Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
Bab 225. Pergi


__ADS_3

Amora segera membereskan semua barang-barangnya yang bisa dia bawa pergi bersamany dan segera meninggalkan Desa itu tanpa banyak berpikir lagi.


" Sialan!! Kenapa sih Andreas pakai acara menyewa detektif segala untuk mencariku? Merepotkan sekali! Padahal aku sudah merasa nyaman tinggal di sini. Sekarang ke mana lagi aku harus pergi untuk menghindari para detektife itu?" ucap Amora yang sekarang sudah melepaskan identitasnya sebagai Amira dan bersiap meninggalkan desa itu. Amora sudah memesan sebuah taksi dan bersiap meninggalkan desa secepat yang dia bisa.


Sebelum para detektif itu datang ke rumah yang dia sewa, Amora sudah meninggalkan Desa itu tanpa jejak.


" Syukurlah aku bisa pergi!" Amora menggunakan topi, masker dan pakaian tertutup. Jadi tidak akan ada yang mengenalinya selama kepergiannya kali ini.


' Ke mana Aku akan pergi sekarang? Aih, aku sudah memasukkan mobilku ke dalam jurang untuk menyamarkan diriku agar di kira mati. Aih, para detektif sialan itu malah bisa menemukanku di sini. Kurang ajar!' bathin Amora yang terus menggerutu di dalam hatinya karena merasa kesal.


Sejujurnya amarah benar-benar takut kalau sampai Abian menemukan keberadaannya. Farel juga menyimpan dendam yang besar kepada dirinya karena semua perbuatan buruk yang pernah dia lakukan di masa lalu.


" Aku tidak tahu harus ke mana lagi." Amora tampak begitu sedih memikirkan masa depannya sendiri yang sekarang seperti yang begitu suram.


Supir taksi yang merasa Iba melihat Amora yang sejak tadi terlihat begitu sedih dan lesu akhirnya membuka suara.


" Di tempat saya tinggal sekarang, ada sebuah kontrakan kosong. Kalau Anda mau saya bisa membawa Anda kesana." Amora merasa senang sekali mendengarnya.


" Terima kasih Pak atas bantuan anda. Bawalah saya ke sana! Karena saya benar-benar butuh tempat tinggal untuk sementara." Amora terlihat senang dengan bantuan supir yang mau mengantarkannya untuk mendapatkan kontrakan baru.


' Biarlah sekarang aku tinggal di mana pun tidak masalah karena yang penting aku bisa terbebas dari pencarian Andreas maupun Abian.' batin Amora yang merasa lega karena berhasil kabur dari para detektif yang disewa oleh Andreas yang berstatus sebagai suami resminya.


Begitu sampai di kontrakan yang dimaksud oleh Supir itu, Amora langsung mengontrak. Akan tetapi sekarang Amora hanya membayarnya satu bulan saja karena dia belajar dari pengalaman kemarin.


Takutnya keberadaannya dilacak lagi oleh detektif seperti hari ini. Kalau hal itu terjadi, dia bisa pergi tanpa merasa rugi.


Padahal Amora sudah membayar uang kontrakan selama 1 tahun kepada pemilik rumah. Tetapi dia terpaksa meninggalkan Desa itu karena tidak mau ditemukan oleh para detektif yang disewa Andreas untuk menemukan dirinya.

__ADS_1


" Terima kasih Pak karena sudah membantu saya." ucap Amora pada supir itu yang ternyata masih muda dan terlihat tampan.


Amora menertawakan dirinya sendiri yang absurd karena dalam keadaan seperti itu, dirinya masih bisa berpikir tentang ketampanan seorang laki-laki. "Sungguh konyol sekali!" ucap Amora tanpa sadar.


" Apanya yang konyol?" tanya Sopir itu kepada Amora yang langsung gugup seketika mendapatkan pertanyaannya.


" Tidak apa-apa. Terima kasih banyak sudah menolongku untuk menemukan tempat ini. Kalau begitu aku akan segera masuk ke dalam kamarku dan mau beres-beres!" Amora hingga saat ini masih memakai topi dan dua maskernya menutupi wajahnya dengan hoodie dan jaket tebal.


" Baiklah aku juga mau beristirahat dulu di kontrakanku. Itu adalah kamarku, kalau kau butuh sesuatu ketuklah pintuku aku pasti akan berusaha membantumu!" Amora hanya mengangguk mendengar ucapan pemuda itu.


Untuk kali ini Amora benar-benar bersikap waspada dan tidak mau kecolongan lagi seperti tadi. Amora sebisa mungkin untuk tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang baru yang dia temui.


Sambil memperhatikan kontrakan sederhananya, Amora mulai membereskan barang-barangnya sebisa mungkin. Karena dia tidak mau terlalu lelah dalam bekerja.


" Untung saja aku tidak mempunyai banyak barang dalam pelarian ini. Kalau tidak, pasti akan sangat merepotkan ketika aku harus kabur secepatnya!" Amora terlihat begitu lega karena sekarang sudah bisa melarikan diri dari para detektif yang mencarinya.


Setelah membereskan kontrakan barunya. Amora pun kemudian beristirahat dan membaringkan tubuhnya di kasur sederhana yang di tinggalkan oleh penghuni kontrakan sebelumnya.


Dalam pelariannya itu, Amora sudah banyak sekali menemukan banyak hal yang membuat dirinya sadar bahwa semua yang dia lakukan selama ini salah. Semua obsesinya terhadap Farel adalah sebuah kesalahan.


