Guruku Adalah Istriku

Guruku Adalah Istriku
Bab 8


__ADS_3

Didalam Resto, Mila, Celsea, dan Anisa makan dengan lahabnya, dan tidak begitu peduli dengan keributan diluar. Karena mereka memang merasa bukan urusanya.


"Apakah tidak mau melihat keluar juga Cel?" tanya Anisa di sela suapanya.


"Ah untuk apa keluar, palingan gadis yang berebut pacar, dan akhirnya berkelahi," jawab Celsea dengan santai sebelum kembali menyuap makananya.


"Tumben kamu sesantai ini, biasanya kan kamu paling semangat jika ada perkelahian," sindir Anisa dengan setengah tertawa.


"Ya kan saat ini kita sedang makan dengan Bu Guru, masa mau lihatin begituan," bisik Celsea dengan suara pelan.


"Hehe iya aku lupa," ucap Anisa pelan juga.


Mereka mengira Mila tak mendengar bisik-bisik keduanya. Namun yang terjadi sebaliknya, Mila tahu yang di bicarakan keduanya, hanya saja dia diam dan melanjutkan makanya, karena memang Mila tidak suka jika ada perkelahian, apa lagi jika sampai yang berkelahi adalah muridnya sendiri. Juga Mila masih patuh dengan perintah orang tuanya, jika saat makan kita tidak boleh berbicara, atau nanti bisa tersedak. Karena tidak sedikit juga orang mati karena tersedak. Jadi jangan meremehkan hal ini.


Setelah beberapa saat ketiganya selesai makan, akhirnya Mila angkat bicara.


"Jadi kenapa kalian tidak ikut keluar?" tanya Mila pada keduanya.


"Hehe gak lah Bu, kita kan anak baik-baik gak suka gituan," jawab Anisa dengan percaya diri, seraya menjulurkan lidahnya.


"Uhuk uhuk..," tiba-tiba Celsea terbatuk mendengar ucapan Anisa.


"Hey kenapa kamu Cel? apakah kamu baik-baik saja?" tanya Anisa seraya mengelu punggung Celsea.


Bukan menjawab, Celsea malah meletakan punggung tanganya di dahi Anisa.


"Aku masih waras Cel," dengus Anisa melirik Celsea dengan senyum kecut.


"Aku tidak salah dengar kan? kamu anak baik-baik?" tanya Celsea dengan nada heran.


"Celsea!" bentak Anisa yang mendapat tawa dari Celsea.


"Semua anak-anak Ibu baik kok," sahut Mila memotong candaan keduanya.


"Ya benar Bu, apalagi anak Ibu yang satu ini," jawab Anisa dengan percaya diri saat menunjuk dirinya sendiri.


Celsea hanya bisa tertawa sampai perutnya sakit mendengar kepercayaan diri dari Anisa.


"Apaan sih Cel, jangan banyak tertawa entar kebablasan," canda Anisa seraya menjulurkan lidahnya.


"Aku,. aku tidak bisa berhenti tertawa jika mendengar kepercayaan dirimu yang kelewat batas," jawab Celsea di sela tawanya.


"Huuuuu.... kan kamu sendiri tahu, aku seperti apa dan bagaimana," ucap Anisa menjelaskan.


"Ya benar juga," jawab Celsea yang masih tertawa.


"Oh iya Cel, memangnya Marvel kemana sih? biasanya juga aku ditinggal saat kamu pergi denganya," tanya Anisa.


"Aku juga tidak tahu, mungkin di rumahnya... dia bilang sedang mengerjakan tugas dari Papinya," jawab Celsea pasrah.

__ADS_1


"Hemmm, apakah seperti itu?" tanya Anisa dengan menatap Celsea.


"Ya tentu saja seperti itu," jawab Celsea dengan santai.


"Apakah kamu tidak curiga Cel,?" tanya Anisa dengan selidik.


"Curiga apa Nis? tentu saja tidak ada yang perlu di curigai," jelas Celsea dengan santai.


"Yah, kan bisa saja Marvel pergi dengan wanita lain, kan biasanya cowok memang seperti itu," ucap Anisa mengompori Celsea.


"Ah tidak mungkin, Marvel bukan tipe cowok seperti itu, aku sudah sangat mengenalnya," elak Celsea membela Marvel.


"Ya siapa tau kan, lagian dulu juga Marvel pernah gonta-ganti pacar, sebelum bersama denganmu," ucap Anisa masih mengompori Celsea.


"Itu kan dulu, sekarang tidak!" jawab Celsea dengan yakin.


"Hemmm, kamu yakin sekali Cel? bagaimana jika seandainya sekarang pun Marvel masih sama? dan masih menemui wanita lain, atau bahkan pergi bermalam denganya," tanya Anisa dengan nada selidik.


"Aku akan memotong leher wanita yang berani pergi dengan Marvel!" jawab Celsea tegas.


"Uhuk, Uhuk..." Mila langsung tersedak minuman yang dia minum saat mendengar ketegasan Celsea.


"Bu, Bu Mila?" teriak Celsea dengan panik, Anisa juga ikutan panik saat dirinya mendekat dan mengelus pundak Mila.


"Apakah Bu Mila tidak apa?" tanya Celsea setelah Mila sedikit tenang.


"I,..iya tak apa kok," jawab Mila dengan terbata.


