
Setelah Farel berada di rumah sakit. Siska kemudian menemui dokter Andrew yang menjadi dokter yang bertanggung jawab untuk merawatnya.
" Kau baik-baik saja kan?" tanya Siska ketika dia melihat Farel yang mulai siuman dari pingsannya.
Farel tersenyum melihat istrinya yang mengkhawatirkan keadaannya.
Hatinya sangat senang karena mengetahui Siska peduli kepadanya.
" Aku baik-baik saja. Aku hanya takut dengan darah. Oleh karena itu aku pingsan aku tidak apa-apa kok." ucap Farel sambil tersenyum.
Siska merasa senang kalau ternyata Farel baik-baik saja. Dia sudah panik sekali ketika dia melihat Farel yang tiba-tiba pingsan begitu saja. Aetelah jatuh kepleset di kamar mandi tadi malam.
" Sejak kecil aku memang phobia dengan darah. Setiap melihat darah aku pasti akan pingsan!" ucap Farel sambil menundukkan kepalanya.
Bagaimanapun dia merasa malu. Karena kelemahannya sekarang telah diketahui oleh Siska. Sesuatu yang selama ini berusaha dia sembunyikan dari siapapun.
" Baguslah kalau kau baik-baik saja. Aku sangat khawatir sekali kalau ada apa-apa denganmu!" ucap Siska sambil menggengam tangan suaminya.
Saat mereka sedang serius membicarakan tentang masa depan mereka, tiba-tiba saja Amora masuk ke dalam kamar perawatan Farel. Dan langsung memeluk Farel dengan wajah khawatir nya.
" Kamu baik-baik saja kan Farel? Aku benar- benar sangat khawatir denganmu!" ucap Amora sambil menenggelamkan wajahnya di pelukan Farel.
Siska yang melihat Amora tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan. Seketika wajahnya menjadi kecut melihat suaminya diperlakukan begitu Intens oleh wanita lain yang notabene adalah mantan kekasih sang suami.
Farel langsung mendorong tubuh Amora untuk menjauh darinya. Karena dia tidak mau untuk menyakiti hati sang istri.
" Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang menyuruhmu untuk datang kemari?" tanya Farel merasa tidak nyaman dengan kehadiran Amora di dalam ruangan tempat dia dirawat.
__ADS_1
Amora kemudian melirik pada Siska yang sejak tadi hanya diam saja dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Siska menatap sang suami dengan tatapan intimidasinya.
Farel yang melihat tatapan horor sang istri. Dia pun menjadi salah tingkah sendiri. Karena bagaimanapun dia tidak mau kalau sang istri marah tepat di hari pertama, setelah hari pernikahan mereka.
Keluarga mereka semuanya sudah kembali ke Indonesia. Setelah resepsi pernikahan kemarin selesai. Jadi sekarang hanya tinggal Adrian dan Steven yang menetap di Amerika untuk memastikan semua kebutuhan Siska terpenuhi. Baru mereka bisa tenang untuk meninggalkan keponakan tersayang mereka bersama suaminya.
" Kamu kenapa sih Farel? Sekarang tampaknya kamu selalu saja memusuhiku. Emangnya apa salahku padamu?" tanya Amora kesal bukan main.
Siska yang merasa jengkel melihat Amora yang tampaknya masih begitu mencintai suaminya. Dia memilih untuk meninggalkan mereka berdua. Akan tetapi Farel langsung menarik tangannya dan meminta kepada Siska untuk menetap di sana bersamanya.
" Amora. Tolonglah kau keluar dari sini. Aku berada di rumah sakit bukan sedang rekreasi, tetapi aku butuh istirahat untuk memulihkan kesehatanku. Apa kau bisa pergi sekarang?" tanya Farel dengan tatapan tajam yang menusuk jantung Amora.
Seketika hati Amora merasa sangat sakit sekali. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari laki-laki yang pernah mencintainya dengan sangat dalam.
" Kamu jahat sekali Farel. Apakah kau tidak pernah mengingat lagi, saat-saat kita dahulu bersama? Kenapa sekarang kau begitu tega memperlakukanku seperti ini?" tanya Amora dengan air mata yang menetes di kelopak matanya. Perasaan sedihnya benar-benar tidak bisa dia bendung lagi.
