
"Tidak usah sampai terkejut seperti itu, bukankah seharusnya kalian senang karena mendapatkan hadiah istimewa untuk pernikahan kalian?" ucap Yustian dengan senyuman.
Menanggapi ucapan Yustian, Mila dan Marvel hanya bisa tersenyum kecut.
"Hahaha kalian ini memang kompak sekali, sangat cocok," sahut Bisma menanggapi senyuman Marvel dan Mila.
"Semoga saja Om," jawab Marvel.
"Kamu jangan panggil Om lagi Vel, sekarang aku adalah Ayahmu juga," tolak Bisma seraya menjelaskan.
"Hemmmm, baiklah, Ayah.." jawab Marvel dengan pasrah. Rasanya masih sangat lucu saja karena mungkin belum terbiasa.
Mila sendiri juga hanya bisa pasrah, karena memang semua sudah terjadi. Dirinya sudah menjadi istri Marvel dan sekarang malah di usir dari rumahnya sendiri. Waktu terus berjalan, sampai tiba saatnya semua saksi, keluarga, serta penghulu pamit undur diri.
Yustian, Sinta, Bisma, juga Melani akhirnya memutuskan meninggalkan pengantin baru ini di Resto. Tentu semuanya ingin kedua anak mereka ini untuk mandiri mulai sekarang. Juga harus mulai memikirkan kehidupanya sendiri nantinya, ya walaupun Yustian jelas masih terus akan membantu Marvel di bidang keuangan.
"Baiklah, Papi dan Mami pulang dulu ya Vel, selamat menikmati malam pertama pernikahan kalian," ucap Yustian sebelum memeluk anaknya, Sinta pun juga melakukan hal yang sama.Yustian juga mengedipkan sebelah matanya pada Marvel. Marvel hanya bisa tersenyum menanggapi arti di balik kedipan mata Papinya tersebut.
"Iya Pi, Mi," jawab Marvel, "Kalian hati-hati di jalan," tambah Marvel.
"Yustian benar juga," gumam Bisma sebelum melanjutkan, "Kalau begitu Ayah dan Bunda juga pulang dulu ya Mila, ingat untuk patuh dan taat pada suamimu!" tambah Bisma menyarankan seraya mengedipkan sebelah matanya juga.
Mila yang melihat dan mengerti dengan tingkah Ayahnya, hanya bisa menggerutu tanpa mengeluarkan suara. Mila benar-benar kesal dengan Ayahnya yang jelas selalu memaksakan kehendaknya, tanpa meminta persetujuan orang lain.
"Bunda pulang dulu ya Mila," sahut Melani menanggapi.
"Bunda," rajuk Melani dengan bibir manyun.
"Mulai sekarang kamu sudah menjadi milik Marvel, jadi jangan seperti anak manja ya! lagian kamu kan juga guru dia," titah Melani menjelaskan.
__ADS_1
"Iya Bunda, huh mau bagaimana juga semua sudah terjadi," jawab Mila pasrah.
Akhirnya kedua besan kembali pulang kerumah masing-masing, yang tersisa di Resto hanyalah Marvel dan Mila.
Saat ini keduanya saling diam dan terjadilah keheningan yang lumayan lama.
'Kenapa aku jadi gugub begini ya setelah menikahi guruku sendiri? bukanya aku sangat menginginkanya? bagaimana bisa aku tidak punya keberanian untuk merayu atau hanya bicara sepatah kata saja denganya... aku tidak pernah segerogi ini sebelumnya, saat aku merayu wanita tentunya, tapi ahhhh.," batin Marvel yang bingung dengan keadaanya saat ini.
'Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan Vel? aku tidak bisa, atau lebih tepatnya belum bisa jika harus melakukan hal seperti itu denganmu," batin Mila juga bingung. Walaupun seperti itu, Mila juga sedikit penasaran melakukan hal seperti itu di malam pengantin. Hanya saja dirinya belum siap saja jika harus di gituin Marvel. Secara Marvel jelas muridnya di sekolah. Walaupun sekarang Marvel adalah suaminya. Tetap saja Mila merasa canggung, mungkin karena belum terbiasa saja jika Marvel adalah suaminya.
"Mila," ucap Marvel dengan nada gugup saat memecahkan keheningan di antara keduanya. Marvel gugub karena takut Mila akan marah jika dirinya hanya memanggil Mila dengan sebutan nama saja. Karena setatus keduanya saat ini memang membingungkan. Di sekolah, Mila tetaplah gurunya, tapi dirumah mulai sekarang, jelas Mila adalah istrinya. Karena mau seperti apapun memang mereka sudah sah menjadi suami istri, jadi sebenarnya sah-sah saja jika Marvel memanggil Mila dengan sebutan nama saja.
"Iya Vel," jawab Mila seraya menatap suami kecilnya. Walaupun terasa canggung, tapi Mila tetap mencoba untuk bisa beradaptasi dalam situasi ini. Ada perasaan tak rela dan kesal di hati Mila, karena ada seorang Murid yang memanggil gurunya dengan sebutan nama saja. Namun perasaan kesal itu segera dihilangkanya, karena saat ini jelas yang memanggil Mila adalah suami kecilnya.
Marvel sendiri merasa senang setelah mendengar jawaban Mila yang sepertinya memang tidak menolak jika Marvel memanggilnya dengan sebutan nama saja.
