Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
186. Panik


__ADS_3

Steven seketika pingsan setelah melihat darah yang begitu banyak mengecor dari kepalanya.


Rosa Mandalika seketika panik melihat Steven yang tiba-tiba pingsan di pangkuannya.


" Ya ampun! Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus membawa dia ke rumah sakit?? Tapi, aku tidak tahu sama sekali. Kami sekarang berada di mana." Rosa Mandalika terlihat begitu panik dan tidak mengerti harus melakukan apa untuk menangani yang saat ini sedang pingsan di pelukannya.


" Sial benar sih!! Aih, semua ini gara-gara kebodohanmu! Apaan sih?? Pakai acara meloncat ke arahnya segala. Dia jadi jatuh kan? Sekarang apa yang harus aku lakukan coba?" tanya Rosa Mandalika yang begitu panik dan bingung.


" Ah, sudahlah! aku harus mengajak dia pergi ke rumah sakit!! Aku tidak peduli apapun yang terjadi!" Rosa Mandalika kemudian berusaha untuk mengangkat tubuh Steven yang Ternyata begitu berat ke kursi di belakang dan membaringkan tubuhnya dengan secara perlahan.


Setelah usaha yang begitu keras Rosa pun kemudian melajukan kendaraan milik Steven ke arah kota.


Rosa Mandalika terus berdoa di dalam hati agar Steven baik-baik saja.


" Aku mohon!! kamu harus bertahan dan tidak boleh mati! Kamu ingat itu!!" Rosa Mandalika terus saja melirik ke arah spion dan memantau keadaan Steven di belakang sana.


Rosa Mandalika mengendarai mobilnya secara perlahan karena dia tidak mau kalau sampai Steven kenapa-napa atau sampai terjatuh dari jok.


Walaupun seatbelt sudah dipasangkan ke tubuhnya tetapi tetap saja dia merasa khawatir pada Steven.


" Aku pasti akan menolongmu. Tenanglah!" Rosa Mandalika sudah berkeringat dengan sejak tadi.


Sungguh! Ini adalah pertama kalinya dia mengalami nasib seperti ini seumur hidupnya. Rosa Mandalika jantungnya saat ini benar-benar berdegup sangat kencang.


" Aku harus tenang. kalau tidak pihak rumah sakit pasti mengira kalau aku yang sudah membuat dia seperti ini. Aih, Rosa!! Kenapa kebodohanmu sejak dulu tidak pernah berubah?" monolog Rosa kesal luar biasa dengan dirinya sendiri.


Setelah bertanya ke sana kemari. Akhirnya Rosa bisa menemukan juga sebuah rumah sakit kecil yang ada di kota itu.


" Akhirnya!!" Rossa merasa sangat senang sekali melihat rumah sakit itu rasanya seperti melihat sebuah istana yang sangat indah.


Rosa segera turun dan meminta kepada tim paramedis untuk menolongnya membawa Steven masuk ke dalam rumah sakit.


" Kenapa dia Mbak kenapa darahnya begitu banyak sekali?" tanya suster yang sudah merasa khawatir melihat keadaan Steven yang tidak sadarkan diri dan darah segar terus mengalir di kepalanya.


" Dia jatuh dan tanpa sengaja kepalanya menimpa batu runcing. lihatlah!! Ini fotonya!" Rosa kemudian menunjukkan foto di mana sebuah batu runcing yang tertancap di tanah telah berlumuran darah.


" Aih, ini sangat berbahaya Semoga saja tidak mengenai otak belakang." Suster itu cukup ngeri ketika melihat besarnya batu itu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh suster Rosa seketika lemas tubuhnya.


' Ya Tuhan! Kalau sampai Steven kenapa-napa itu pasti adalah kesalahanku!' bathin Rosa Mandalika dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


" Tolong tunggu di luar ya dan sebaiknya Mba segera urus administrasinya!" Rossa pun kemudian pergi ke arah mobil Milik Steven dan mencari kartu identitas milik pemuda itu.


Begitu menemukannya Rossa langsung pergi menuju bagian administrasi dan segera menyelesaikan semuanya.

__ADS_1


" Alhamdulillah. Sekarang tinggal menunggu Bagaimana hasil dari pemeriksaan dokter.


Rosa kemudian duduk di depan pintu ruangan ICU yang tadi suster masuk ke sana dan membawa pergi Steven ke dalamnya.


Tidak ada hentinya Rossa terus berdoa. Saat ponsel Milik Steven yang ada di dalam tasnya berbunyi. Rosa kemudian mengangkatnya.


