
"Ya, Stiv... makasih ya kamu sudah mau menemaniku malam ini," jawab gadis tadi sebelum kembali berbaring di sebelah Stiven. Gadis tadi tidak berhadapan dengan Stiven saat berbaring diranjang, melainkan memunggunginya.
"Pokoknya kamu tenang saja, kapanpun kamu butuh, aku akan selalu ada buatmu," ucap Stiven dengan percaya diri. Tentu Stiven harus percaya diri untuk meyakinkan gadis ini. Karena Stiven memang sudah mengincarnya sejak lama. Jadi yang bisa dilakukanya adalah meyakinkan gadis ini dengan rayuan-rayuan maut untuk mendapatkan hati juga tubuhnya.
Gadis tadi hanya bisa terharu mendengar ucapan Stiven yang percaya diri dan sedikit meyakinkan. Namun hatinya sangat jelas belum bisa menjadi milik Stiven. Karena jelas terlihat bahwa gadis ini masih memiliki seorang kekasih. Gadis ini bersedia dibawa Stiven ke hotel, hanya untuk pelampiasanya saja. Karena saat ini kekasihnya sudah beberapa kali tidak bisa dia temui.
Setelah gadis tadi berbaring di sampingnya Stiven sendiri memberanikan diri untuk memeluknya perlahan. Karena memang sudah jelas niat dari Stiven membawa gadis ini kehotel untuk berbuat apa. Namun perbuatan Stiven segera ditahan oleh tangan gadis itu.
"Tidak apa sayang, jangan ditahan ya, aku tidak akan sampai berbuat seperti itu, kita lakukan seperti biasanya ya, layaknya orang pacaran, aku sangat rindu, dan sangat mengingunkan melakukan layaknya orang pacaran sama kamu," pinta Stiven dengan nada sedikit memohon agar gadis tadi mau berciuman dan melakukan hubungan percintaan denganya.
Akibat dari permohonan Stiven, hati gadis tadi sedikit tersentuh dan luluh. Akhirnya gadis tadi membalikan badan dan sekarang berhadapan dengan Stiven.
"Terimakasih sayang," ucap Stiven dengan lembut saat membelai rambut gadis tadi.
Gadis tadi dengan tersenyum paksa juga menganggukan kepala, yang dalam artian dia siap melakukanya.
Stiven langsung saja dengan lembut mencium bibur gadis tadi, sampai gadis tadi hanya bisa menutup matanya menikmati seluruh perlakuan Stiven padanya.
Keduanya saling bermadu kasih saat ini, sampai beberapa saat. Saling beradu sentuhan, juga saling beradu saliva. Terlihat Stiven sangat menikmati permainanya, gadis tadi juga demikian. Hanya saja saat tangan Stiven hampir memegang bagian bawah gadis tadi, secara sepontan gadis tadi langsung menahan tangan Stiven.
"Maaf Stiv, aku belum siap untuk melakukan nya sampai hal semacam itu, apalagi kamu tahu sendiri kan, hatiku juga masih ada untuk dia," tolak gadis itu dengan beralasan, berharap Stiven bisa memahaminya. Jika tidak, mungkin gadis ini juga akan segera keluar dari kamar hotel dan meninggalkan Stiven selamanya.
Stiven sendiri hanya bisa menggertakan giginya karena tidak terima dengan penolakan saat ini, karena jelas nafsunya sudah sangat menggebu akibat permainan tadi. Namun apa daya, Stiven tidak bisa juga memaksa gadis ini. Karena jika sampai Stiven memaksanya, mungkin dirinya tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan untuk selamanya juga Stiven mungkin tidak akan bisa mendapatkan gadis ini juga.
"Yaya baiklah, kita cukup seperti ini saja, tapi kita ulangi sekali lagi yang seperti tadi ya!" pinta Stiven dengan sedikit nada kecewa, karena belum bisa mendapatkan kegadisan dari wanita ini. Walaupun kecewa, tetap dirinya harus sabar agar wanitanya tidak meninggalkanya.
