
"Emmmmmm,....
Drrttt..... drrtt.....
Saat Mila hambir bicara, tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Sebentar ya Cel, sepertinya ada yang menelfonku," ucap Mila seraya perlahan melepaskan pelukan Celsea.
"I-iya Bu," jawab Celsea di sela isak tangisnya.
Mila akhirnya memgeluarkan ponsel dari sakunya. Betapa terkejutnya Mila saat menatap ponselnya dengan mata yang membulat.
"Emmm siapa Bu ya menelfon?" tanya Celsea yang penasaran saat menatap terkejutnya Mila.
Mila sendiri menghela nafas panjang sebelum memgeluarkanya perlahan untuk menenangkan diri.
"Ini Cel, Pak Anton," jawab Mila pelan seraya menunjukan ponselnya ke Celsea.
"Emmm, terus kenapa Bu Mila sangat terkejut, kan itu hanya Pak Anton?" tanya Celsea dengan mata yang masih merah.
"Ya terkejut saja Cel, lagian ngapain sih Pak Anton pakai nelfon-nelfon segala," ucap Mila dengan senyum kecut. 'Kalau bukan sama-sama guru, sudah ku blokir nomor orang ini,' batin Mila dengan jengkel, karena merasa terganggu dengan Anton.
"Mungkin Pak Anton rindu sama Ibu," ucap Celsea dengan nada menggoda, sebelum langsung menutup mulutnya juga sedikit terkekeh.
"Apa Cel, rindu?" dengus Mila yang terkejut dengan ucapan Celsea.
"Hehehe tak apa-apa Bu," jawab Celsea yang masih terkekeh.
"Nah begitu dong masih bisa tertawa, yasudah ibu mau ke toilet sebentar ya Cel!"ucap Mila berpamitan juga berniat memasukan ponselnya kesaku.
Drrttt...drrttt....
Ponsel Mila kembali bergetar, dan ini benar-benar sangat mengganggunya.
"Gak di jawab dulu ya Bu?" tanya Celsea dengan menunjuk ke ponsel Mila.
"Malas lah Cel, lagian masih di area sekolah saja pakai acara telfon-telfon segala," jawab Mila yang langsung mematikan panggilan telefon dari Anton.
"Hehehe Bu Mila kejam," gumam Celsea yang kembali terkekeh.
"Biarin lah Cel," jawab Mila sebelum langsung masuk ketoilet.
Celsea sendiri kembali membasuh mukanya dengan air untuk membersihkan air mata. Sedangkan Mila sendiri hanya buang air sebentar sebelum keluar dari toilet.
Setelah kedua wanita ini selesai dengan kepentingan masing-masing. Keduanya keluar dari kamar mandi berdua dan langsung menuju ke halamam depan sekolah.
Tidak lupa sebelum sampai di halaman, keduanya merias wajahnya dan terlihat sangat cantik dan menawan.
Terutama ini untuk Mila yang memang wanita tercantik di sekolah. Sebenarnya Celsea juga tidak kalah cantik. Hanya saja mungkin karena Celsea kurang merawat diri saja. Jadi masih kalah saing sama gurunya, Mila.
"Bu Mila, anda sangat cantik," puji Anton setelah kembali berpapasan dengan Mila.
"Terimakasih pujianya Pak," jawab Mila dengan senyuman agak dipaksa.
"Pak Anton ini gimana? ya jelas Bu Mila sangat cantik, beliau kan memang guru paling cantik di sekolah kita," sahut kepala sekolah menimpali.
"Ah Pak Dikin," timpal Anton dengan terkerjut juga ada perasaan malu. Dirinya merayu seorang guru lain di depan kepala sekolah, ini adalah hal yang sangat memalukan untuknya.
"Hahaha ya tentu saja Pak Anton, siapa lagi?" jawab Pak Dikin setelah tertawa.
__ADS_1
"Hehehe maaf Pak," ucap Anton yang salah tingkah saat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Untuk apa minta maaf segala," jawab Pak Dikin denggan senyum dan menggelengkan kepala.
"Selamat pagi Pak Dikin," sahut Mila berucap salam.
"Iya, pagi Bu Mila," jawab Pak dikin dengan senyuman juga.
Setelah acara salam selesai, tidak ada lagi yang di perdebatkan karena semua langsung bersiap untuk melakukan upacara.
Tak berselang waktu lama, upacarapun selesai dengan tertip seperti biasanya.