"Ya sudah, Bu Mila yang tenang ya, kita akan membantu jika Bu Mila tak enak badan," sahut Anisa yang juga merasa khawatir seandainya gurunya memang sedang sakit.


'bukan badanku yang tak enak, tapi hati dan perasaanku yang tak endak dengan Celsea, ya Tuhan, tolong bantu aku,' batin Mila.


"Aku tidak apa kok, kalian kan masih remaja sebaiknya pulang sekarang sudah malam, aku juga mau pulang," ucap Mila mencoba mengusir keduanya.


"Tapi apakah anda benar tidak apa-apa Bu?" tanya Anisa yang masih khawatir.


"Tidak apa, kaliam pulang dulu saja, tagihanya biar aku yang membayarnya," jawab Mila ramah.


"Apa? benarkah Bu? terimakasih Bu," ucap Anisa dengan senang tak ada rasa sungkan sedikitpun.


Berbeda sekali dengan Celsea yang hanya diam.


"Yasudah kita pulang dulu ya Bu, sampai ketemu besok," ucap Celsea berpamitan.


"Iya Bu, sampai besok, dan sering-sering saja kita di ajak makan," canda Anisa yang langsubg mendapat cubitan dari Celsea.


"Ahhhh, sakit...."


Kedua remaja itu akhirnya langsung berpamitan dengan menjabat tangan Mila dan mencium punggung tanganya.

__ADS_1


Kembali ke Marvel, saat ini dirinya sedang bingung dengan perkelahian kedua wanita ini, dirinya ingin melerai namun bingung bagaimana caranya.


"Sudah-sudah, apakah kalian memang suka berkelahi!" pinta Marvel setalah dirinya keluar dari mobil.


"Waow, ternyata masih muda dan sangat tampan!" teriak salah satu gadis saat melihah Marvel.


"Benar-benar tampan, dan keren sekali!" sahut gadis lainya.


Bahkan kedua gadis yang saat ini sedang bertarung pun juga berhenti dan memalingkan wajahnya ke arah Marvel. Keduanya juga terpana menatap ketampanan Marvel, juga pakaian yang di kenakanya begitu mewah.


"Ya Tuhan, kamu sangat tampan!"


"Siapa namamu tampan?"


"Ayo kita pergi tampan, aku rela melakukan apapun untukumu," semakin banyak gadis yagg sekarang memuji Marvel dengan menjilatnya juga. Seolah mereka telah bertemu dengan pangeranya, dan mereka tidak ingin melewatkan ini.


'Ya Tuhan.... bagaimana caranya aku pergi dari semua gadis-gadis ini,' batin Marvel bingung. Jika pria lain mungkin akan membawa semua gadis ini bersamanya, namun Marvel tidak... jelas dia sudah jatuh cinta pada gurunya dan juga punya kekasih yang bernama Celsea. Tidak mungkin dia menambah gadis lagi.


Sekarang bahkan ada beberapa gadis yang dengan percaya diri memegang tangan Marvel. Seolah tidak ingin kehilanganya.


Merasakan ada tangan lembut yang memegang tanganya, tubuh Marvel begidik dan bergetar. Semakin lama semakin ramai di tempat itu, dan yang meramaikan adalah gadi-gadis remaja.


Tidak tahu harus berbuat apa, Marvel langsung berlari kearah belakang Resto, Marvel berencana masuk dari pintu belakang saja, karena jika lewat pintu depan semua gadis mungkin akan mengejarnya.


"Hey tampan tunggu!"


"Aku ikut denganmu tampan!"


"Aku belum tahu namamu tampan!"


"Berikan aku nomor ponselmu tampan!"


"Setidaknya biarkanlah aku berfoto denganmu tampan!"


Setelah Marvel berlari, kembali terdengar teriakan-teriakan beberapa gadis remaja yang tadi sempat mengelilingi Marvel.


Bahkan ada beberapa gadis yang mencoba mengejar Marvel juga.


Tepat saat Marvel berlari, Celsea dan Anisa juga keluar dari Resto, namun sayangnya Marvel lewat pintu belakang dan Celsea lewat pintu depan.


"Hey, siapa yang berlari di kejar gadis-gadis itu, nampaknya sangat familiar?" ucap Anisa seraya ibu jarinya mengacung kearah Marvel.


"Kamu ini semua terasa familiar, sudah lah ayo kita pergi saja dari sini!" jawab Celsea santai, bahkan tanpa menoleh kearah yang di tunjukan Anisa.


"Ihhhh kamu ini, bentar napa? lagian aku penasaran, kenapa juga para gadis ini mengejar lelaki tadi, pasti ada yang tidak beres," ucap Anisa yang penasaran, "Jangan-jangan....." ucapan Anisa terhenti sebentar sebelum melanjutkan, "jangan-jangan pria tadi telah menghamili semua gadis ini, mangkanya di kejar-kejar,"


"Apa???? kalau bicara jangan sembarangan, nanti kamu kena pasal baru tau rasa," seru Anisa dengan kaget saat mendengar ucapan Anisa yang semakin ngaco.


"Lah kan aku hanya menebak, siapa tahu memang begitu,..." canda Anisa dengan menunjukan giginya yang rata sebelum menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Ayo, kita tanya saja ke mereka!" tambah Anisa seraya memegang tangan Celsea dan menariknya, tanpa meminta persetujuan Celsea.


"Apakah kamu gila?" pekik Celsea, namun dirinya tetap pasrah di seret oleh Anisa.


__ADS_2