Guruku Adalah Istriku

Guruku Adalah Istriku
Bab 41


__ADS_3

Tak berselang lama, akhirnya ketiga orang tadi sampai di depan pintu ruangan yang di sebut sebagai ruang kerja di Vila ini.


"Ini ruang kerja anda Nona Muda," ucap pelayan dengan sedikit menjelaskan.


"Oh begitu, jadi semua barangku ada didalam? kalau begitu tolong buka pintunya!" titah Mila.


"Baik Nona Muda," jawab pelayan tadi, sebelum mengeluarkan sebuah kunci, dan perlahan membuka pintu ruangan tersebut.


"Silahkan masuk Nona!" ucap pelayan mempersilahkan Mila terlebih dahulu yang masuk keruangan.


"Oh iya, terimakasih," jawab Mila dengan anggukan.


Setelah itu, Mila perlahan masuk kedalam ruangan yang disebut sebagai ruang kerja tersebut, diikuti oleh Marvel dan pelayan dibelakangnya. Betapa terkejutnya Mila setelah dirinya berada di dalam ruang kerja.


Ruangan ini begitu besar, rapi dan di fasilitasi dengan komputer yang cukup besar. Juga terlihat ada kamar mandi di dalam, ada sofa, juga ada tempat tidur.


"A...apakah ini yang kamu sebut ruang kerja?" tanya Mila dengan gagab setelah dirinya sedikit berjalan kedalam lagi dan melihat-lihat semua yang ada di dalam.


"Tentu saja, ini Nona," jawab pelayan dengan anggukan.


"Benar-benar ya, kalau seperti ini lebih tepat di sebut ruang kantor untuk seorang pengusaha besar, daripada hanya disebut sebagai ruang kerja seorang guru SMA," ucap Mila dengan masih mengagumi ruangan tersebut. Marvel sendiri hanya bisa menelan salivanya, karena dirinya juga terkejut dan mengagumi ruangan tersebut.


Namun demikian, dirinya juga mengingat alasan untuk apa dirinya dan Mila pergi ke ruang kerja ini.


"Sayang... sebaiknya sekarang kamu cari jawaban ulangan tadi dan segera koreksi, atau kamu bisa lupa lagi entar jika kelamaan," jelas Marvel saat mengingatkan. Karena dirinya menduga bahwa Mila akan melupakan hal itu lagi jika tidak di ingatkan.


"Hahaha iya Vel, benar juga yang kamu katakan.... hampir saja aku lupa Vel," jawab Mila dengan langsung menepuk jidatnya.


"Tuhkan benar dugaan aku, kamu ini pelupa banget ya..." ucap Marvel menyindir.


"Hemmm? ini semua juga gara-gara kamu kok Vel, kamu yang membuat aku jadi pelupa," jawab Mila yang tidak mau di salahkan.


"Loh loh , bagaimana bisa gara'gara aku?" tanya Marvel yang tak terima.

__ADS_1


"Ya kamu kan tadi sore ngajakin aku gituan di kamar, jadi aku kelupaan deh," jawab Mila dengan menjulurkan lidahnya sedikit kearah Marvel.


"Loh kenapa aku yang disalahkan? kamunya aja mau kok di ajak gituan!" ucap Marvel tak mau kalah.


"Emmmm, maaf Nona mengganggu," sahut pelayan memotong pembicaraan.


"Ah... haha iya iya... maaf aku lupa jika ada kamu disini , hehe," ucap Mila dengan sedikit tawa sebelum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada apa lagi memangnya?" tanya Marvel menyahut.


"Begini Tuan Muda, untuk jawaban yang sedang anda berdua bicarakan, sepertinya sudah di koreksi tadi sore oleh kami, dan semoga semuanya tidak ada yang keliru," jelas pelayan dengan menundukan kepala karena merasa tak enak hati. Telah bertindak tanpa diperintahkan, atapun meminta persetujuan terlebih dahulu. Walaupun yang mereka melakukan itu dengan maksut baik, untuk membantu majikanya. Tetap saja mereka bersalah karena tidak meminta persetujuan terlebih dahulu.


"Apa? apakah kamu serius?" tanya Mila dengan nada terkejut.


"Emmm, benar sekali Nona Muda, mohon maafkan kami yang sudah begitu lancang," jawab pelayan dengan nada bersalah. "Akan tetapi..... hanya jawaban milik Tuan Muda yang tidak kami koreksi karena memang tidak ada," tambah pelayan dengan masih menundukan kepala karena benar-benar merasa bersalah


"Astaga.... hahahahaha," ucap Mila sebelum tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa malah tertawa, obatnya sudah habis ya?" tanya Marvel dengan nada meledek. Akibat dari ledekanya tersebut, Marvel langsung mendapatkan cubitan yang begitu keras dari Mila.


"Sakit kan Vel! salah sendiri berani hina aku!" ucap Mila sebelum menjulurkan lidahnya kearah Marvel.


"Uhhh dasar istri galak....., itu salahmu sendiri, tertawa kok seperti tidak ada hari esok saja," jawab Marvel dengan masih meringis, saat tangan nya mengelus bagian yang di cubit Mila tadi.


"Biarin yang penting kan aku cantik," jawab Mila yang tak mau kalah, sebelum kembali menjulurkan lidahnya.


"Jadi apakah semua benar-benar sudah di koreksi?" tanya Mila setelah mengalihkan pandangan ke pelayan tadi.