Semua guru kembali ke kantornya masing-masing, dan semua siswa dan siswi juga kembali ke kelas masing-masing.
"Bu Mila langsung ke kelas?" tanya Anton langsung setelah melihat Mila akan meninggalkan kantor dan membawa beberapa kertas ulangan.
"Ya Pak, permisi," jawab Mila dengan sedikit cuek, karena memang sedang terburu-buru.
"Emm, ya Bu," jawab Anton dengan perasaan sedikit kecewa.
Semua guru di ruangan hanya bisa terkekeh melihat wajah Anton yang terlihat kecewa.
Mila sendiri hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan, sebelum keluar dari ruang guru langsung menuju kelasnya Marvel.
Didalam kelas, Marvel dan teman-temanya yang lain masih asik bermain pada umumnya anak remaja. Saling lempar kertas juga ada yang sedang merumpi dan membicarakan orang lain. Ada juga yang asik main game online di ponselnya.
Celsea sendiri hanya duduk bersama dengan Anisa dan tertawa bareng Anisa juga teman-temanya yang lain.
Sudah sedikit hilang rasa sedih di hatinya setelah bercengkerama dengan teman-temanya.
Celsea juga sedikit melupakan kejadian bersama Stiven, karena sekarang dirinya sudah memblokir whatshap Stiven.
"Selamat Pagi Bu Mila," sapa seluruh siswa dan siswi di dalam kelas secara serempak. Suaranya begitu bergema dan memantul beberapa kali. Semua siswa dan siswi melakukan semua ini hanya pada Mila seorang. Karena Mila memang cantik juga orangnya selalu pengertian. Yahhh walaupun kadang galaknya juga keluar.
"Selamat pagi murid-murid, silahkan duduk kembali!" jawab Mila dengan senyuman dan anggukan. Mila kemudian duduk di kursinya dan meletakan tas di atas meja sebelum berdiri kembali.
"Hari ini ulangan matematika, saya harap kalian sudah belajar ya tadi malam? agar nilai kalian memuaskan tentunya!" jelas Mila dengan nada serius.
"Yahhhh, kok ulangan sih Bu," keluh beberapa siswa dengan suara lemas.
"Kan hari jum'at sudah Bu Mila jelaskan, bahwa kita ulangan pada hari senin," sahut Anisa dengan nada pembelaan.
"Ya kitakan lupa Nis, jadi yahhh kita belum belajar juga," jawab seorang siswa dengan menunjukan giginya.
"Kamu kan memang tak pernah belajar," ledek Anisa sebelum terkekeh.
Siswa tadi hanya menjawab dengan ikut terkekeh sedikit.
"Hey Vel, biasanya kamu paling malas ulangan! kenapa sekarang diam saja tidak protes sama sekali?" tanya seorang siswa lainya ke Marvel.
Celsea sendiri hanya menatap kekasihnya yang sedari tadi diam setelah kedatangan Mila.
"Yahhhh, mungkin mulai sekarang aku akan berusaha menyukai ulangan, sebenarnya bukan hanya aku, tapi untuk kalian semua, kita kan memang sudah semakin dewasa, jadi kita harus mulai berubah untuk diri kita sendiri, kita sudah bukan anak kecil lagi," jawab Marvel dengan sok bijak. Jawaban Marvel sungguh membuat semua siswa di kelasnya tertawa terbahak-bahak.
Bahkan Celsea dan Anisa juga ikut tertawa, hanya Mila yang menatap Marvel dengan perasaan haru dan senang. Yahhhh tentu saja Mila senang, karena sepertinya Marvel sudah bisa berubah dan sedikit berfikir dewasa.
"Sejak kapan kamu jadi bijak begini Vel?" tanya Siswa lainya setelah berhenti tertawa.
"Ya sejak hari ini," jawab Marvel dengan menunjukan giginya.
__ADS_1
"Hahaha, mimpi apa kamu semalam Vel?" tanya siswa lainya lagi.
"Tadi malam aku....."
"Pasti mimpi basah,." sahut siswa lainya memotong ucapan Marvel. Mendengar ucapan siswa ini, semua siswa kembali tertawa.
"Kamu ini gila ya! jangan keras-keras jika bahas seperti itu," keluh Marvel dengan menggertakan giginya sebelum melempar siswa tadi dengan kertas.
