Guruku Adalah Istriku

Guruku Adalah Istriku
Bab 35


__ADS_3

Tak berselang waktu lama, akhirnya Bhisma dan Melani sampai diruang tamu.


"Kalau tidak ada yang lain, saya permisi dulu Tuan," ucap pelayan berpamitan, setelah merasa tugasnya selesai. Karena untuk minuman dan makanan ringan, semua sudah di siapkan di meja ruang tamu tersebut.


"Oh iya, silahkan, dan terimakasih," jawab Bhisma dengan anggukan.


"Bhisma, selamat datang dirumahku," sapa Yustian langsung setelah melihat sahabat sekaligus besanya tersebut telah datang.


"Hahaha Yustian, terimakasih... tadi asisten rumah tanggamu juga sangat ramah pada kami," jawab Bhisma dengan sedikit memuji.


"Hahaha kamu ini bisa sekali ya memuji seseorang!" kekeh Yustian sebelum langsung mendekat kearah Bhisma dan memeluknya seperti kebiasaan keduanya.


"Selamat datang jeng!" sapa Sinta yang juga langsung menjabat tangan Melani.


"Iya jeng, terimakasih atas keramahanya," jawab Melani seraya menerima jabatan tangan Sinta sebelum langsung memeluknya, seperti suami mereka tadi.


"Mari, silahkan duduk," ucap Yustian memepersilahkan.


"Terimakasih Yus," jawab Bhisma dengan antusias. Sebelum dirinya dan Melani duduk berhadapan dengan Yustian dan Sinta di antara meja.


"Silahkan dicicipi makananya jeng!" pinta Sinta menawarkan.


"Iya jeng, sepertinya ini enak," jawab Maleni antusias. Tidak ingin membuat Sinta tersinggung, Melani juga langsung memakan, makanan yang dintawarkan tadi.


Keempat orang ini kemudian kembali melanjutkan obrolan-obrolan ringan di antara mereka. Yustian dan Bhisma membicarakan bisnis mereka. Sedangkan Sinta dan Melani membicarakan masakan dan berbagai macam pakaian juga perhiasan.


Tak berselang waktu lama, sekitar 15 menit kemudian, Marvel dan Mila tiba di halaman rumah Yustian. Marvel langsung dengan perlahan memarkirkan mobilnya di dekat garasi, tepatnya di belakang mobil lamanya.


Seorang pelayan rumah yang melihat kedatangan mobil Marvel, dengan segera berjalan dengan cepat kearah ruang tamu.


"Tuan Yustian, Den Marvel dan Non Mila sudah sampai di halaman depan," lapor seorang pelayan pada Yustian yang saat ini sedang mengobrol dengan Bhisma, Sinta sendiri mengobrol dengan Melani. Bahkan saat ini, dua wanita setengah baya ini juga meninggalkan suami mereka untuk mengobrol berdua saja.


"Oh begitukah?, kalau begitu langsung saja antar Marvel dan Mila kesini!" jawab Yustian memberi perintah.


"Baik Tuan," jawab pelayan tadi dengan anggukan, sebelum berbalik dan segera menyongsong kedatangan Marvel dan Mila untuk menyambutnya.


Diluar rumah, di dekat garasi mobil rumah Yustian, Marvel dan Mila membuka kedua pintu depan mobil keatas, dan itu juga hampir bersamaan.


Marvel dan Mila kemudian perlahan keluar dari dalam mobil, sebelum dengan cepat Mila menyongsong Marvel dan langsunh menggandeng tanganya.


"Sepertinya Ayah dan Bunda sudah tiba," ucap Mila seraya jari telunjuknya mengacung kearah mobil yang sangat dikenalnya.


"Ya sepertinya begitu," jawab Marvel dengan anggukan setelah melihat mobil yang sudah sering dilihatnya tersebut..


"Yasudah, ayo kita masuk sekarang!" ajak Mila pada Marvel.


"Iya," jawab Marvel patuh.


Keduanya kemudian berjalan kearah pintu depan rumah keluarga Yustian, atau Papi Marvel.


