Guruku Adalah Istriku

Guruku Adalah Istriku
Bab 6 Saran Dari Mami


__ADS_3

"Vel," lirih Sinta.


"Iya Mi?" jawab Marvel ramah.


"Lalu bagaimana dengan Celsea?" tanya Sinta langsung setelah mengingat kedekatan Marvel dengan gadis bernama Celsea.


"Hemmmm, itu nanti bisa di pikirkan, yang terpeting sekarang adalah Bu Mila Mi," jawab Marvel dengan semangat saat membahas Mila kembali.


"Kamu jangan seperti itu, bagaimanapun Celsea juga perempuan seperti Mami, jangan pernah menyakiti hati perempuan, karena perempuan itu punya perasaan yang begitu dalam soal asmara, apalagi di masa-masa remaja seperti kalian," titah Sinta menjelaskan ke Marvel.


"Iya Mi, Marvel akan mencoba menjauh dari Celsea sedikit demi sedikit Mi," jawab Marvel patuh.


"Ya, tapi jangan sampai terlalu menyinggung perasaanya terlalu dalam, karena hati wanita sangat rapuh," ujar Sinta masih mengingatkan Marvel.


"Iya Mamiku sayang," jawab Marvel gemas, seraya mencium pipi Maminya.


"Yasudah Mi, Marvel mau ketemu Papi terlebih dahulu, untuk berterimakasih atas semua yang beliau berikan kepada Marvel selama ini, Papi selalu memanjakan Marvel, bahkan sebelum Marvel meminta, beliau selalu memberikanya, sungguh beliau sangat perhatian," tambah Marvel.


"Iya Vel, memang Papimu sangat perhatian padamu, juga pada Mamimu ini," ucap Sinta memuji Yustian, "Yasudah sana temui Papimu, sepertinya dia sedang di ruang makan, tadi Mami sekilas melihatnya disana," tambah Sinta mengusir Marvel.


"Iya Mi," jawab Marvel sebelum dengan santai meninggalkan Sinta dan langsung menuju ke ruang makan.


Sampai di ruang makan, Marvel langsung mendekat ke Papinya.


"Pi, terimakasih banyak atas kebaikanmu," ucap Marvel sebelum memeluk Papinya dari belakang, seperti anak manja yang merindukan orang tuanya.


"Hahaha, jadi kamu sudah memakai semuanya Vel? sekarang kamu bisa ketemu Mila, dan mobilmu sudah ada di depan rumah," ujar Yustian seraya ibu jarinya menunjuk keluar.


"Apa? apakah Papi benar-benar membelikanku mobil mewah Lamborghini?" tanya Marvel yang masih tak percaya dengan yang di dengarnya.


"Ya tentu saja, apapun untuk anak kesayangan Papi," jawab Yustian dengan nada sedikit sombong.


"Hahaha Papi bisa saja, baiklah kalau begitu Marvel akan lihat mobilnya ya Pi, sekalian mau pamit untuk bertemu dengan Bu Mila," ucap Marvel dengan sangat senang dan bahagia.


"Ya silahkan," jawab Yustian seraya tersenyum.


Setelah itu, Marvel berjabat tangan dengan Papinya dan mencium punggung tanganya, seperti anak yang sangat patuh pada orang tua.


Selesai berpamitan, Marvel langsung dengan cepat dan sedikit berlari pergi keluar rumah, untuk melihat kendaraanya yang super mewah tersebut.


Pintu rumah dibuka perlahan, dan terpampang jelas sudah ada mobil sport super mewah Lamborghini, dan mobil ini bukan hanya sekedar Lamborghini biasa, namun Lamborghini Reventon. Harga mobil tersebut sekitar 23,5 milyar rupiah, itu adalah harha yang fantastis jika hanya untuk sebuah mobil. Dengan warna hitam yang mengkilap, dan dapat memantulkan cahaya lampu di hari yang hampir gelap ini.


"Papi serius membelikanku Mobil super mewah ini?" seru Marvel yang masih tak percaya dengan yang dilihatnya, bahkan dia menepuk-nepuk pipinya beberapa kali. Marvel benar-benar takut, jika semua ini hanyalah sebuah mimpi belaka.


"Ternyata semua ini nyata, ini nyata!" teriak Marvel dengan pemuh semangat karena bahagia.

__ADS_1


Yustian hanya tersenyum dan menggeleng-nggelengkan kepalanya saat dia mendengar suara teriakan Marvel. Sinta sendiri hanya melihat dari jendela kamarnya yang ada di lantai atas.


"Marvel, Mami senang jika kamu juga senang," gumam Sinta pada dirinya sendiri.


Kembali ke Marvel, saat ini dirinya masih mengagumi mobilnya, Marvel memgelus perlahan bodi mobil super mewah tersebut, bahkan dia hampir menjilatinya karena merasa sangat terpana.


Racunnnn.... Racunnnn....


Racunnnn.... Racunnnn....


Wanita Racun dunia....


Karna dia, lupakan semua....


Saat Marvel sedang menikmati tiduran di kap mobil, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan itu panggilan telefon. Dengan cepat Marvel mengeluarkan ponsel dari sakunya sebelum dengan cepat membuka ponselnya, dia terkejut karena yang menelfon saat ini adalah Celsea.


"Celsea?" gumam Marvel pada dirinya sendiri.


