Guruku Adalah Istriku

Guruku Adalah Istriku
Bab 37


__ADS_3

Kembali kerumah Yustian beberapa menit yang lalu. Tepatnya saat Bisma dan Melani keluar dari rumah Yustian.


"Mobil siapa ini Yus?" tanya Bhisma pada Yustian dengan nada terkejut. Saat melihat mobil semewah ini ada di depan rumah Yustian, karena dirinya memang belum pernah melihat temanya ini mengendarai atau bahkan memiliki mobil mewah. Apalagi mobil di depanya kali ini, benar-benar maobil sport mewah yang harganya sangat tinggi.


"Bukankah ini Lamborghini?" tambah Melani juga ikut menimpali.


"Itu mobil kita Yah," jawab Mila dengan santai saat menyahut, bahkan sebelum Yustian sempat menjawabnya. Mendengar jawaban dari Mila, Bisma dan Melani membulatkan matanya seolah tak percaya.


"Mila! jangan bohong kamu!" ucap Melani dengan nada tak percaya saat mengalihkan pandangan kearah putrinya.


"Ya Mila, jangan bercanda dengan kami!" tambah Bhisma menimpali.


"Mila benar Yah, itu mobil kita... Papi yang memberikanya pada kami atas hadiah pernikahan kami, atau lebih tepatnya saat Marvel menerima perjodohan ini," sahut Marvel yang ikut menjelaskan.


"Apa?" ucap Bisma dengan sedikit meninggikan suaranya, sebelum mengalihkan pandangan kearah Yustian dan membulatkan mata kearahnya, "Apakah itu benar Yus?" tambah Bhisma bertanya langsung pada Yustian untuk sekedar memastikan.


"Hehe bagaiamana ya menceritakanya.. tapi yang di katakan anak kita semuanya benar," jawab Yustian dengan sedikit malu saat menggaruk kepalanya yang tidak gatal juga memamerkan giginya.


"Tunggu sebentar," ucap Melani sebelum berjalan mendekat kearah mobil dan menatap lekat-lekat pada mobil tersebut, "Bukankah mobil ini ada di resto semalam? ya aku melihatnya semalam.... jadi ini mobil milikmu Marvel?" tambah Melani menjelaskan seraya bertanya, untuk sekedar memastikan.


"Hehe, ya semuanya memang benar, Bunda," jawab Marvel dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal juga memamerkan giginya.


"Yustian! apa maksutmu memberikan mobil semewah ini pada anakmu?" tanya Bisma merasa sedikit heran dengan Yustian.


"Hehe Bisma,.... kamu seperti tidak mengenalku saja," kekeh Yustian menanggapi pertanyaan Bisma.


"Kamu ini selalu saja memanjakan anakmu," sahut Melani dengan tersenyum kecut.


"Hehe, tidak apa lah jeng, lagian Mas Yustian bekerja keras juga untuk membahagiakan anak dan istrinya," sahut Sinta ikut menanggapi.


"Kalian ini, uhh..." ucap Melani masih tersenyum kecut saat mengalihkan pandangan kearah Mila, "Mila, kamu benar-benar beruntung bisa menikah dengan anak Yustian, karena dirinya selalu memanjakan anaknya," tambah Melani menjelaskan.

__ADS_1


"Kamu memang gila Yus, tapi ini lebih gila daripada biasanya, bukankah mobil ini seharusnya 10 kali lebih mahal daripada Vila yang kita berikan pada anak kita?" sahut Bisma dengan tersenyum kecut, karena masih merasa heran dengan Yustian yang kelewatan saat memanjakan putranya.


"Hehehe bukan masalah itu, yang terpenting saat ini anak kita bahagia kan Bis?," jawab Yustian sebelum balik bertanya.


"Tunggu dulu! atau jangan-jangan kamu juga memberikan Vila yang jauh lebih mahal lagi dari yang kita bicarakan sebelumnya?" tanya Bisma dengan selidik, dirinya sedikit curiga setelah mendengar ucapan Yustian barusan, yang seolah tidak begitu peduli soal uang. Yang terpenting kebahagiaan anaknya adalah hal yang utama.


"Hehe duhhhh.... bagaimana mulai ceritanya ya...., sudah lah Bis, yang terpenting anak-anak kita bisa bahagia, kurasa itu saja cukup," jawab Yustian, masih mencoba menutupi sesuatu dari Bisma.


"Hemmm, apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" tanya Mila yang sedikit belum mengerti.


"Mila, bolehkan Ayah melihat Vila yang kamu tinggali saat ini?" tanya Bisma pada putrinya, karena percuma saja dirinya bicara pada Yustian. Terlihat Yustian akan terus merahasiakan masalah ini. Mungkin rasa tak enak hati Yustian, jika Bisma mengetahuinya dan malah bisa menyinggungnya. Itulah alasan Yustian tetap merahasiakan hal ini tentunya.


"Hemmm, memangnya kenapa sih Yah?" jawab Mila bertanya kembali karena benar-benar tidak mengerti.


"Baiklah, aku akan jujur padamu Mila, sebenarnya Vila yang seharusnya kamu tinggali adalah sebuah Vila yang harganya sekitar 2,5 milyar, itupun Ayah membayarnya separuh, dan separuh lagi di bayarkan oleh Yustian, namun Ayah curiga bahwa Yustian telah mengganti Vila tersebut dengan Vila yang mungkin jauh lebih mahal dari yang kita sepakati sebelumnya," jawab Bisma saat menjelaskanya dengan sedikit rinci.