" Ya?"


" Paman, paman di mana? Kenapa sudah malam begini. Paman belum pulang juga?" tanya Siska di seberang sana yang mengkhawatirkan kondisi Steven.


Bagaimana Siska tidak khawatir? Sejak tadi siang pamannya pergi ijinnya mau makan siang tapi tidak kunjung kembali. Mereka kehilangan kontak dengan Steven sejak tadi siang. Di hubungi sejak tadi tidak ada juga di angkat oleh Steven.


" Paman ada di mana?" Tanya Siska benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Steven.


" Maaf saya adalah Rosa Mandalika saat ini Steven sedang berada di rumah sakit. baru saja dia masuk ke ruangan ICU dan sekarang sedang dalam tahap penanganan dokter!" Siska benar-benar terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rossa.


" Bagaimana caranya Pamanku bisa bersama denganmu?" tanya Siska tidak ramah sama sekali.


" Dia yang membawaku pergi bersamanya ke luar kota. Tapi tiba-tiba saja ada kecelakaan kecil di pantai yang mengakibatkan pamanmu kepalanya terbentur batu dan tidak beruntung untuk dirinya, karen batu itu ternyata runcing dan menembus kepala pamanmu. Dia mengalami pendarahan di kepala!" Rossa berusaha untuk menjelaskan segalanya kepada Siska yang langsung histeris ketika mendengarnya.


Siska benar-benar tidak mengerti. Kenapa cobaan keluarganya tidak pernah ada akhirnya? Baru saja Adrian mengalami kesembuhan yang cukup menggembirakan. Sekarang tiba-tiba saja dia mendengar berita tentang Steven yang juga mengalami kecelakaan.


Siska sampai Limbung di tempat.


" Ada apa?" Farel terlihat begitu khawatir dengan kondisi istrinya.


" Ada apa sayang?? Kenapa kau malah menangis seperti ini?" Farel benar-benar khawatir melihat kondisi istrinya.


Siska yang sampai saat ini masih Terpukul masih belum bisa memberikan keterangan apapun kepada Farel.


" Ada apa sayang?? Kau jangan membuatku khawatir begini!" Farel benar-benar tidak sanggup kalau harus melihat Siska yang menangis tidak jelas seperti itu.


Setelah tangisan Siska mulai reda dan hatinya mulai tenang Siska pun kemudian menceritakan semua yang dikatakan oleh Rossa ditelepon tadi.


" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Paman Steven bisa segera di tolong oleh tim medis. Apakah kita akan menyusul Paman Steven ke sana?" tanya Farel sambil menatap istrinya yang saat ini sedang menangis sedih.


Farel menunggu jawaban istrinya yang sampai saat ini masih terdiam.


" Entahlah aku merasa bahwa mungkin saja, Paman Steven saat ini masih berada di ruang ICU. Kita ke sana sekarang?? Tapi rumah sakit itu jauh, sayang. Dan waktu sekarang sudah sangat malam. Besok aku akan meminta kepada Rossa untuk membawa Paman Steven ke Jakarta jadi kita tidak usah bolak-balik." Farel merasa senang karena istrinya bisa berpikir jernih dan tidak membabi buta saat mendengar berita kecelakaan itu terjadi pada Steven.


" Baiklah sekarang kau beristirahatlah. Agar besok kita bisa berangkat ke sana. Aku rasa kalau kita ke sana sendiri jauh lebih baik. Kita akan mengurus semua kepindahannya. Kita tidak mungkin mengandalkan Rosa untuk melakukan tugas itu." Farel memberikan alasannya kepada istrinya.


" Baiklah besok kita pagi-pagi akan ke sana!" Siska kemudian meringkuk di dalam pelukan suaminya yang selalu menjadi tempat terbaik untuk dirinya mengadukan segala sesuatu.


" Kenapa keluarga kita rasanya tidak pernah diberi ketenangan?? Baru saja Paman Adrian sembuh sekarang Paman Steven yang mengalami kemalangan seperti ini. Hiks hiks! Apa yang harus kulakukan kalau terjadi apa-apa dengan paman Steven?" Siska tampak begitu sedih Mendengarkan berita itu.

__ADS_1


Farel memeluk istrinya dengan erat dan memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh Siska saat ini.


" Istirahatlah, Sayang! Aku mohon padamu. Supaya besok kita bisa mengunjungi paman Steven dan mengurus semuanya atau biarkan aku saja yang ke sana aku benar-benar mengkhawatirkan kondisi kehamilanmu." Farel memberikan option kepada Siska.