Tak berselang waktu lama, Marvel dan Mila sudah tiba di depan pintu rumah, dan Marel juga langsung bersiap memencet tombol bell rumah tersebut.


Krekkkkk....


Tepat saat Marvel ingin memencet tombol bell, tiba-tiba pintu depan terbuka, dan terlihat yang membukanya adalah seorang pelayan rumah, atau asisten rumah yang sangat di kenal oleh Marvel.

__ADS_1


"Selamat datang Den Marvel dan Non Mila!" sapa pelayan pada Marvel dan Mila dengan senyuman.


"Ya terimakasih," jawab Raka dengan anggukan dan senyuman.


"Terimakasih," Mila juga ikut menyahut dengan senyuman, sama seperti Marvel.


"Tuan sudah menunggu anda berdua di ruang tamu, silahkan lewat sini!" ucap Pelayan secara langsung, saat menjelaskan dan mempersilahkan keduanya.


"Ya baiklah, terimakasih atas keramahanya," jawab Raka dengan senang, sebelum dirinya dan Mila langsung mengikuti pelayan tadi menuju keruang tamu pribadi, yang tentu sangat di kenal Marvel.


Tak berselang lama juga, Marvel dan Mila telah sampai diruang tamu pribadi keluarganya.


"Papi, Ayah," sapa Marvel langsung setelah melihat Yustian dan Bhisma sedang mengobrol.


"Ayah, Papi" Mila pun demikian, juga langsung menyapa Bhisma dan Yustian.


"Hey Vel, Mila," jawab Yustian menanggapi.


"Kukira kalian tidak akan datang," kekeh Bhisma ikut menanggapi.


"Ya pasti datang lah, karena saya tidak punya alasan untuk tidak datang," jawab Marvel seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, kami pasti datang Pi, Ayah," sahut Mila menanggapi dengan senyuman.


"Hahaha, kalian sudah kompak ya sekarang, padahal baru saja kemarin menikah," goda Yustian pada keduanya.


"Hehe harus kompak dong Pi, kan sudah resmi menjadi suami istri," jawab Mila dengan menunjukan giginya.


"Mila benat Pi," tambah Marvel memberi pembelaan.


"Kamu memang benar Bhis," jawab Yustian setuju, sebelum kembali menatap Marvel dan Mila, "Apakah kalian hanya akan berdiri saja?" tambah Yustian bertanya.


"Hehe, tidak lah Pi," jawab Marvel dengan sedikit terkekeh.


"Ayo sayang kita duduk," ajak Marvel pada Mila.


"Iya sayang," jawab Mila dengan patuh saat menatap suaminya dan tersenyum padanya.


"Dasar anak muda," ledek Bhisma seraya melirik dengan senyuman kearah Marvel dan Mila.


"Ya begitu Bhis, kita kan dulu juga pernah mengalaminya," sahut Yustian menanggapi.


"Hehehe," kekeh Mila dengan menjulurkan lidahnya kearah Bhisma.


"Biarin sayang, tidak usah dengarkan orang-orang tua berbicara," sahut Marvel menanggapi kekehan Mila.


"Apa Vel? sudah mulai berani kamu sekarang?" tanya Yustian dengan nada tidak serius.


"Hehe, tidak ada yang berani Pi, hanya saja... emmm gimana ya ngomongnya," jawab Marvel dengan terlihat memikirkan sesuatu.


"Dasar anak muda, ada saja...." ucap Bhisma dengan menggelengkan kepalanya.


"Anakmu itu Yus," tambah Bhisma menyindir Yustian.


"Hahaha benar juga, ternyata Marvel memang sangat mirip denganku waktu muda ya Bhis?" jawab Yustian membenarkan.

__ADS_1


"Ya begitulah, namanya Papi dan anak," sahut Marvel menanggapi dengan menunjukan giginya kembali.


"Kamu ini Vel, bisa saja jawabnya," puji Yustian dengan tersenyum kecut.


