupun mereka masih terbilang muda dalam usia.


" Tenanglah kami akan menjaga Andi dan Anto dengan baik. Kalian bisa pergi ke Surabaya dengan tenang!" setelah mendapatkan keputusan Mereka pun kemudian membubarkan diri karena kebetulan adzan subuh pun sudah mulsi berbunyi.

__ADS_1


Masing-masing dari mereka kemudian melaksanakan salat Subuh bersama dan kembali ke kamar mereka untuk tidur. Karena tidak terasa Mereka pun merasakan kantuk kembali.


Mereka sepakat akan segera beraksi setelah shalat dhuhur. Karena untuk saat ini mereka butuh memulihkan diri dan beristirahat secukupnya.


***


Indrana saat ini sedang memegang ponselnya. Dia tampak sangat kebingungan karena dia bisa merasakan bahwa orang yang sedang berbicara dengannya tidak seperti adiknya.


" Kenapa gaya bahasanya bukan seperti Irdina? Apakah ada orang lain yang sudah mencuri ponselnya? Tapi untuk apa dia berpura-pura menjadi Irdina? Kenapa setiap kali aku menelponnya tidak pernah diangkat? Ini benar-benar sangat aneh sekali." sepanjang malam Indrana terus mondar-mandir di dalam kamarnya sendiri.


" Tampaknya aku harus mengingatkan kepada David untuk pindah. Kenapa aku merasa bahwa dia adalah orang lain ya?" Indrana kemudian menghubungi David untuk segera keluar dari kontrakannya saat ini dan segera pergi ke luar kota.


David yang saat ini masih tidur dalam keadaan mabuk tidak menerima pesan yang diberikan oleh Indrana.


Indrana sendiri ingin segera melarikan diri dari kontrakan yang sekarang dia tempati karena dia merasa tidak aman setelah berbicara dengan Siska yang berpura-pura menjadi adiknya.


" Tapi malam-malam begini, pasti tidak ada taksi yang beroperasi. Aku harus menunggu besok pagi untuk meninggalkan kontrakan ini. Sebaiknya sekarang aku tidur saja!" Indranapun kemudian membereskan semua barang-barangnya karena besok pagi dia harus segera meninggalkan tempat itu menuju tempat yang baru yang tidak akan diketahui oleh siapapun.


Sampai subuh Indrana tidak bisa memejamkan matanya dan terlelap. Karena dia seperti merasa dikejar-kejar oleh Andini yang merasa penasaran karena mati dibunuh olehnya.


Indrana bangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran di dahi dan sekujur tubuhnya.


" Jangan salahkan aku karena sudah membuatmu mati bersama dengan calon anakmu. Suruh siapa kau merebut Kekasihku yang aku cintai? Kalau kau mau marah, marah kepada Adrian yang sudah menjadikanmu sebagai istrinya. Demi kamu dia bahkan mengacuhkanku dan tidak mau kenal denganku lagi!" Indrana kemudian menangis sejadi jadinya di tengah malam.


Tetangga Indrana yang kebetulan masih bangun merasa heran mendengar suaranya yang menangis di tengah malam buta seperti itu.


Mereka memang bertetangga dan suara apapun pasti bisa terdengar di tengah malam seperti itu.


Amora yang sedang tidur, merasa terheran karena ada suara seorang wanita yang sedang menangis di tengah malam buta seperti itu.


" Ada apa dengan tetanggaku itu apakah dia mengalami kemalangan?" monolog Amora yang merasa heran luar biasa mendengar suara tangisan yang begitu memilukan hati.

__ADS_1


" Sebaiknya aku mencoba untuk datang ke rumahnya khawatir kalau ada apa-apa dengan dia." Amora pun kemudian turun dari ranjang dan membuka pintu rumahnya untuk mengetuk pintu milik Indrana yang sampai sekarang masih menangis terisak.


Tok Tok Tok


Mendengar suara pintu yang diketuk membuat Indana diam dan tidak berani untuk melakukan apapun. " Hallo, saya adalah tetangga di sebelah rumahmu. Apakah kau baik-baik saja? Bisa kau buka pintunya karena aku merasa khawatir dengan keadaanmu!" Amora berusaha untuk meminta kepada Indrana untuk membuka pintu rumahnya.


Mendengar suara tetangganya, Indrana pun merasa tenang. Setidaknya yang mengetuk pintu rumahnya bukanlah Polisi ataupun Adrian dan keluarganya.


Dengan gontai dan perasaan malas Indrana pun membuka pintu kamarnya dan membuka pintu rumah untuk membiarkan Amora masuk ke dalam.


" Maafkan aku kalau mengganggumu malam-malam begini. Tapi aku merasa khawatir mendengar tangisanmu yang begitu memilukan. Apakah kau baik-baik saja?" tanya Amora yang mengkhawatirkan indrana yang terlihat begitu berantakan dan Kusut sekali wajahnya.


Setelah mereka berdua duduk di dalam ruang tamu, Indrana kemudian meminta maaf kepada Amora yang sudah mengganggu waktu istirahatnya dengan suara tangisannya.


" Maafkan aku ya, karena aku sudah mengganggu waktu tidurmu. Tadi aku mimpi buruk dan sangat takut sekali karena itu aku menangis. Maaf sekali lagi!" Indrana terlihat merasa begitu bersalah karena sudah mengganggu waktu tidur orang lain di tengah malam buta malahan menangis pilu begitu.


Amora menghela nafas berat. Dia tahu bahwa wanita yang berada di hadapannya ini sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat berat darinya.


Apalagi Amora bisa menangkap dengan sudut matanya banyak koper-koper yang sudah siap untuk diangkut dari kontrakan itu.


" Apakah kamu mau pindah dari kontrakan ini?" tanya Amora kepada Indrana yang terkejut mendengar pertanyaannya.


Indrana pun menatap kepada Amora yang saat ini sedang melihat koper-koper miliknya.


" Aku ingin mencari Saudaraku di luar kota. Mungkin besok pagi aku akan segera meninggalkan kontrakan ini." Amora terkejut mendengarkannya.


Amora tahu kalau Indrana saat ini benar-benar sedang tidak jujur kepadanya.


" Apakah kamu sedang dikejar-kejar sesuatu yang membuatmu harus berpindah-pindah?" tanya Amora sambil menatap tajam kepada Indrana yang sontak melotot sempurna karena terkejut.


" Jangan sembarangan bicara! Karena aku tidak sedang di kejar-kejar siapapun!" terlihat Indrana yang begitu gugup dan tidak berani menatap Amora lagi.

__ADS_1


__ADS_2