" Hubungan di antara kita adalah masa lalu dan kau sangat tahu tentang hal itu. Salahmu sendiri Amora. Kenapa kau tidak juga mau mengikhlaskan hubungan kita yang sudah lama berakhir?" tanya Farel sambil menatap tajam Siska yang terus memperhatikan interaksinya dengan Amora.
Amora melihat kepada Siska yang terlihat begitu Acuh dan dingin ketika melihat dirinya.
" Dengarkan Aku! Aku suatu saat pasti akan kembali membuatmu jatuh cinta padaku kau Ingatlah itu Farel! Dan kau Siska, kalau sekali saja aku melihat kau menyakiti Farel lagi, akan kupastikan kau akan berhadapan denganku!" ancam Amora dengan mata berapi-api.
Farel hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, saat dia menatap kepergian Amora dari ruangannya.
" Wow hebat juga ya? Walaupun sudah berpisah sangat lama, tapi kau masih bisa dan sanggup membuat mantan kekasihmu menggila seperti itu." ucap Siska dengan tersenyum sinis kepada Farel.
Diakui atau tidak. Saat ini Siska merasa sangat cemburu. Ketika dia melihat ada wanita lain yang begitu mencintai suaminya. Karena dia pun tidak mengerti dengan perasaannya. Apakah cintanya lebih besar dari Amora ataukah tidak.
__ADS_1
" Ayolah sayang kau harus percaya bahwa aku tidak pernah mengundang Amora untuk datang kemari. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa datang dan mengetahui keberadaanku di sini. Ayolah sayang. Kau jangan begitu!" Ucap Farel berusaha untuk menggenggam telapak tangan Siska.
Walaupun istrinya tampak cuek dengan dirinya. Tapi dia tahu kalau saat ini Siska sedang marah padanya terlihat dari raut wajahnya yang memerah.
" Sudah kau Istirahatlah. Jangan berpikir terlalu banyak. Aku akan menemui dokter Andrew dulu untuk menanyakan tentang kondisimu sekarang!" ucap Siska pelan yang kemudian bangkit untuk meninggalkan Farel.
Farel terlihat tidak ingin ditinggalkan oleh istrinya. Karena bagaimanapun dia ingin bersama istrinya sekarang.
" Ayolah sayang. Kau temani aku saja di sini. Kalau masalah kondisiku, nanti juga pasti Dokter akan datang ke sini memberitahu kita!" Ucap Farel sambil menahan tangan Siska yang hendak meninggalkannya.
Siska menatap wajah Farel yang terlihat mulai segar dan wajahnya tidak sepucat tadi malam. Sekarang dia bisa bernafas lega. Dia bisa melihat bahwa Farel saat ini baik-baik saja. Farel merasa senang melihat Siska yang akhirnya memutuskan untuk menetap bersama dengannya.
Siska kemudian duduk di samping Farel dan melihat suaminya yang begitu bahagia melihat dirinya mengalah kepadanya.
" Kau ingin makan buah apel ataukah buah jeruk?" tanya Siska menanyakan pendapat suaminya ketika dia hendak memberikan buah-buahan yang tadi dia beli.
" Aku ingin memakan buahmu saja sayang!" ucap Farel dengan wajah mesum.
Siska auto memerah wajahnya mendengar bisikan sang suami yang selalu saja membuat dirinya tersipu malu.
Disaat mereka berdua sedang menikmati kebersamaan mereka, tiba-tiba ponsel Farel berdering.
" Angkatlah ponselmu dulu. Siapa tahu ada sesuatu yang penting!" ucap Siska mengingatkan kepada suaminya yang langsung cemberut.
Farel kemudian mengangkat telepon tersebut dengan perasaan malas-malasan dan juga tidak senang.
" Assalamualaikum!" Ucap Farel dengan tidak bersemangat saat dia memberikan salam kepada ibunya yang sedang mengganggu kesenangannya bersama dengan sang istri.
__ADS_1
" Farel pulanglah ke Indonesia sekarang Nak. Karena telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap ayahmu!" Farel merasa terkejut sekali mendengarkan ucapan dari ibunya yang menjelaskan tentang keadaan ayahnya saat ini yang sedang mengalami masa kritis di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan saat mereka kembali dari bandara setelah menghadiri pernikahannya bersama Siska.