"Iya tak apa kalau cuma seperti itu Stiv," jawab gadis tadi dengan senyuman paksa kembali.
Akhirnya Stiven dan gadis tadi mengulangi hal yang sama sampai beberapa kali. Juga sama seperti sebelumnya, saat Stiven hampir kebablasan, gadis tadi dengan cepat menolaknya dengan baik.
Malam ini akhirnya berakhir dengan kekecewaan di hati Stiven. Namun demikian dirinya tetap sedikit puas karena bisa bermalam dengan gadis pujaanya. Walaupun biasanya gadis ini selalu menolaknya, namun kali ini jelas gadis ini bersedia menemaninya. Entah apapun alasanya, tetap saja Stiven sedikit bangga dan senang karena telah berhasil menyentuh tubuh pujaanya. Walaupun belum semuanya tapi itu sudah cukup membuat hati Stiven sedikit puas.
__ADS_1
Gadis tadi sendiri, sebenarnya memang enggan untuk bertemu dengan lelakk seperti Stiven. Apalagi sampai bermalam di hotel bersamanya, sungguh tidak ingin sama sekali. Namun karena kekasihnya saat ini tidak dapat di temui, dia yang sedang haus akan belaian, akhirnya bersedia saja dibawa oleh Stiven kehotel. Gadis ini jelas rindu, dan haus oleh sentuhan kekasihnya karena gadis normal dan sedang dalam masa pubertas. Karena tidak dapat mendapatkan kepuasan dari kekasihnya, akhirnya gadis tadi hanya bisa menggunakan Stiven sebagai pelampiasan. Jelas sekali terlihat dari semua yang di lakukan gadis tadi bersama Stiven juga sangat terpaksa.
Pasangan yang bukan kekasih tadi akhirnya tertidur bersama dalam pelukan, setelah berkali-kali melakukan hal seperti tadi, walaupun keduanya tidak sampai kelewat batas.
****
Pagi keesokan harinya, sekitar pukul 5 pagi di Villa mewah tepatnya dibawah gunung yang masih sangat sejuk. Terlihat sepasang pengantin baru yang masih tertidur dengan pulas saling berpelukan. Keduanya sama seperti tadi malam, belum berpakaian sehelaipun.
Tok...Tok...Tok...
Terdengar ketukan dari pintu kamar Marvel, dan itu sedikit mengagetkanya. Marvel pun dengan perlahan membuka matanya yang masih terasa sangat berat. Ya kamar mewah ini adalah milik Marvel dan Mila.
Tok... Tok... Tok...
Karena belum ada jawaban, suara ketukan di ulang kembali dari luar.
"I...iya saya bangun," seru Marvel saat berucap, berharap orang diluar menghentikan ketukanya. Dan ternyata benar, setelah Marvel berucap, ketukan di pintu segera berhenti.
"Aku masih ngantuk," jawab Mila dengan lirih juga saat ini masih menutup matanya.
"Sayang, ayo bangun...! itu lihat, sekarang sudah jam 5, apakah kamu tidak akan mengajar hari ini?" ucap Marvel dengan sedikit menjelaskan.
Mila langsung terkejut setelah mendengar ucapan Marvel, dengan cepat membuka matanya, juga segera melepaskan pelukanya dari Marvel dan langsung duduk diatas ranjang. Mila langsung juga melotot kearah Marvel yang saat ini masih berbaring.
"Apa katamu? sudah jam 5 pagi?" tanya Mila sebelum mengalihkan pandangan kearah jam dinding di kamar tersebut. Betapa terkejutnya Mila, karena memang jam dinding sudah menunjukan jam 05.04 pagi.
"Iya, sudah jam..."
"Gawat-gawat-gawat... hari ini ada ulangan Vel, apakah kamu lupa jika hari ini ada ulangan? juga hari ini adalah hari senin, kita ada upacara, ayo buruan bangun," seru Mila memotong ucapan Marvel sebelum memerintahkan Marvel untuk bangun.
