
Ditempat lain, di sebuah hotel yang lumayan berkelas di kota ini. Ya di sebut lumayan berkelas, karena masih ada hotel yang jauh lebih mewah dari hotel ini.
Di hotel tersebut, saat ini bedatangan beberapa tamu undangan dari beberapa orang pembisnis di kota ini. Banyak dari tamu undangan ini datang ke lokasi bersama dengan keluarganya.
"Stiven? dimana gadis yang kamu bilang akan di kenalkan pada kita," tanya seorang pria paruh baya pada putranya saat mereka berada di dalam sebuah kamar hotel tersebut. Tentu saja Stiven ini adalah Stiven yang pernah tidur dengan Celsea. Juga yang ber ulang tahun hari ini adalah Stiven sendiri.
"Sepertinya dia tidak datang Ayah, mungkin sedang sibuk dengan sesuatu hal, atau apa... aku sendiri juga kurang tahu," jawab Stiven beralasan, karena merasa sedikit malu. Tentu saja malu, karena sebelum ini, Stiven sudah berjanji dengan ayahnya untuk memperkenalkan seorang gadis cantik pada ayahnya. Namun sayang sekali, gadis tersebut malah tidak membalas pesan yang Stiven kirimkan padanya.
"Hemmmm jadi begitu?, ya baiklah.... jadi sudah dipastiakan jika malam ini gadis itu tidak datang kan?" tanya Ayah Stiven memastikan, ada sedikit nada kecewa dalam suaranya.
Mendengar nada kecewa dari ayahnya, tentu membuat Stiven merasa tak enak hati. Namun apa daya, memang Celsea tidak membalas pesanya sama sekali.
"Sepertinya begitu Yah," jawab Stiven dengan merasa bersalah, karena telah mengecewakan ayahnya. Ya karena hari ini adalah ulang tahun Stiven yang ke 25 dan itu juga janji Stiven untuk membawa seorang gadis yang di cintainya di acara ulang tahun ini.
"Untuk saat ini kesanpingkan dulu masalah gadismu itu! Yang terpenting saat ini, kita harus cepat keluar! karena Ayah akan memperkenalkanmu dengan seseorang nanti, semoga saja beliau sudah tiba," titah Ayah Stiven seraya menjelaskan.
"Iya Yah," jawab Stiven dengan pasrah.
'Kemana saja sih kamu Cel?' batin Stiven sedikit kesal saat menatap ponselnya. Bukan hanya Celsea tidak menjawab pesanya, namun jelas pesan Stiven hanya centang satu. Dalam artian, Celsea tidak mengaktifkan datanya. Atau bisa saja nomor Stiven sudah di blokir oleh Celsea.
Akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi, Stiven keluar kamar bersama dengan Ayahnya. Tepat saat Stiven sedang keluar dari kamar bersana Ayahnya. Marvel dan rombongan juga telah tiba di halaman depan hotel tersebut. Rombongan ini mengenakan 3 mobil dan berjalan perlahan ketempat parkir hotel tersebut. Rombongan 3 mobil ini hanya di tumpangi dua orang saja per mobilnya, dan itu berpasang-pasangan antara suami dan istri.
Mobil Marvel ada di paling depan saat berjalan perlahan di halaman hotel menuju ketempat pakir. Banyak sekali tatapan kagum dan juga iri saat melihat mobil Lamborghini Marvel perlahan menuju ke tempat parkir di halaman depan hotel.
"Tidak disangka, jika Tuan Vransisco benar-benar memiliki seseorang yang kuat untuk mendukung bisnisnya," gumam seseorang yang masih berada di luar hotel, saat melihat mobil Lamborghini Marvel. Vransisco adalah ayah dari Stiven.
__ADS_1
"Ya, aku sendiri baru melihat ada mobil semewah itu di Kota ini," tambah orang lain mengagumi.
"Kita tidak akan menyesal telah mendatangi undangan dari Tuan Vransisco, karena kita bisa saja berkenalan dengan orang yang begitu kuat," sahut orang lain lagi.
"Sepertinya begitu, tapi apakah kita bisa berkenalan dengan orang yang begitu kuat?" tanya seseorang lain lagi.
"Kurasa sangat sulit untuk berkenalan dengan orang seperti itu, hanya saja paling tidak kita bisa sedikit mengetahui orang seperti apa yang memiliki mobil semewah itu," jelas seseorang yang lain lagi.
"Ya kamu benar," jawab orang lain dengan anggukan.
"Benar sekali yang kamu katakan," jawab yang lain lagi membenarkan.
"Aku sampai tidak sabar untuk melihat pemilik mobil itu," ucap seseorang dengan penasaran.
"Kenapa pemiliknya tidak keluar-keluar ya, aku sudah tidak sabar...." tambah orang lain yang lebih penasaran.