Marvel teringat bahwa siang tadi Celsea sudah mengiriminya pesan dan mengajak bertemu, namun Marvel malah membalas pesan dari Mila, dan malah lupa jika Celsea mengiriminya pesan. Marvel benar-benar bingung saat ini, jika dia mengangkat telefon dari Celsea, dirinya tidak punya alasan yang tepat untuk membohongi Celsea. Karena memang Marvel tidak pernah berbohong pada Celsea.


"Apa yang harus kulakukan," gumam Marvel yang merasa bingung.


Setelah beberapa saat ponsel Marvel berhenti bergetar dan bersuara. Setelah jeda singkat, ponselnya berbunyi lagi dan masih Celsea yang menelfon.


"Bagaimana ini?" tanya Marvel pada diri sendiri.


'Baiklah aku akan mengangkatnya saja, lagian kasihan juga jika tidak di angkat,' batin Marvel memutuskan.


> Iya halo sayang," sapa Marvel langsung setelah mengangkat panggilan ponsel dari Celsea.


> Sayang! kamu darimana saja sih? tadi di WA cuma centang biru, di telfon juga lama banget angkatnya? tidak biasanya kamu seperti ini? kenapa kamu sangat berubah? jangan-jangan sudah ada wanita lain ya?" tanya Celsea dengan penuh selidik karena merasa ada yang aneh dengan kekasihnya tersebut.


> Maaf sayang, tadi aku mengerjakan tugas dari Papi, dan belum sempat membalas pesan dari kamu," jawab Marvel bohong. Akhirnya Marvel memutuskan untuk membuat alasan yang sama denganya saat beralasan pada Mila juga.


> Jangan bohong Vel? sejak kapan Papimu memberikan tugas seharian penuh?" tanya Celsea yang penuh curiga pada Marvel.


> Ya sejak hari ini sayang, oh iya memangnya ada apa kok mengajak ketemu?" jawab Marvel sebelum bertanya balik.


> Kenapa kamu malah bertanya seperti itu? jelas aku kangen lah, lagian kita sudah lama kan tidak jalan bareng? kamu aneh ihhh,." jawab Celsea dengan ketus, karena kesal dengan ucapan Marvel.


> Memangnya aku ini siapa kamu sih Vel? sampai-sampai pertanyaanmu seperti itu?" tambah Celsea bertanya balik.


> Bukan begitu, haduh... ya maaf deh jika sudah salah bicara," ucap Marvel dengan nada bersalah.


> Huh, yasudah iya ku maafin... jadi gimana Vel? bisakah kita bertemu sekarang? sekalian jalan bareng? aku yang jemput kamu deh,"

__ADS_1


> Maaf ya sayang, hari ini aku full sibuk menjalankan tugas yang Papi berikan, kita jalan besok saja setelah pulang sekolah, gimana menurutmu?" jelas Marvel.


> Apa??? memangnya tidak bisa ya Vel ijin ke Om Yustian sebentar agar kita bisa jalan bareng?" tanya Mila dengan nada memohon.


> Tidak bisa sayang, kamu kan tahu sendiri jika aku tidak pernah menentang perintah Papi, kamu ngertiin aku ya, besok kita jalan deh."


> Yasudah iya deh, tapi beneran besok kita jalan bareng ya Vel, jangan bohong! awas saja kalau bohong,"


> Iya sayang, yasudah aku lanjut kerjakan tugas dari Papi dulu ya, sampai nanti..."


> Iyaiya, kalau nanti ada waktu, kamu telfon aku ya Vel, biar ketemu dalam mimpi,"


> Iya sayang, Muach...


> Muach.... Bay sayang.. .


Setelah ucapan terakhir dari Celsea, akhirnya Marvel yang memutuskan panggilan tersebut secara sepihak. Karena jika tidak di putuskan, maka Celsea tidak akan pernah memutuskan panggilanya, itulah kebiasaanya. Bahkan sampai tertidur, Celsea tidak pernah mematikan panggilan jika sedang menelfon Marvel.


Ting....


Tepat setelah Marvel memutuskan panggilan, ada pesan masuk, dan yang membuat Marvel melebarkan matanya adalah bahwa saat ini yabg mengirimi pesan adalah Mila.


> Marvel, apakah bisa jadi bertemu malam ini?" tanya Mila dalam pesan tersebut.


> Ya tentu saja bisa, ini saya sudah siap Bu," jawab Marvel dengan secepat kilat.


> Baiklah, jadi sekarang mau ketemu dimana?" tanya Mila.


> Ya terserah anda saja Bu," jawab Marvel pasrah.


> Baiklah, kita bertemu di Reso Bambu Runcing, aku akan segera kesana, jadi kamu jangan membuatku menunggu terlalu lama," balas Mila dengan emoji memaksa.


> Baiklah, saya akan segera kesana juga," jawab Marvel.


Setelah menjawab pesan dari Mila, Marvel langsung mengeluarkan kunci mobil yang tadi di berikan Papinya, sebelum menekan tombol membuka kunci pada pintu mobil.


Berbunyi-berbunyi...


Empat lampu Lamborghini, yang tadi diam sekarang menyala.


Kemudian hampir seketika mesin hidup dengan gemuruh rendah.


Pintu-pintu tidak di klik dan terbuka keatas.


Mobil itu tampak bersinar sangat terang tubuhnya memancarkan kilau cahaya dari pantulan lampu di malam hari.

__ADS_1


Marvel meletakan kuncinya di tangan dan perlahan berjalan langsung ke arah pintu depan pengemudi dan langsung masuk kedalam mobilnya, sebelum langsung menutup pintu mobi.


"Sungguh menawan, segala yang ada di dalam mobil ini begitu canggih," ucap Marvel bersemangat.


__ADS_2