" Aku melarikan diri saja tidak membawa apapun. Apalagi ketika nanti aku mati. Ya Tuhan! Betapa aku telah begitu banyak lalai kepadamu gegara obsesiku kepada Farel. Ya Tuhan! Apakah kalau aku bertobat engkau akan mengampuniku dan menerima tobatku?" monolog Amora dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Amora sadar bahwa selama ini dirinya telah berbuat banyak kesalahan dan telah banyak menyakiti hati orang-orang di sekitarnya hanya karena obsesi dan kesombongan hatinya untuk bisa mendapatkan semua yang dia inginkan.


" Ternyata semua obsesi dan ambisi itu hanyalah sebuah omong kosong. Buktinya sekarang aku pergi, tetapi tidak membawa atau memiliki apapun. Aku bahkan membuang mobilku ke jurang hanya untuk menutupi keberadaan diriku di dunia ini. Lalu apa sebenarnya makna dari hidupku sekarang kalau aku telah kehilangan identitasku sendiri dan hidup sebagai orang lain yang sudah meninggal?" Amora terus bermonolog.


Hati Amora benar-benar sangat sedih sekali. Amora saat ini ingin sekali bertobat dan melupakan masa lalunya. Amora sudah memutuskan untuk hidup tenang dan jauh dari hal-hal yang membuatnya begitu terobsesi dan berambisi untuk selalu menjadi yang terbaik.

__ADS_1


Karena pikiran yang begitu lelah dan perut yang lapar tanpa terasa Amora malah tertidur.


Amora bahkan tidak mendengar ketika supir taksi yang menolongnya mengetuk pintu kamarnya. Sangking lelapnya dia tertidur.


" Baiklah kelihatannya dia sedang tertidur. Mungkin dia merasa lelah setelah membereskan kamarnya yang baru. Tapi dia pasti lapar. Sejak kedatangannya kemari, aku belum melihat dia pergi keluar untuk mencari makanan sama sekali. Ini sudah mau maghrib. Nanti akan sulit untuk bisa menemukan makanan kalau warung-warung sudah tutup." Monolog Rudi yang memiliki hati baik dan peduli kepada sekitarnya.


Rudi yang tadinya berniat untuk kembali mencari penumpang, akhirnya mengurungkan niatnya. Rudi merasa tidak tega kepada Amora yang sampai hampir maghrib belum juga makan apa-apa.


" Baiklah aku tinggalkan saja makanan ini. Semoga saja nanti dia bangun dan mengambilnya sehingga dia tidak lapar lagi." Rudi lalu Meletakkan makanan yang tadi dia bawa di meja yang ada di teras kontrakan milik Amora.


Rudi pun kemudian meninggalkan kamar itu dan kembali ke kamarnya sendiri yang berada tidak terlalu jauh dari kontrakan milik Amora.


" Syukurlah aku bisa memberikan dia makan. Semoga dia betah tinggal di lingkungan ini. Kasihan deh ah Sepertinya dia sedang melarikan diri dari seseorang terlihat dari penampilannya yang begitu misterius dan aneh. Tapi aku bisa rasakan kalau dia orang baik. Aku melihat ada kesedihan di matanya. Entah apa yang sudah dilalui oleh wanita itu sampai dia berada di tempat ini." monolog Rudi sambil terus memperhatikan kamar yang ditempati oleh Amora.


Rudi saat ini sedang duduk di teras kamarnya dan terus menetap pintu kamar Amora yang sampai saat ini masih tertutup dan masih gelap. Tanda kalau Amora masih tidur dan belum menghidupkan lampu di kamarnya.


" Dia tertidur ataukah pingsan? Kenapa lama sekali belum juga mau bangun?" Rudi mulai gelisah memikirkan Amora.


Rudi terus mondar-mandir di depan kontrakan nya karena merasa khawatir dengan Amora. Mata Rudi berbinar ketika tiba-tiba dia melihat cahaya di dalam kamar yang dikontrak oleh Amora. " Syukurlah kalau dia tidak apa-apa." Rudi tersenyum sendiri.


Rudi langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengintip dari jendela ketika melihat Amora yang keluar dari kamarnya.


Amora terkejut ketika melihat ada bungkusan di atas mejanya." Eh, Siapa yang meletakkan ini di sini?" Amora memeriksa isi bungkusan itu yang ternyata adalah makanan.


" Apakah Supir itu yang menaruhnya di sini? Kenapa ada orang yang begitu baik? Padahal kami baru bertemu tadi. Aku pun bahkan tidak tahu siapa namanya. Aih, kenapa dia baik padaku?? Aku tidak mau kalau sampai memiliki hutang Budi kepada seseorang. Aih, tapi aku benar-benar sangat lapar dan aku tidak tahu warung makan di sekitar sini. Baiklah tidak apa-apa aku menerima pemberiannya. Besok aku akan membayarnya pada dia!" setelah mengatakan itu amarah pun kemudian mengambil bungkusan plastik dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Rudi tersenyum ketika melihat Amora mau menerima pemberiannya. Dari balik jendela, Rudi sudah melihat wajah murah yang tidak menggunakan topi dan juga masker.

__ADS_1


" Ternyata dia seorang wanita yang sangat cantik." Rudi terlihat sangat menikmati pemandangan yang ada di depannya.


" Aku harap aku bisa mengenalnya lebih dekat lagi. Siapa tahu Tuhan telah mengirimkan jodoh untukku." Rudi tersenyum walaupun hanya memikirkan sesuatu yang konyol saat ini. Karena telah memikirkan tentang Amora yang sangat cantik layaknya bidadari yang turun dari kayangan menurutnya.


__ADS_2