"Sudah Nona Muda, semua kertas jawaban juga sudah kami tata dengan rapi di dalam laci meja ini," jawab pelayan sebelum langsung membuka laci dan mengeluarkan sejumlah kertas dan langsung memberikanya pada Mila.


"Oh baiklah terimakasih," jawab Mila dengan senyuman, sebelum langsung menerima semua kertas tersebut. Pelayan akhirnya bisa bernafas lega, setelah mendengar "terimakasih" dari Mila.


Karena sebelum ini, dirinya mengira akan disalahkan. Karena bertindak tanpa mendapatkan perintah ataupun meminta persetujuan terlebih dahulu. Namun sepertinya sekarang Mila tidak menyalahkanya sama sekali. Itulah alasan pelayan tersebut bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Kami hanya berani mengoreksinya, tapi tidak berani memberikan nilai, karena kami bukan seorang guru Nona," ucap pelayan mencoba menjelaskan.


"Oh tidak apa, terimakasih telah membantuku," jawab Mila dengan masih menatap beberapa kertas tadi. Sekarang Mila juga sudah duduk di kursi depan meja komputernya.


"Aku boleh tanya sesuatu ke kamu?" ucap Mila meminta persetujuan.


"Ya boleh Nona, silahkan di tanyakan saja yang ingin anda tanyakan," jawab pelayan setuju.


"Kenapa kamu hanya bekerja menjadi seorang pelayan? padahal aku yakin, kalian yang ada disini semua sarjana bukan? karena bisa mengoreksi dengan benar, semua jawaban ulangan ini," tanya Mila yang memang penasaran.


"Emmm, soal itu.... mungkin karena kami lebih pantas menjadi seorang pelayan, dari pada yang lainya, lagipula untuk menjadi pelayan di tempat seperti ini, kami memang di tuntut untuk berpendidikan tinggi, serta mempunyai kedisiplinan yang luar biasa, karena melayani orang-orang berkelas itu tidaklah mudah Nona," jawab pelayan saat menjelaskan.


"Oh seperti itu, hemmmmm., lalu bagaimana kalian bisa mengoreksi jawaban ini? bukankah kalian tidak mengetahui soalnya?" tanya Mila yang masih penasaran.


"Soal itu, emmmmm... maafkan kami yang telah lancang Nona, tadi kami mencari soalnya di laptop anda," jawab pelayan kembali menundukan kepala karena takut akan kena marah. Pelayan juga merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Tentu pelayan ini sangat khawatir dan takut akan disalahkan, ya walaupun dirinya memang benar-benar salah saat ini. Namun dirinya tetap merasa takut


"Kalian berani membuka laptopku?" tanya Mila dengan mengerutkan dahi.


"Maafkan kami Nona," ucap pelayan dengan nada bersalah.


Mila sendiri hanya bisa melirik tajam pada pelayan saat mengertakan giginya. Karena memang Mila tidak menyangka bahwa seorang pelayan akan berani membuka laptopnya. Bagaimana jika didalam laptop Mila ada sebuah rahasia dan dibuka oleh pelayan.


"Sudahlah sayang, kamu tenang ya!" pinta Marvel saat mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sedang kesal tersebutm. Mila sendiri hanya diam dan mengambil nafas beberapa kali, untuk sekedar menenangkan diri.


"Maaf Nona, maafkan kami.... kami tidak bermaksut apa-apa... kami hanya ingin membantu anda, tidak lebih dari itu," ucap pelayan dengan nada semakin merasa bersalah karena tidak mendengar suara dari Mila.


"Kami janji, tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi Nona, mohon maafkan kami," tambah pelayan mencoba meyakinkan, saat dirinya langsung terjatuh dan menyatukan kedua telapak tanganya.


"Sebelumnya... aku memang berterimakasih dengan yang kalian lakukan, tapi aku tidak habis pikir, berani-beraninya kalian membuka laptopku..." ucap Mila dengan sedikit menggelengkan kepalanya, "Seandainya majikan kalian bukan aku, bisa-bisa kalian semua akan di jebloskan kepenjara, karena berani membuka privasi orang lain dan itu adalah privasi majikan kalian sendiri....," Tambah Mila sebelum bernafas dengan cepat untuk mencoba tetap tenang, "kalian semua benar-benar sangat beruntung, karena aku atasan kalian dan aku bukanlah tipe orang seperti itu.... Namun kaliam jangan merasa senang terlebih dahulu! karena aku tetap akan memberikan peringatan tegas terhadap kalian! jangan pernah untuk mengulangi atau mencoba hal gila seperti ini lagi!" tambah Mila dengan tegas.


"Ba...baik Nona, maafkan kami," jawab pelayan dengan perasaan lega, namun dirinya juga merasa bersalah saat menyakahkan diri sendiri.


"Ya," hanya itu yang keluar dari mulut Mila, dirinya masih merasa kesal dengan tingkah pelayan ini yang sangat berani.

__ADS_1


"Sudah, sekarang kamu boleh keluar...biar aku yang menenangkan istriku!" titah Marvel pada pelayan. Sebenarnya Marvel merasa kasihan juga pada pelayan tersebut. Padahal jelas niat pelayan sangat baik karena ingin membantu majikanya. Hanya saja dirinya juga tidak menyangka, jika seorang pelayan benar-benar berani membuka laptop majikanya bahkan tanpa di minta, ataupun meminta persetujuan terlebih dahulu.


__ADS_2