Akan tetapi Siska menolaknya Karena bagaimanapun sistem mengingat kalau Rossa sama ini selalu mengganggu dan juga menggoda suaminya.


" Tidak aku akan ikut denganmu. Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada Rossa untuk mengganggumu ataupun mendekatimu!" Hati Farel menghangat mendengarkan istrinya mengatakan hal tersebut.


Farel tahu kalau Siska sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya dan dia merasa bahagia sekali.


" Ya sudah Sayang sebaiknya sekarang kita istirahat ya?" mereka berdua pun kemudian bersepakat untuk tidur.


***


Adrian yang saat ini sedang bersama dengan Andini di kediaman Prayoga Group. Sejak tadi dia sudah mulai gelisah karena Steven tidak juga kembali sejak tadi siang.


" Apa kau sudah menghubungi adikku? Kenapa sudah malam begini dia belum juga pulang?? Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisi Stevan." ucap Adrian bertanya kepada Andini yang saat ini sedang memegang ponsel milik Adrian karena sedang berusaha untuk menghubungi Steven yang sejak tadi tidak juga mau mengangkat panggilannya.


" Entahlah aku juga tidak mengerti kenapa Tuan Steven tidak juga mau mengangkat panggilan ini. Apakah dia kehabisan daya ataukah Dia sedang sibuk?" Andini menggantikan bahunya karena dia benar-benar tidak paham tentang hal itu.


Adrian terus meminta kepada Andini agar berusaha terus menghubungi adiknya.


" Tolong Andini sebelum mendapatkan kabar tentang adikku teruslah berusaha untuk menghubunginya. Aku merasa sangat khawatir dengan Steven. Aku merasa akhir-akhir ini dia sangat aneh dan juga seperti menghindariku. Apakah aku telah membuat kesalahan terhadapnya?" Adrian kepada Andini yang hanya mengedikkan bahu, tanda tidak mengerti.


" Tuan apakah kita menghubungi Nyonya Siska saja? Barangkali saja dia tahu tentang kabar Tuan Steven." saran Andini kepada Adrian.


Adrian langsung menganggukan kepalanya dan menyuruh Andini untuk menghubungi Siska.


Dalam deringan kedua Farel langsung mengangkat panggilan telepon tersebut karena saat ini Siska sedang tidur.


" Ya?? Ada apa Andini malam-malam begini kamu nelpon?" tanya Farel.


" Maaf tuan. Apakah anda tahu saat ini Tuan Steven di mana?? Tuan Adrian sejak tadi sangat khawatir dan tidak bisa tidur karena sampai sekarang Tuan Stevan belum juga pulang!" Andini langsung to the point mengatakan semua yang harus dia katakan.


Farel pun kemudian menjelaskan semuanya tentang keadaan terbaru Stefan yang dikatakan oleh Siska kepadanya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Rossa kepada Siska.


Adrian benar-benar syok dengarkan keterangan dari Farah Bahwa saat ini adiknya sedang berada di rumah sakit.


" Farel Kapan kita akan menemui Steven? Aku ingin ikut aku tidak pernah melepaskan dia begitu saja!" Adrian langsung merebut telepon yang tadi dipegang oleh Andini setelah mendengarkan semua yang dikatakan oleh Farel melalui loudspeaker.


" Rencananya besok kami akan ke sana untuk mengurus kepindahan Paman Steven ke Jakarta. Apakah Paman benar-benar akan ikut? tapi aku khawatir kalau kondisi Paman belum mengizinkan untuk kita melakukan itu." Adrian sedikit kecewa mendengar apa yang dikatakan oleh Farel.


" Aku baik-baik saja dan aku pasti bisa menangani semua ini. Jemputlah kami berdua ketika kau akan berangkat kesana. Farel aku serius aku benar-benar ingin bertemu dengan Steven. aku tahu kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh adikku yang membuat dia selalu menghindari ke akhir-akhir ini!" dia mengungkapkan perasaan yang saat ini sedang berkecamuk di hatinya kepada Farel.


" Baiklah paman. Paman tunggulah kami. Besok pagi kami akan menjemput paman di mansion. Kalian bersiap-siaplah!" Farel kemudian menutup panggilan telepon tersebut setelah selesai berbicara dengan Adrian yang kemudian menangis tersedu mendengarkan kabar tentang adiknya yang saat ini berada di rumah sakit.

__ADS_1


" Tenanglah Tuan anda tidak boleh seperti ini!" Andini memeluk Adrian yang saat ini sedang menangis pilu setelah mengetahui kondisi adiknya yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit.


__ADS_2