Tepat saat ini juga, Vransisco dan Stiven telah tiba juga di sebuah manor besar di dalam hotel.
Vransisco sedikit terkejut saat tiba disana, karena sangat sedikit orang yang tiba di dalam manor. Padahal dirinya sudah mengundang banyak sekali pembisnis dan pengusaha di kota ini.
Untuk memastikan apa yang terjadi dengan semua ini, Vransisco akhirnya mendekat ke seseorang disana.
"Ada apa ini? kenapa masih sedikit orang yang datang kedalam manor hotel ini?" tanya Vransisco pada seseorang yang terlihat seperti pelayan di hotel tersebut.
"Ah Tuan Vransisco," sapa pelayan tadi sebelum sedikit menundukan kepala, untuk swkwdar sopan santun kepada orang sekelas Vransisco, "sebenarnya tadi sudah banyak yang datang dan masuk kedalam manor Tuan, hanya saja sepertinya ada sesuatu di luar, dan itu membuat semua orang kembali keluar," tambah pelayan tadi dengan sedikit menjelaskan.
__ADS_1
"Apa? ada sesuatu apa?" tanya Vransisco yang memang penasaran.
"Saya, kurang tahu Tuan," jawab pelayan tadi dengan sopan.
"Sudah Ayah, mendingan kita keluar saja dan melihatnya sendiri!" sahut Stiven menanggapi.
"Ya kamu benar Stiv, ayo kita keluar!" jawab Vransisco sebelum mengajak Stiven keluar.
Akhirnya ayah dan anak ini keluar dari hotel berdua, karena memang penasaran dengan yang sedang terjadi di luar hotel. Untuk beberapa tamu yang saat ini masih ada di dalam manor, semuanya tidak ikut keluar. Semuanya hanya menikmati beberapa hidangan yang di sajikan saja. Terus terang saja, semua orang ini juga penasaran dengan yang terjadi di luar. Hanya saja mereka merasa tidak enak hati pada Vransisco yang telah mengundang mereka. Jika sampai didalam manor ini tidak ada seorang pun dari tamu undangan yang terlihat.
Diluar hotel, Vransisco dan Stiven yang baru saja sampai, di kejutkan dengan keramaian orang yang sedang mengagumi sebuah mobil.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini? bukankah itu hanya sebuah mobil?" ejek Stiven yang memang kurang mengerti tentang jenis sebuah mobil mewah.
"Diam kamu Stiv!" titah Vransisco dengan menggertakan giginya karena merasa kesal dengan ucapan Stiven. Vransisco tidak seperti Stiven yang kurang bepengalaman. Karena Vransisco bisa langsung mengetahui jenis mobil mewah ini. Dirinta tentu akan merasa sangat kesal dan bisa marah besar. Seandainya ucapan Stiven sampai didengar pemilik mobil tersebut. Tentu pikiran Vransisco juga hampir sama dengan pengusaha yang lain. Dirinya juga ingin berkenalan dengan seseorang yang kuat, agar mendapatkan keuntungan dari orang tersebut.
Vransisco sendiri sebenarnya juga sedikit terheran setelah melihat mobil Lamborgini datang ke acaranya. Terus terang saja, dirinya merasa tidak punya seorang teman yang mengendarai mobil semewah itu, apalagi sampai mengundangnya. Namun demikian dirinya akan menerima dengan senang hati, jika seseorang yang mempunyai mobil semewah ini datang keacara yang digelarnya.
"Ayah ini kenapa sih? jelas-jelas hanya sebuah mobil, jangan menjadi kampungan seperti yang lainya deh!" ucap Stiven dengan nada kurang menyenangkan saat kembali mencibir dengan ejekan gilanya.
"Stiven! aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai kamu bicara lagi!" pekik Vransisco seraya menatap tajam kearah Stiven.
Stiven yang mendapatkan perlakuan seperti ini dari ayahnya, hanya bisa diam. Namun dalam hati dirinya sangat kesal dengan tingkah ayahnya kali ini. Tentu saja kesal, karena ayah yang selalu di banggakanya bisa terpesona oleh sebuah mobil. Yang itu juga dimiliki oleh orang lain.
'Celsea! kamu kemana saja sih?' batin Stiven bertanya-tanya.
__ADS_1
Kembali ke rombongan Marvel, ketiga mobil ini di paskir berjejer dan mobil Lamborghini berada di tengah. Walaupun demikian, semua tatapan tetap tertuju pada mobil Lamborghini. Karena memang sangat jarang orang bisa memiliki mobil semewah itu. Sedangkan kedua mobil disebelahnya, mereka sudah sering melihatnya.
Terus terang saja, sebenarnya Bhisma juga sedikit terkejut saat melihat mobil Marvel di depan rumah Yustian tadi. Dirinya benar-benar tidak menyangka, jika Yustian akan memberikan hadiah segila itu pada putranya.