
" Amel! Ayo ikut makan siang bersama kami. Karena CEO kita ingin bertanya tentang proyek kita yang terbaru!" ucap Steven ketika dia bertemu dengan Amel yang saat ini sedang berjalan menuju ke lift dan bersiap untuk meninggalkan kantor mereka.
" Oh Pak Steven?" tanya Amel yang terkejut ketika melihat Steven tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
" Hallo Amel." sapa Siska sambil tersenyum kepada Amel yang terlihat gugup ketika melihat Siska yang menyapa dirinya.
" Hallo Nyonya! Apa kabar??!" Amel terlihat membungkukkan kepalanya hanya untuk menghormati Siska sebagai Shio dari kantor tempat dia bekerja.
" Alhamdulillah kabarku baik-baik saja. Ikutlah bersama kami untuk makan siang bersama!" Ajak Siska kepada Amel sambil tersenyum kepada Steven.
Amel yang awalnya sangat gugup Dia terlihat mulai bisa bersantai ketika melihat Steven yang menganggukkan kepalanya.
" Tspi saya tidak merasa nyaman. Kalau harus makan siang bersama nyonya yang sebagai CEO di tempat ini." ucap Amel yang begitu canggung ketika berbicara dengan Siska.
" Santailah aku juga tidak akan memakanmu kita kan sama-sama manusia!" Siska terlihat tersenyum kepada Amel yang sekarang bersedia untuk makan siang bersama dengan mereka berdua.
" Duduklah di depan!" perintah Siska saat tadi Amel hendak duduk di kursi belakang.
Bagaimanapun Siska ingin membuat Amel bisa berdekatan dengan pamannya yang selama ini telah banyak membantu dirinya secara pribadi. Karena saat ini Steven yang menjadi sopir mobil milik Siska.
Mereka pun kemudian makan siang bersama di sebuah restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perusahaan Prayoga Group.
Itu mereka lakukan agar mereka bisa kembali ke kantor dengan cepat.
Saat mereka sudah bersiap untuk memesan makanan. Tiba-tiba saja dari arah pintu terlihat Farel yang mendatangi mereka.
" Sayang?? Kamu di sini juga?" tanya Farel yang merasa excited karena bertemu dengan istrinya di tempat yang sama tanpa janjian untuk bertemu dulu.
" Aku sedang makan siang bersama pemain Steven dan sekretarisnya!" ucap Siska sambil tersenyum kepada Farel yang kemudian menyapa Steven dan juga Amel yang saat ini sedang melihat menu di restoran itu.
__ADS_1
" Sayang kau makanlah dulu bersama dengan paman Steven di sini. Aku saat ini sedang bersama dengan klienku yang dari Surabaya. Mereka ada di ruang VVIP. Aku ke sana dulu ya? Oh ya sayang. Apa kau ingin bertemu dengan mereka?" tanya Farel sambil menatap tajam kepada Siska yang langsung menggelengkan kepalanya.
" Tidak usah sayang!! Karena aku juga perlu berbicara dengan paman Steven dan juga sekretarisnya. Kau lanjutkanlah kegiatanmu bersama mereka. Nanti kita bertemu setelah kau selesai atau ketika kita di rumah. Santai saja!" ucap Siska sambil tersenyum kepada Farel.
" Baiklah sayang! Nanti kau datanglah ke ruangan VIP ruangan Kamboja. Kalau kau ingin bertemu denganku. Aku ke sana dulu ya?" tanya Farel.
" Memang berapa orangnya ada di sana?" tanya Steven pada Farel.
" Sekitar 7 orang paman. 3 orang laki-laki dan 4 orang perempuan paruh baya. Mereka dari Suranaya, datang kemari untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dengan perusahaan Handoyo group. Paman sendiri tahu kan? Sejak perusahaan colleps dan mengalami kesulitan keuangan gara-gara Abian. Kami benar-benar harus memulai lagi dari nol semuanya!" terlihat Farel yang tampak begitu Sedih ketika membicarakan tentang perusahaannya.
" Sudahlah tidak usah dibahas lagi masalah yang membuatmu tidak bahagia. Temuilah klien kamu sayang. Tidak baik kalau kamu membiarkan mereka menunggumu!" Siska tersenyum kepada Farel.
Sejak perusahaan Handoyo group hampir saja gulung tikar. Farel memang memiliki perasaan insecure terhadap keluarga Prayoga group. Apalagi perusahaan Prayoga group sudah banyak sekali membantu perusahaan keluarga Handoyo saat berada di situasi kritis.
Siska berusaha sebaik mungkin untuk dapat menekan perasaan insecure itu dari diri Farel dengan tidak pernah ikut campur dengan apapun pekerjaan yang dilakukan oleh Farel selama itu adalah untuk kebaikan perusahaan keluarganya yang sejak dulu selalu di utamakan oleh Farel.
