Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
178. Usaha terus


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Steven hanya diam saja. Sejujurnya dia tidak mengerti kepada Andini yang menolak tawarannya unt adiknya tinggal di mansion keluarga Prayoga Group. Padahal jelas-jelas tawaran itu sangat baik untuk adik-adiknya dan mereka pun terlihat sangat senang dengan tawarannya.


" Andini boleh kau katakan padaku Kenapa kau menolak mentah-mentah. Apa yang aku tawarkan padamu?? aku rasa adikmu jauh lebih baik Kalau tinggal di Mansion milik keluargaku. Di sana mereka akan terjamin segalanya dan kau pun bisa bekerja dengan tenang!" Steven terlihat begitu penasaran.


" Bukankah sudah kukatakan Aku tidak mau merepotkan siapapun dan juga tidak ingin mempunyai hutang budi kepada siapapun! Kalau Pak Steven masih memaksa saya untuk menerima hal itu, sekarang juga saya akan menghubungi Bu Siska kalau saya akan mendur dari pekerjaan!" Andini terlihat benar-benar murkah kepada Steven yang sudah menjatuhkan harga dirinya.


" Aku mungkin kalian pandang sebagai orang miskin yang tidak punya apa-apa. Tapi aku memiliki harga diri yang tidak bisa kalian beli dengan uang!" Andini terlihat melotot kepada Steven yang hanya bisa menggelengkan kepalanya sekarang.


" Kamu benar-benar salah paham Andini! Ya ampun!! Bukan seperti itu maksudku!" Steven benar-benar frustasi dengan pola pikir yang ada pada Andini.


Andini hanya menolehkan tatapannya ke luar jendela. Hati Andini dan Stevan benar-benar sedang kacau saat ini.


" Turunkan Saya di sini pak!" Steven benar-benar terkejut mendengarkan Andini yang malah meminta turun di tengah jalan. Apalagi sekarang sudah malam dan jalanan begitu sepi. Tidak mungkin seorang gadis berjalan sendirian dalam gelap begitu.


Steven bukannya menghentikan laju kendaraannya. Tetapi malah mempercepat sehingga membuat Andini benar-benar kesal kepadanya.


" Saya akan meloncat Pak kalau Bapak tidak mau berhenti juga!" ancam Andini yang merasa kesal luar biasa kepada Steven yang tidak mau menghentikan mobil itu.


" Coba saja kau meloncat kalau kamu memang berani. Aku ingin melihat seberapa besar keberanianmu untuk membuktikan apa yang kau katakan!" Steven terlihat menantang Andini yang benar-benar merasa kesal sekali dan tidak dihargai oleh Steven.


Terlihat Andini yang berusaha untuk membuka pintu mobil. Tetapi Steven sudah mengunci semua pintu dan jendelanya dengan otomatis. Aehingga Andini tidak bisa kemana-mana selain duduk anteng di samping Steven.


" Aku akan langsung meminta surat pengunduran diri kepada Nyonya Siska!" Andini akhirnya hanya diam setelah melihat Stevan yang terlihat biasa saja dengan ancamannya.


" Silakan lakukan Apapun yang kau inginkan. Aku tidak peduli sama sekali. Aku yakin kau adalah seorang profesional yang mempunyai tanggung jawab dengan pekerjaan yang sudah kamu terima. Aku yakin kau pun memiliki rasa penasaran bahwa tanggung jawab untuk melihat kakakku benar-benar pulih seperti dulu!" Steven benar-benar Mengerti bagaimana untuk menghadapi seseorang yang menjadi lawan bicaranya.

__ADS_1


Harga diri seorang Andini hanya bisa dibalas dengan kebanggaan yang atas pekerjaannya.


" Kau sudah menunjukkan keahlianmu untuk mengurus Kakak. Sejauh ini kau sudah menunjukkan kehebatanmu sebagai seorang suster yang profesional Apakah kau tidak menyesal? Kalau tiba-tiba saja terjadi apa-apa dengan kakakku setelah digantikan tugasmu oleh orang lain?" Andini benar-benar telah di skakmat oleh Steven sehingga dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.


Steven merasa senang karena akhirnya dia bisa menaklukkan Andini yang keras kepala.


" Baiklah aku akan tetap bekerja untuk kakakmu tetapi dengan satu syarat!" akhirnya Andini hanya bisa mengalah pada Steven.


Karena bagaimanapun Dia mempunyai kode etik profesi sebagai seorang suster yang telah ditunjuk untuk menjadi suster pribadi seorang Adrian Prayoga.


" Aku akan melaksanakan tugasku sampai tuntas setidaknya sampai pak Adrian sudah dinyatakan stabil dan bisa hidup mandiri. Tapi aku minta kepada anda untuk tidak usah ikut campur dengan urusan pribadiku yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan!" Steven sudah mengetahui kalau itulah yang akan diminta oleh Andini.