"Baiklah iya iya aku bangun," jawab Marvel dengan pasrah seraya tersenyum kecut, sebelum dirinya duduk juga seperti Mila saat ini.
__ADS_1
"Ayo buruan mandi sana!" titah Mila dengan tegas saat mendorong-dorong Marvel dengan kuat.
"Iya Bu Guru," jawab Marvel pasrah saat dirinya patuh dan turun dari ranjang. Betapa terkejutnya Mila saat melihat milik Marvel. Ya seperti biasa kaum lelaki pasti itunya terbangun saat bangun tidur. Tanpa sadar, akhirnya Mila dengan cepat menutup matanya karena sedikit malu saat pipinya juga memerah.
"Apaan sih pake tutup mata segala, kita ini suami istri," gumam Marvel seraya tersenyum kecut saat menggelengkan kepala.
"Sudah tidak usah banyak bicara, buruan mandi!" titah Mila dengan salah satu tanganya melambai saat mengusir Marvel, karena satu tanganya masih menutu kedua mata. Sepertinya Mila sendiri juga lupa, bahwa dirinya harus cepat-cepat mandi dan bersiap kesekolah. Kan Mila juga seorang guru di sekolah Marvel, jelas dirinya harus mandi dan bersiap juga.
"Iya deh iya," jawab Marvel dengan pasrah seraya berjalan dengan sedikit cepat kearah kamar mandi yang ada di kamarnya, karena malas juga jika sampai wanita ini tidak berhenti bicara. Jelas Marvel mengetahui hal itu, karena sudah lama juga di ajar oleh Mila. Dan sedikit banyak sudah mengetahui sifat Mila.
Marvel kembali terkejut saat dirinya masuk kamar mandi, karena kamar mandi saat ini begitu luas dan mewah. Bahkan lebih mirip seperti kamar mandi dalam hotel berbintang daripada kamar mandi di sebuah Villa. Namun demikian Marvel dengan segera menghidupkan Shower air panas dan mengisi bathup, untuknya berendam.
"Apa yang kulakukan? bagaimana aku malah diam disini menunggu Marvel mandi? bukankah aku seharusnya mandi dan bersiap-siap juga?" seru Mila pada dirinya sendiri setelah mengingat bahwa dirinya juga harus segera bersiap.
Akhirnya Mila dengan cepat melompat dari ranjang dan langsung berlari kearah kamar mandi.
Mila menggedor pintu kamar mandi beberapa kali, karena dirinya tak tahu bahwa Marvel sama sekali tidak menguncinya.
"Marvel! buka pintunya, cepat! aku juga harus mandi dan segera bersiap," seru Mila dari luar kamar mandi.
"Masuk saja! pintunya tidak kukunci!" jawab Marvel dengan nada heran. Ternyata guru yang di sayanginya bisa sampai seperti ini saat gugub karena dikejar waktu.
"Apa? uch..." seru Mila sedikit kesal setelah mendengar jawaban Marvel tadi, namun dirinya dengan cepat membuka pintu kamar mandi dan langsung masuk tanpa meminta persetujuan siapapun.
Bahkan Mila langsung berendam di bathup yang sedang diisi air panas oleh Marvel.
"Ini enak sekali," gumamnya dengan perasaan lega. Marvel hanya menatap istrinya dengan heran tanpa mengeluarkan suara.
"Apa yang kamu lakukan disitu! cepat ikut berendam disini! kita harus cepat-cepat kesekolah, jangan sampai terlambat!" titah Mila dengan suara yang sedikit menekan.
"Ah iya," jawab Marvel sebelum dengan perlahan masuk kedalam bathup dan berendam bersama Mila.
__ADS_1
Akibat dari sentuhan kulit keduanya saat berendam, akhirnya keduanya kembali tergoda dengan nafsu birahinya. Dan pada akhirnya pasangan ini mengulangi perbuatanya semalam dikamar mandi.