" Baiklah sayang. Aku akan enemui mereka dulu. Nanti aku akan menghubungimu ketika aku selesainya lama." ucao Farel. Siska hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
" Farel tampakanya masih merasa insecure terhadap kita." Steven mulai berbicara dengan Siska tentang Farel.
" Ya paman. Masalah tentang keuangan yang sudah dihancurkan oleh Abian. Memang sudah benar-benar menghancurkan mental Farel sampai titik terendah. Apalagi Handoyo grup sampai harus kehilangan jet pribadi mereka hanya untuk bisa menggaji para karyawan agar tidak sampai dipecat ataupun gulung tikar." ucap Siska.
Siska benar-benar menyesali perbuatannya dulu yang menjual jet pribadi milik Prayoga group. Padahal jet pribadi itu adalah kebanggaan Farel selama ini. Karena dulu ayahnyalah yang memilih jet pribadi itu secara langsung ketika membelinya yang bisa dikatakan jet pribadi itu adalah kenang-kenangan sang ayah untuk Farel.
" Paman. Apakah kita bisa membeli kembali jet pribadi milik keluarga Handoyo group yang dulu kita jual demi menyelatkan perusahaan Farel?" tanya Siska kepada Steven.
" Dulu ketika perusahaan Farel membutuhkan uang yang sangat banyak. Kebetulan Perusahaan kita yang ada di Bandung juga sedang collaps juga. Oleh karena itu dulu kita tidak bisa membantu mereka secara langsung. Hanya dengan cara menjual jet pribadi itu akhirnya kita bisa menyelamatkan perusahaan Handoyo group." Amel dari tadi hanya menjadi pendengar setia, pembicaraan antara Siska dan Steven.
Karena bagaimanapun dia juga tidak berani untuk ikut nimbrung di dalam pembicaraan mereka yang dia sendiri tidak terlalu paham.
__ADS_1
Alhasil Amel hanya menikmati makanannya tanpa bisa ikut nimbrung dengan pembicaraan mereka berdua.
Ketika mereka sudah hampir menyelesaikan makan siang. Terlihat Farel pun sudah keluar bersama dengan rekan-rekan yang lain.
" Sayang!"
Siska langsung melambaikan tangannya kepada Farel. Ketika mereka sudah siap untuk pulang karena acara makan siang yang sudah selesai. Para klien Farel juga harus kembali ke hotel mereka untuk kembali rapat internal perusahaan mereka untuk membicarakan hasil pertemuan bersama dengan Farel dan juga timnya.
" Mau pulang sekarang?" tanya Farel.
" Bagaimana denganmu?"
" Aku harus segera kembali ke kantor lagi untuk kembali membahas tentang hasil pembicaraan tadi. Karena nanti jam 5 tim mereka akan mendatangi perusahaan Handoyo group untuk sekalian survei pabrik dan juga kesediaan bahan baku kami!" Siska hanya menganggukan kepala mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Farel.
" Baiklah sayang. Kau kembalilah ke kantormu dengan aman. Aku akan pulang bersama paman Steven dan juga Amel. Karena aku kebetulan juga harus segera kembali ke kantor. Ada rapat setelah ini!" dusta Siska walaupun yang sebenarnya dia hanya ingin membiarkan Farah agar kembali ke kantornya tanpa merasa bersalah.
Setelah berpamitan Farel pun kemudian kembali ke kantor Handoyo group bersama dengan timnya yang berjumlah 4 orang.
Siska terlihat merasa tidak nyaman dengan wanita muda yang sejak tadi terus memperhatikan suaminya.
" Siapa wanita itu Paman?" bisik Siska di telinga Steven ketika Farel sudah masuk ke dalam mobil bersama dengan timnya.
Siska merasa tidak nyaman ketika melihat wanita muda tadi yang duduk di sebelah suaminya dalam satu mobil. Sementara asisten Farel dan juga sekretaris Farel duduk di kursi depan.
" Sudahlah Siska jangan terlalu berpikiran tidak tidak aku yakin padahal tidak mungkin mempunyai affair dengan gadis itu!" Ucap Steven sambil menepuk bahu Siska yang sejak tadi hanya bisa menatap kepergian suaminya bersama team perusahaan nya.
" Aku tidak apa-apa kok Paman. Santai saja! Aku cuman tidak mengenal perempuan muda yang duduk di samping Farel." Siska tersenyum kepada Steven yang hanya bisa menganggukkan kepalanya.
" Kenapa tadi Nyonya tidak bertanya kepada Tuan Farel tentang wanita itu?" tanya Amel yang merasa penasaran juga seperti Siska.
__ADS_1
" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Percayalah Siska! Pasti Farel tidak akan melakukan aneh-aneh selama dia bekerja!" ucap Steven yang berusaha untuk menenangkan Siska yang tampaknya menangkap sesuatu yang buruk terhadap Farel dan gadis muda yang duduk bersama dengan suaminya.