"Sudah-sudah..., tidak usah dijawab Mila, biarkan Papi yang menjawab dengan berterus terang saat ini," sahut Yustian memotong pembicaraan Mila dan Bisma, "Bisma, maafkan aku.... aku memang membeli sebuah Vila yang jauh lebih mahal, harganya 89 milyar rupiah, Vila itu juga di vasilitasi dengan beberapa pelayan dan pengawal pribadi yang terlatih untuk Marvel dan Mila, tidak ada maksutku untuk merahasiakan semua ini, hanya saja kurasa belum saatnya untuk membicarakan hal ini, lagian anak-anak kita juga baru saja resmi menjadi suami istri, jadi rencananya aku akan membicarakan semua ini padamu paling tidak setengah bulan lagi, agar kamu tidak begitu terkejut... namun jika sekarang sudah mengetahuinya kurasa tidak apa lah," tambah Yustian menjelaskan. Mendengar penjelasan Yustian, Bisma hanya bisa membulatkan matanya karena benar-benar terkejut.


"Hehe maaf ya," ucap Yustian dengan merasa bersalah. Dirinya merasa bersalah karena tidak meminta ijin terlebih dahulu pada Bisma. Namun begitu, jika dirinya meminta ijin, sudah sangat di pastikan bahwa Bisma akan menolak ide gila ini. Mangkanya Yustian sengaja merahasiakan hal ini dari Bisma. Namun ternyata rahasianya bisa terbongkar semudah ini. Kareba Bisma tetap bisa menebak rahasianya, lagian Marvel sendiri kesini menggunakan Lamborghini Reventonya, siapapun pasti akan curiga dengan hal ini dan bisa menebak berbagai hal yang mungkin terjadi.


"Kamu ini...," ucapan Bisma berhenti, namun dalam pikiranya, Bisma benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Yustian.


"Sudahlah, sudah.... untuk apa membahas masalah yang tidak penting seperti ini, bukankah yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan putra putri kita," sahut Sinta menanggapi dengan tenang. Tentu saja Sinta tenang, karena dirinya juga sudah mengetahui semua tentang hal ini. Sinta tidak merasa keberatan sama sekali saat Yustian meminta ijin untuk mengeluarkan uang yang begitu banyak, karena itu untuk kebahagiaan Marvel, putra kesayangan Sinta.


"Terdengar dari nada bicaramu, sepertinya kamu sudah mengetahuinya ya jeng?" sahut Melani bertanya, untuk memastikan.


"Hehe, ya begitulah jeng," jawab Sinta menjeda ucapanya sebentar sebelum melanjutkan, "Tidak ada niat dari kami untuk berbohong pada kalian, hanya saja kami berasa belum saatnya saja untuk membicarakan hal ini, lagipula apapun yang kami lakukan, asal itu untuk kebahagiaan Marvel dan Mila, tentu tidak akan jadi masalah bukan?" tambah Sinta menjelaskan.


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian berdua," sahut Bisma dengan menggelengkan kepala.


"Hehe santai saja lah Bis," ucap Yustian mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Ya aku santai, tapi... kamu benar-benar gila seperti biasanya," jelas Bisma yang sudah sedikit lebih tenang.


"Heeee tak apa lah Bis," ucap Yustian dengan mengangkat kedua alisnya.


"Aku mau tanya padamu Yus? bukankah Mila dan Marvel sudah mendapatkan harta yang begitu melimpah dari kamu, kenapa juga kamu masih memperbolehkan Mila untuk bekerja dengan menjadi seorang guru. Padahal gaji sama sama sekali tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan harta yang kamu berikan untuk mereka," tanya Bisma dengan sedikit penasaran.


"Soal itu.... kamu bisa tanyakan sendiri pada Marvel," jawab Yustian.


"Hemmm? kok aku Pi?" tanya Marvel dengan sedikit bingung.


"Ya, jelaskan saja alasan kamu meminta bersekolah di SMA Harapan, dan meminta bantuanku agar Mila yang menjadi wali murid di kelasmu!" jawab Yustian menjelaskan.


"Hehe soal itu...." ucap Marvel dengan sedikit malu-malu.


"Kenapa memangnya Vel?" tanya Bisma saat mengalihkan pandangan kearah Marvel.


"Sebenarnya begini Yah, Marvel meminta melanjutkan sekolah di SMA Harapan itu karena Marvel pernah melihat Bu Mila mengajar disana, terus terang saja, saat itu Marvel sudah punya perasaan pada Bu Mila, bahkan sejak pertama kali bertemu,. ya tentu saja karena ada seorang guru yang ku taksir disana, jadi Marvel meminta bantuan pada Papi, dan papi menyetujuinya, namun sepertinya, dulu juga Papi belum mengetahui jika Bu Mila yang saya taksir adalah putri dari Ayah mertuaku saat ini," jawab Marvel menjelaskan panjang lebar, agar tidak ada yang merasa terbohongi lagi.


"Apa??? apakah benar Yus?" seru Bisma sebelum bertanya pada Yustian.


"Ya begitulah," jawab Yustian membenarkan. "Nah demi untuk menjadi penyemangat belajar Marvel disekolah, jadi aku tetap membiarkan Mila mengajar disana," tambah Yustian menjelaskan.


"Kalian ini, anak dan orang tua sama saja," ucap Bisma dengan heran dan tidak mengerti dengan jalan pikiran Yustian dan Marvel.


"Jika benar seperti itu, kenapa kamu tidak pernah menceritakanya padaku?" tambah Bisma bertanya.


"Ya hehe tak enak lah Bis, yang terpenting sekarang bukan masalah itu, namun kebahagiaan anak-anak kita," jawab Yustian mengulangi kata-katanya.


Bisma benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran orang tua dan anak ini.


Bisma sendiri selalu melarang dan mengatur segala urusan Mila agar Mila selalu patuh padanya. Nah Yustian dan Marvel malah saling bekerja sama, seperti Yustian yang malah mematuhi permintaan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2