"Kan Papi yang ngajarin," jawab Marvel kembali menyalahkan Yustian.


"Duhhhh, kena lagi Yus, hahaha," kekeh Bhisma yang menanggapi.


"Iya ini, sudah mulai pinter ini anak," jawab Yustian membenarkan.


"Marvel sayang, jangan begitu sama orang tua!" bisik Mila mengingatkan, Mila khawatir jika nanti Marvel sampai kebablasan saat bicara dengan orang tua.


"Hehe, tidak apa sayang... aku sudah biasa bercanda seperti ini dengan Papi kok," jawab Marvel menjelaskan.


"Ya Mila, kamu tidak perlu khawatir, kita semua tidak ada yang merasa tersinggung, karena memang sudah terbiasa," tambah Yustian membenarkan ucapan Marvel.


"Kamu harus mulai belajar dari Marvel tentang keluarga Papinya, Mila!" tambah Bhisma menyarankan.


"Hehe iya Pi, Ayah," jawab Mila dengan sedikit malu. Karena ternyata bisikanya pada Marvel tadi di dengar oleh Ayah dan Papi mertuanya tersebut.


Keempat orang ini, kembali melanjutkan obrolan-obrolan kecil, juga membicarakan beberapa hal yang penting dan tidak penting. Tidak lupa, Yustian dan Bhisma juga menggoda pengantin baru ini.


Marvel dan Mila hanya bisa senyum-senyum sendiri, setiap kali mendengar nada godaan dari Yustian dan Bhisma. Karena keduanya memang benar-benar paling bisa untuk menggoda seseorang.


Setelah keempat orang ini mengobrol beberapa saat. Melani dan Sinta datang ke arah mereka dengan berjalan perlahan.


"Marvel? Mila?" sapa Sinta setelah melihat Putra dan menantunya yang saat ini sedang duduk berdua, bahkan tidak melepaskan gandengan tanganya.


"Eh, Mami, Bunda," jawab Marvel dengan langsung mengalihkan pandangan kearah Sinta dan Melani.


"Bunda? Mami," Mila juga langsung menyapa keduanya.


"Iya, apakah kalian sudah lama, tiba disini?" jawab Melani dengan antusias, sebelum bertanya kembali.


"Belum lama juga kok Bunda," jawab Mila dengan senyuman. Setelah menjawabnya, Mila langsung berdiri dan menjabat tangan Bundanya. Di ikuti Marvel juga melakukan hal yang sama pada Maminya, sebelum bergantian pada Bundanya. Mila pun demikian, dirinya melakukan seperti yang Marvel lakukan.


"Kalian ini ya, sangat berbakti dengan orang tua, Bunda pasti akan selalu do'akan agar kalian selalu bahagia," puji Melani pada keduanya.


"Mami juga akan berdo'a untuk kebahagiaan kalian," sahut Sinta menanggapi.


"Hehe terimakasih Mi, Bunda," jawab Mila dengan haru.


"Terimakasih Mami dan Bunda," sahut Marvel ikut menjawab.


"Kalian ini, apa kalian hanya sayang pada ibu kalian saja?" sahut Bhisma dengan senyum kecut.


"Iya Bhis, sepertinya kita tidak di anggap," sindir Yustian dengan main-main.


"Hehe, maaf..., tentu saja kami juga sayang dengan kalian dong," jawab Mila menanggapi sindiran dua lelaki ini sebelum menatap Marvel, "Iya kan sayang?" tambah Mila meminta dukungan.


"Ya tentu saja sayang, kita semua saling menyayangi," jawab Marvel membenarkan.


"Kalian ini......"


Keenam orang ini kemudian kembali melanjutkan obrolan-obrolan singkat sebentar, sebelum semuanya memutuskan untuk segera berangkat ke acara pesta agar tidak kemalaman juga, dan itu bisa membuat mereka terlambat. Mereka tentu tidak ingin jika sampai membuat rekan bisnis Yustian dan Bhisma kecewa dengan keterlambatan mereka nantinya.

__ADS_1


__ADS_2