
Tak terasa semua pelajaran di sekolah berakhir begitu saja, saat bell tanda pelajaran telah usai di bunyikan. Seluruh siswa dan siswi di SMA Harapan tempat Marvel belajar, berhamburan keluar dari kelas. Ada yang langsung berjalan keluar dari sekolah, ada juga yang menuju tempat parkir untuk mengambil kendaraanya.
"Marvel!" panggil Celsea saat dirinya berjalan langsung mengejar Marvel dari belakang.
"Iya Cel,.." jawab Marvel setelah dirinya berhenti berjalan dan segera berbalik untuk menatap Celsea, "Maaf ya Cel, sepertinya hari ini aku tidak bisa pergi denganmu, ada tugas lain dari Papi," tambah Marvel langsung setelah Celsea cukup dekat denganya.
"Emmmm, begitu ya Vel?" jawab Celsea dengan suara yang terdengar kecewa.
Wajah Celsea juga langsung memucat, karena harapanya untuk jalan dengan Marvel tidak bisa terpenuhi.
"Maaf ya Cel, kita jalan lain kali saja," ucap Marvel dengan senyuman, saat mencoba menenangkan Celsea. Karena Marvel jelas tahu bahwa saat ini Celsea sangat kecewa denganya.
"Yasudah Vel, tidak apa," lirih Celsea dengan mencoba menahan perasaan kecewa saat memaksakan senyum pada Marvel. Tentu saja Celsea harus melakukan ini agar Marvel tidak khawatir padanya.
"Terimakasih ya Cel," ucap Marvel dengan membalas senyuman Celsea, sebelum dirinya kembali berbalik untuk pergi.
"Hati-hati di jalan sayang," seru Celsea seraya melampaikan tangan kearah Marvel.
Mendengar seruan Celsea, Marvel kembali berbalik dan membalas lambaian tangan Celsea.
"Terimakasih sayang," jawab Marvel dengan senyuman dan anggukan sebelum kembali berbalik dan berjalan keluar sekolah.
Sampai diluar sekolah, Marvel langsung mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat membuka aplikasi taxi online.
Marvel harus pulang ke Villa menggunakan taxi online agar tidak ada yang mencurigainya.
Tak berselang lama, setelah Marvel memesan taxi online. Taxi pun segera meluncur dan sampai di depan sekolah Marvel. Dengan santai juga, Marvel segera masuk ke taxi dan meminta sopir taxi untuk mengantarnya ke Villa.
Kembali ke Milla.
Saat ini Mila masih berada di kantor guru untuk mengoreksi jawaban ulangan tadi pagi, di kelas Marvel.
"Bu Mila," sapa Anton saat dirinya mendekat kearah Mila.
"Ya Pak," jawab Mila dengan cepat.
"Apakah Bu Mila butuh bantuan?" tanya Anton dengan penuh harap.
"Tidak," ketus Mila saat matanya tetap fokus kearah semua kertas di mejanya.
Hati Anton langsung terasa seperti tertusuk jutaan duri, setelah dirinya mendapatkan perlakuan dan kata-kata seperti itu dari Mila. Namun demikian walaupun dirinya sangat kesal, Anton tetap mencoba menahan diri agar tidak mudah menyerah untuk mendapatkan Mila.
'Sabar kamu Anton! jika kamu bisa mendapatkan hati dari guru ini, kemungkinan besar kamu bisa mendapatkan tubuh cantiknya untuk dirimu sendiri, juga kamu bisa mendapatkan kekayaanya, seperti mobil mewahnya mungkin," batin Anton dengan yakin, bahwa dirinya memang bisa mendapatkan hati Mila. Sungguh kasihan Anton, karena tidak tahu sama sekali tentang Mila yang sudah menjadi milik Marvel.
__ADS_1
"Apakah Bu Mila serius? sepertinya ini masih banyak yang perlu di koreksi Bu, saya bisa membantu Bu Mila kalau Bu Mila mengijinkanya," ucap Anton menjelaskan maksutnya dengan penuh harap. Anton sangat berharap bahwa Mila akan mengijinkanya. Saat ini Anton bahkan memberanikan diri untuk memegang ketas jawaban ulangan di meja Mila dan berencana mengambilnya. Tentu Anton melakukan semua itu, untuk membantu dan mencari muka di depan Mila.