"Sebaiknya sekarang kita segera pergi kerumah baru kita Vel, kita bicarakan semuanya disana saja, lagian aku juga sudah lelah dan setres sendiri dengan kejadian hari ini," tambah Mila menyarankan.
"Baiklah," jawab Mila pasrah sebelum ikut berdiri.
Keduanya berjalan bersebelahan saat keluar dari Resto, hanya saja keduanya tidak bergandengan tangan selayaknya pasangan pengantin baru lainya.
Marvel sendiri sebenarnya sangat ingin menggandeng tangan istrinya, hanya saja dirinya merasa sungkan dan tak enak hati.
Mila juga demikian, walaupun dirinya jelas menolak pernikahan dengan Marvel. Namun setelah semua ini terjadi, sebenarnya Mila juga ingin di perlakukan layaknya seorang istri. Bukan dibiarkan jalan sendiri. Namun Mila juga tak tahu harus memulai dengan cara seperti apa, karena dirinya memang belum pernah memadu kasih dengan siapapun. Ini benar-benar yang pertama untuk Mila.
Keduanya hanya diam dan berjalan ke arah parkiran mobil tanpa mmengeluarkan suara sedikitpun. Pasangan ini benar-benar saling tak enak hati mau mulai dari mana.
"Loh! mobilku mana?" seru Mila dengan kaget saat keduanya tiba di parkiran, karena memang saat ini mobilnya sudah tak ada di tempat parkir, "ARGHHHHHH.... AYAHHHHH., pasti Ayah kan yang membawanya pulang, huft!" tambah Mila dengan sedikit berteriak. Mila bisa mengetahuinya karena tadi Bisma sempat mengambil tasnya sebelum acara ijab qabul berlangsung.
__ADS_1
'Pasti saat itu Ayah mengambil kunci mobilku di tas,' batin Mila sedikit kesal saat dirinya mencoba mencari kunci mobil di tasnya. Yang ternyata benar bahwa kunci mobilnya memang sudah tak ada lagi di tempat. Ini membuat Mila benar-benar ingin berteriak dengan keras karena kesal. Namun tidak dilakukanya karena malu dengan Marvel yang saat ini ada di dekatnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, karena aku membawa mobil hasil hadiah dari Papi juga," sahut Marvel menjelaskan.
"Bukan masalah itu Vel, tapi...."
"Kita ini suami istri Mila, apakah kamu masih enggan untuk satu mobil dengan suami kecilmu ini?" potong Marvel dengan nada sedikit percaya diri saat Mila hendak bicara entah apa. Saat bicara tadi Marvel benar-benar merasakan jantungnya berdetak cepat karena masih belum terbiasa juga terlalu percaya diri dengan seseorang yang jelas adalah gurunya. Walaupun Mila telah sah menjadi istrinya, tetap saja Mila adalah guru Marvel di sekolah.
Mendengar ucapan Marvel hanya membuat Mila tersenyum kecut saat menatapnya.
"Iyaiya, aku istrimu," jawab Mila seraya menghela nafas dan memanyunkan bibirnya. Mila sepertinya sedikit kesal karena Marvel berani memotong ucapanya saat Mila akan menjelaskan sesuatu. Lagian sejak kapan murid seperti Marvel berani memotong ucapan gurunya.
"Hehehe, maaf ya tidak bermaksut membuatmu kesal," ucap Marvel dengan tersenyum manis. Mencoba terlihat bodoh di depan Mila, ini dilakukanya untuk berharap Mila tak akan kesal padanya lagi.
"Ya terserah kamu saja lah Vel, jadi dimana mobilmu?" tanya Mila yang juga dibuat penasaran, karena jelas di tempat parkir saat ini tidak ada mobil. Ya kecuali mobil yang sedikit aneh dan sepertinya cukup mahal juga menurut Mila. Dan itu tidak mungkin juga menjadi milik Marvel. Karena Mila juga tahu seperti apa mobil Marvel. Karena Marvel sering membawanya kesekolah.
"Ya ini mobilnya Mil, ada di deoan kita" jawab Marvel menjelaskan, seraya jarinya menunjuk kearah mobil Lamborghini Reventon miliknya.
Mendengar jawaban Marvel dan memandang kearah mana Marvel menunjuk, hanya membuat Mila heran sebelum tertawa terbahak-bahak.
Melihat dan mendengar tawa dari Mila, yang seolah tak percaya dengan yang dikatakan, hanya membuat Marvel tersenyum kecut.
"Vel, jangan bermimpi terlalu tinggi ya, kamu!" pinta Mila disela tawanya.
"Ya aku tidak sedang bermimpi, ini memang mobilku!" jawab Marvel dengan yakin.
Mila malah tertawa semakin keras saat memegangi perutnya yang memang semakin terasa sakit, karena tawanya sendiri.
"Vel, kamu memang paling bisa membuat lelucon," tambah Mila yang masih memegangi perutnya.
__ADS_1
"Aku serius ini mobilku!" jawab Marvel dengan yakin, karena memang ini mobilnya.
"Ya baiklah-baiklah aku percaya," ucap Mila berbohong, tentu untuk menghargai Marvel tentunya. Walaupun seperti itu, Mila masih tetap memegangi perutnya dan juga dalam hati masih belum bisa mempercayai dengan ucapan gila Marvel.