" Baiklah permintaanmu akan aku terima. Aku tidak peduli dengan hidupmu dan adikmu. Bagiku yang penting kau urus saja kakakku dengan baik! Aku ingin kakakku segera sembuh. Prayoga group membutuhkan kakakku karena dialah yang selama ini selalu menjadi inti dari perusahaan kami!" Steven airnya memilih untuk mengalah kepada Andini daripada wanita itu mogok kerja dan memilih untuk pergi.


" Tuan Adrian keadaannya sudah semakin membaik. Anda bisa memilih suster siapapun juga. Saya yakin di luar sana masih banyak suster yang jauh lebih profesional daripada saya jadi anda tidak usah terlalu mengikatkan diri dengan saya!" Andini sudah merasa jengkel kepada Steven yang dari kemarin selalu mencampuri urusannya.


Begitu sampai di rumah sakit terasa begitu canggung antara Steven dan Andini dan hal itu bisa dirasakan oleh Siska dan Farel.


" Paman apakah ada masalah dengan kalian?" bisik Siska di telinga Steven yang hanya bisa mengedikkan bahunya.


" Ah sudahlah Pusing kepalaku kalau sudah membahas tentang gadis itu! aku hanya menawarinya untuk tinggal di mension milik kita. Akan tetapi dia malah mengatakan kalau aku menghinanya penyakit miskin itu sudah tidak bisa ditolong lagi." Steven terlihat begitu frustasi ketika berhadapan dengan Andini yang hanya melotot kepadanya ketika mendengar dia berkata seperti itu kepada Siska.


Siska sebenarnya merasa tidak enak mendengarkan pamannya mengatakan hal yang begitu sensitif kepada orang lain.


" Paman setiap orang memiliki prinsipnya hidupnya masing-masing. Kenapa Paman harus memaksakan prinsip hidup paman kepada Andini?" ucap Farel sambil menatap kepada Andini dan juga Stefan yang terlihat seperti sedang perang dingin.

__ADS_1


" Ya sudahlah Anggaplah Aku sedang sial karena mau menolong orang yang tidak tahu diri seperti dia!" Steven akhirnya memilih untuk meninggalkan rumah sakit. Karena merasa jengkel melihat semua yang ada di sana malah mengadilinya. Padahal maksudnya baik karena ingin menolong adik kakak itu yang hidup harus jauh dari kakaknya.


" Sudahlah pusing sekali memikirkan orang lain!" Seven pun kemudian memilih untuk pergi ke klub malam menghibur dirinya yang sedang jengkel.


" Wah tidak kusangka seorang Steven Prayoga nempel juga di tempat ini!" ucap salah satu rekan bisnis Steven yang selama ini selalu menjadi saingan bisnisnya.


" Minggir tidak usah rusuh dengan urusanku! Kau urus aja urusanmu sendiri!" Stevan memilih melewati mereka semua dan masuk ke dalam ruang VVIP untuk menenangkan dirinya sendiri.


Seven tidak memperdulikan sama sekali apapun yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang mencemooh dan mengejeknya.


" Aku tidak peduli dengan omongan kalian!" teriak Steven dari dalam ruangan VVIP.


Steven terlihat begitu mabuk akan tetapi dia masih bisa mengendalikan dirinya sehingga tidak berbuat hal yang negatif.


Farel yang mendapatkan laporan dari rekan bisnisnya. Bahwa saat ini Stevan sedang berada di klub malam langsung Segera mendatangi Paman kecilnya.


" Paman Ayo kita pulang kau jangan membuat onar di sini!" Farel kemudian membimbing Steven untuk kembali pulang ke apartemen miliknya yang tidak terlalu jauh dari klub malam tersebut.


" Katakan padaku Farel!! Apakah aku salah?? Aku hanya menolongnya saja tapi kenapa dia harus bereaksi terlalu keras seperti itu?" tanya Steven diantara kekesalannya.


" Paman tidak salah. Hanya saja Andini yang tidak mengerti kebaikan hati paman. Suatu saat dia akan melihat bahwa Paman hanya memiliki ketulusan dan ingin menolong mereka!" Farel berusaha dengan keras untuk menghibur Steven yang saat ini sedang sedih hatinya.


" Sudahlah Paman! Kau duduklah yang baik biar aku bisa fokus untuk menyetir!" akhirnya Steven pun malah memilih untuk tidur karena kepalanya yang sudah pening dikarenakan terlalu banyak meminum alkohol.


Begitu sampai di apartemen Farel langsung membawa Steven menuju kamarnya dan membantu Steven untuk membuka sepatu dan juga jasnya. Setelah itu dia pun kembali ke rumah sakit untuk menemui Siska yang saat ini sedang menjaga Adrian bersama Andini.

__ADS_1


__ADS_2