Hanya saja kertas tadi langsung di rebut kembali bahkan sebelum Anton sempat mengambilnya. Bahkan Mila juga menatap tajam kearah Anton. Anton bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat mendapatkan penolakan seperti ini dari Mila. Mila bahkan sampai terang-terangan menolak bantuanya di depan banyak guru. Anton merasa sangat malu dan merasa sangat gugub saat ini.
"Pak Anton! jangan mengganggu saya bisa! saya sedang serius dengan semua ini," pinta Mila dengan nada serius.
"Ya...ya baiklah," jawab Anton dengan terbata. Anton benar-benar belum pernah merasakan gugub seperti ini sebelumnya. Mungkin karena penolakan Mila yang terang-terangan itu membuat Anton benar-benar gugub saat jantungnya berdetak sangat cepat. Bahkan sekarang Anton merasakan dirinya lemas dan bernafas semakin cepat juga. Rasanya dia telah kelelahan habis berolahraga begitu keras. Padahal hanya berhadapan dengan Mila, ini saja bisa membuatnya lemas. Bagaimana jika sampai bercinta denganya, tentu Anton membayangkan hal semacam itu.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Bu," tambah Anton langsung berpamitan untuk pergi, karena merasa sangat malu. Jelas Anton sangat malu, karena sekarang banyak guru di dalam kantor sedang menatapnya. Wajah Anton semakin pucat saat membayangkan bahwa semua guru disana meledek dan juga mengasihaninya. Bisa hancur reputasinya jika semua itu terjadi.
"Ya Pak," jawab Mila dengan cepat. Dirinya benar-benar berharap Anton akan segera pergi dari hadapanya untuk saat ini.
Anton menelan salivanya begitu sulit saat dirinya berbalik memunggungi Mila, dan dengan perlahan segera angkat kaki dari dalam kantor guru. Anton benar-benar merasa telah dipermalukan, dan berancana untuk membalas dendam.
'Mila kurang ajar!!!! apakah kamu tak punya perasaan sama sekali??? sampai menolak mentah-mentah semua perhatianku?' batin Anton dengan sangat kesal dan marah.
'Mila....jangan salahkan aku jika suatu saat aku bisa nekat untuk mendapatkan kecantikanmu,' tambahnya saat membayangkan meniduri Mila.
Kembali ke Mila.
Setelah kepergian Anton, Mila menjadi sedikit rileks dan merasa tenang. Karena pengganggu dan hama yang selama ini selalu mencari muka di depanya telah pergi. Mila selalu bicara kasar dan ketus pada Anton itu karena dirinya berusaha membuat Anton peka, bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik dengan pria yang sok percaya diri seperti dirinya. Apalagi jelas saat ini Mila sudah bersuami, jadi dirinya berencana untuk mengurangi kontak cowok di dalam ponselnya. Bahkan Mila juga akan memblokir nomor Anton jika masih terus mengganggunya.
"Bu Mila masih sibuk?" tanya seorang guru perempuan yang sedang berjalan kearah meja Mila.
"Ya baiklah, selamat mengerjakan tugas, saya permisi dulu ya Bu," ucap guru tadi berpamitan.
"Iya Bu, terimakasih dan hati-hati di jalan," balas Mila dengan tersenyum juga mengangguk.
Guru tadi juga membalas senyuman Mila, sebelum berjalan melewati meja Mila dan segera meninggalkan kantor guru.
"Selamat sore Bu," kembali ada seorang guru menyapanya. Namun sekarang seorang guru laki-laki yang sudah cukup berumur juga.
"Ya Pak," jawab Mila dengan Anggukan saat menatapnya.
"Saya permisi ya Bu," ucap Pria tadi berpamitan. Sebenarnya ini biasa terjadi di kalangan guru, sebagian besar guru berpamitan pada guru lainya saat akan pulang. Di tambah lagi meja Mila yang memang dekat dengan pintu keluar, jadi sudah di pastikan bahwa semua guru selalu menyapanya sebelum pulang. Tentu itu juga, dilakukan sebelum Mila pulang terlebih dahulu. Jika Mila yang akan pulang terlebih dahulu, tentu Mila yang akan berpamitan pada semuanya.
"Ya Pak, hati-hati," jawab Mila dengan menganggukan kepala.
Guru tadi juga membalas dengan senyuman dan anggukan sebelum berjalan melewati meja Mila dan segera pergi dari kantor.