"Hahaha iya Vel, iya!" kekeh siswa tadi menghindari lemparan Marvel.
Celsea dan gadis-gadis di kelas juga ikut tertawa dengan kekonyolan ucapan siswa tadi. Semua orang hanya tidak tahu saja, jika Marvel sudah menjadi suami Mila. Tentu sekarang Marvel akan berusaha menyenangkan istrinya, agar tidak merasa menyesal telah menikah denganya. Itulah alasan Marvel tadi bicara sok bijak di kelas.
Mila sendiri menghela nafas panjang sebelum mengeluarkanya dengan cepat untuk menenangkan diri.
"Sudah-sudah tertawanya," ucap Mila dengan nada pelan saat memotong tawa semua orang. Banyak siswa termasuk Marvel dan Celsea yang menatap Mila dengan tatapan terkejut. Jelas terkejut dan merasa aneh, karena Mila yang biasanya akan berseru, dan nada suaranya keras ketika banyak siswa bercanda dan tertawa di dalam kelas saat pelajaran berlangsung. Sekarang bisa bicara dengan pelan dan ramah. Ini sangat langka terjadi, termasuk untuk guru-guru lainya.
"Jangan menatapku seperti itu? atau kalian mau aku menjadi galak seperti biasanya?" keluh Mila setelah melihat tatapan murid-muridnya.
"Heheh tidak-tidak Bu, kita senang Bu Mila seperti ini, kalau seperti ini dari dulu! pasti tambah asik saat pelajaran bareng Bu mila," jawab seorang siswa dikelas sebelum menatap teman-temanya, "benar kan teman-teman?" tambah siswa tadi meminta dukungan.
"Ya benar Bu,"
"Iya Bu,"
"Bu Mila memang guru idaman kita semua,"
"Ya Bu,"
"Benar Bu, saya suka Bu Mila yang seperti ini,"
Semua siswa di kelas menanggapi dengan pujian dan senyuman setelah mendengar nada lembut dari Mila.
"Baiklah, sekarang kalian kerjakan ulanganya," pinta Mila seraya berjalan ke arah semua siswa saat membawa beberapa kertas yang berisi ulangan matematika.
"Yahhhh, tetep ulangan juga," keluh seorang siswa kembali lemas saat Mila mendekat kearahnya.
"Tidak usah protes!" sahut Anisa dengan nada ketus dan tersenyum kecut.
Siswa tadi juga menanggapi Anisa dengan senyum kecut.
Mila sendiri sedikit terkekeh dengan siswa satu ini, dirinya selalu mengeluh perihal ulangan. Namun nilai ulanganya selalu bagus dan memuaskan.
Setelah Mila membagikan semua kertas, banyak siswa dan siswi langsung mengerjakan tugas masing-masing. Hanya Marvel yang saat sedikit bingung. Jelas Marvel bingung karena di kertasnya tidak ada soal sama sekali. Dalam artian Marvel menerima kertas kosong.
Drrttt.. drrttt...
Saat Marvel hendak memprotes, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Marvel pun dengan cepat mengeluarkan ponsel dari saku, untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
> Kamu tidak usah mengerjakan! nanti biar aku yang mengerjakan ulanganmu! kertas itu kamu isi terserah kamu saja, yang terpenting jangan sampai membuat temanmu curiga!" sekilas pesan dari Mila. Marvel sendiri begitu terkejut saat membaca pesan tersebut dan hanya membulatkan matanya kearah ponsel.
> Apa maksutnya ini? terus jika aku tidak mengerjakan ulangan? kapan aku pintarnya?" balas Marvel mengeluh.
> Kamu tetap akan pintar, aku sendiri yang akan membimbingmu saat dirumah, atau bisa dibilang aku akan memberikan les khusus untuk kamu, kalau untuk sekarang kamu ikuti saja permainanku, lagian kamu juga pasti sangat kesulitan mengerjakan ulangan itu, karena memang dari kemarin siang sampai semalaman, kamu tidak belajar kan?" jelas Mila panjang lebar.
Marvel kembali lemas saat membaca pesan dari Mila tentang les khusus. Bisa-bisa waktunya dirumah hanya akan di khususkan untuk belajar.
> Huh, ya deh, iya...." balas Marvel pasrah.
__ADS_1
'Hihihi dasar suami kecilku,' batin Mila sedikit terkekeh saat melihat bahwa Marvel sudah pasrah dibuatnya.