Setelah guru tadi pergi, Mila kembali melanjutkan mengoreksi ulangan anak-anak.
Drrtttt...drrttt...
__ADS_1
Ponsel Mila tiba-tiba bergetar saat dirinya sedang fokus di kertas jawaban ulangan tadi. Mila dengan segera mengambil ponsel dari dalam tasnya dan segera membuka kunci ponselnya.
Ada satu pesan whatshap di ponselnya dan Mila juga segera membukanya.
> Sore sayang," sekilas pesan dari Marvel.
> Ya sore," balas Mila dengan cepat.
> Cuek amat jawabanya," balas Marvel dengan emoticon kesal.
> Aku sedang sibuk, ini mengoreksi jawaban-jawaban ulangan tadi," jawab Mila cepat.
> Hemmm, begitu ya... kalau begitu bawa pulang saja, nanti aku bantu mengoreksi dehhhh, lagian dirumah juga ada beberapa pelayan yang mungkin bisa membantu kita mengoreksinya," balas Marvel menjelaskan.
Mendapat balasan dari Marvel membuat Mila sedikit terkejut. Karena yang diucapkan Marvel ada benarnya juga.
'kenapa aku sampai tidak memikirkan hal ini ya?"' batin Mila merasa lucu dan bodoh. Dirinya juga tertsenyum-senyum sendiri saat membayangkan betapa bodohnya dia.
> Kenapa gak di balas?" tambah Marvel mengirim pesan pada Mila karena tidak mendapat jawaban cepat seperti tadi.
> Ya baiklah aku akan pulang, tapi kamu benar-benar harus membantuku Vel! awas saja jika nanti kamu tidak membantuku!" jawab Mila sedikit mengancam saat menambahkan emoticon menjulurkan lidah.
> Yayaya, dasar istri galak, selalu saja mengancam suami sendiri.," jawab Marvel.
> Galak-galak begini juga, kamu suka kan?" tanya Mila yang tak mau kalah.
> Ya memang aku suka dan sayang juga, jika tidak... mana mungkin kita berakhir menjadi keluarga," balas Marvel dengan menambahkan emoticon tersenyum.
> Hemmm, begitu kah?" tanya Mila.
> Tentu sayang, yasudah buruan pulang, aku sudah tidak tahan pengen ketemu dengan istriku!" balas Marvel dengan emoticon hati dan tersenyum.
> Huh dasar... baru juga tadi ketemu, sekarang sudah tidak tahan lagi!" balas Mila dengan emoticon menyipitkan mata.
> Tadi di sekolah kan harus tetap waspada untuk jaga rahasia, berbeda lagi jika nanti dirumah," balas Marvel dengan beberapa emoticon senyum juga emoticon menunjukan gigi.
> Ya baiklah aku akan segera pulang," balas Mila di sertai emoticon tersenyum.
> Ya sayangku, hati-hati di perjalanan ya! karena suami kecilmu ini tidak mau terjadi apa-apa denganmu," sekilas balasan dari Marvel dan Mila tidak membalasnya, karena Mila harus segera bersiap untuk kembali. Jika terus saling kirim pesan, bisa-bisa Mila jadi lupa untuk bersiap. Mila hanya bisa tersenyum-senyum sendiri mendapatkan perlakuan seperti ini dari suami kecilnya
Setelah kembali meletakan ponsel di tasnya, Mila langsung bersiap untuk pulang. Mila juga kembali merapikan kertas ulangan di meja karena berniat untuk membawanya, seperti yang di sarankan Marvel tadi. Namun Mila dengan segera membulatkan matanya kearah selembar kertas yang bertuliskan nama Marvel di sertai gambar hati dan bertuliskan "Untuk Istriku Tercinta".
"Terimakasih sayang atas pengertianya, jangan terlalu kecapekan ya! harus jaga pola makan juga, walaupun sedang serius saat bekerja, intinya terus jaga kesehatanmu. Aku tidak mau lo sampai istriku sakit, pokoknya sampai ketemu dirumah," sekilas pesan dari Marvel, yang ia tulis di kertas kosong jawaban ulangan ini. Walaupun rasanya terlalu lebay, namun Mila bisa tersenyum sendiri setelah melihat dan membaca tulisan daru Marvel. Mila bahkan tidak sadar jika saat ini ada dua guru yang sedang menatapnya lekat-lekat dari jauh.
__ADS_1