Guruku Adalah Istriku

Guruku Adalah Istriku
Bab 39


__ADS_3

Namun demikian, Yustian dan Bisma tetaplah tamu penting hari ini. Karena keduanya saat ini juga telah bekerja sama dengan Vransisco di perusahaan. Bisma sebagai moderator yang sangat cerdas dengan ide-ide cemerlangnya. Sedangkan Yustian sendiri yang menjadi investor pembiayaan terbesar di perusahaanya. Jadi Vransisco juga tidak boleh sampai bertindak ceroboh yang malah bisa menyinggung kedua orang ini. Ataupun salah satu dari mereka.


"Kalau begitu, ayo semua kita masuk kedalam, dan kita beepesta didalam!" ajak Vransisco pada semua orang dengan sangat ramah. Walaupun dalam hati dirinya sudah sedikit kesal dengan pamernya Yustian dan Bisma. Namun Vransusco tetap sadar dan tetap mencoba menenangkan diri. Ini juga demi menjaga nama baiknya sendiri di depan semua orang ini. Juga demi perusahaanya, karena jika sampai kekesalanya di perlihatkan dan itu malah menyinggung salah satu dari Bisma ataupun Yustian. Bisa-bisa perusahaan Vransisco akan hancur dalam sekejap mata.


Akhirnya semua orang yang tadi sempat keluar dari dalam hotel, semuanya kembali masuk kedalam. Dan tentu saja di sertai Yustian dan rombonganya yang juga ikut masuk kedalam manor hotel tersebut. Stiven sendiri hanya menundukan kepala karena masih sedikit malu dengan yang dilakukanya tadi. Padahal ini adalah acara pesta ulang tahunya sendiri. Namun dirinya terlihat murung dan malu akibat tindakan konyolnya sendiri.


Walaupun demikian, Vransisco tetap memulai pesta tersebut karena tidak ingin mengecewakan semua tamu undangan. Dan tentu saja yang dilakukan Stiven hanya bisa mengikuti setiap perintah ayahnya, untuk berpesta malam ini.


Untuk Mila, walaupun masih banyak tatapan kagum dengan kecantikanya. Tentu saat rombongannya masuk kedalam manor. Bahkan sampai dirinya sampai didalam manor juga masih banyak orang yang menatapnya dengan kagum. Namun Mila sendiri tidak begitu peduli dengan kekaguman semua orang. Dirinya hanya menanggapi dengan senyuman kepada semua orang yang menatapnya. Karena yang Mila pedulikan saat ini hanya menjaga nama baik keluarganya dan keluarga suaminya.


Di dalam pesta ini, juga ada beberapa yang saling memperkenalkan diri pada Marvel. Karena memang mereka belum saling mengenal. Bahkan beberapa dari mereka juga ada yang langsung memberikan kartu nama. Berbeda jika dengan Yustian dan Bisma, semua orang sudah sangat mengenalnya.


"Anda Tuan Muda Marvel? anda benar-benar luar biasa, masih begitu muda namun sudah bisa sesukses ini, ditambah sudah memiliki permaisyuri secantik ini," tanya seorang lelaki setengah baya sebelum dirinya memuji Marvel dan Mila. Lelaki ini ditemani dengan seseorang yang seumuran dengan Marvel, mungkin anaknya.


"Hehe, ya terimakasih atas pujianya," jawab Marvel dengan tersenyum. Walaupun dirinya sendiri sedikit bingung harus bicara apa.


Sukses?


Padahal dirinya saja masih sekolah, dan ya semua yang dia miliki adalah hasil pemberian orang tuanya. Namun Marvel tidak mungkin menjawab seperti itu, karena bisa menurunkan derajatnya disini.


"Iyaiya, Tuan Muda Marvel, anda belum memperkenalkan istri anda ini pada saya?" tambah pria tadi dengan senyuman.


"Oh iyaiya, mohon di maafkan,... perkenalkan ini Mila Fricilia istriku," jawab Marvel saat memperkenalkan Mila.


"Nama yang cantik, seperti orangnya," ucap pria tadi saat kembali mengagumi Mila, "Perkenalkan, nama saya Dimas, Dimas Anggara," tambah Pria tadi seraya menyodorkan tanganya kearah Mila.


"Iya, saya Mila," jawab Mila dengan menerima tangan Dimas dan keduanya berjabat tangan.


"Luar biasa, tanganya begitu lembut dan halus," ucap Dimas sebelum dengan perlahan melepaskan tangan Mila. Karena dirinya tidak ingin sampai menimbulkan fitnah nantinya.


"Hehe ya terimakasih Tuan," jawab Mila dengan senyuman.


"Oh iya, Tuan Muda Marvel... perkenalkan ini putraku, namanya Andre, Andre Anggara," ucap Dimas memperkenalkan anaknya.

__ADS_1


"Oh iya, senang bertemu denganmu, saya Marvel," ucap Marvel sebelum menyodorkan tanganya kearah Andre.


"Ya, saya juga senang bisa berkenalan dengan anda Tuan Muda, saya Andre," jawab Andre dengan ramah saat menerima jabatan tangan Marvel.


"Tuan Muda, saya ingin meminta pendapat anda sedikit... jika diperbolehkan," ucap Dimas sebelum menghela nafas panjang dan mengeluarkanya perlahan.


"Ya tentu saja boleh, silahkan! memangnya mau minta pendapat seperti apa?" jawab Marvel sebelum bertanya kembali.


"Tuan Muda Marvel, perkenalkan nama saya Dika, Dika pratama, dan ini istri saya, Yulia, Yulia ningsih," ucap seorang pria setengah baya saat memperkenalkan diri, langsung memotong pembicaraan antara Dimas dan Marvel.


Mendengar ada yang memotong pembicaraanya, Dimas menjadi sedikit kesal saat dirinya langsung tersenyum kecut.


"Oh iya, saya Marvel, Marvel Yustian," jawab Marvel sebelum mengalihkan pandangan kearah Mila, "dan ini istri saya Mila Fricilia," tambah Marvel memperkenalkan Mila.


Marvel benar-benar merasa senang bisa pamer istri seperti ini, karena memang terbukti Mila begitu cantik. Bahkan sebagian orang di pesta ini sudah terang-terangan memuji kecantikan Mila. Ini juga yang membuat Marvel lebih percaya diri saat mengobrol dan berkenalan dengan pengusaha-pengusaha besar disini.


"Marvel,"


"Dika,"


"Dika,"


Kemudian Dika menjabat tangan Marvel sebelum menyebutkan namanya, begitupun Marvel menerima jabatan tangan itu dan menyebutkan namanya.


Setelah itu, Dika melakukan hal yang sama juga pada Mila, dan Mila juga menanggapinya dengan baik.


Setelah Dika selesai, tentu diikuti istrinya yang bernama Yulia tadi.


Setelah sesi perkenalan dengan Dika dan Yulia selesai, ada lagi yang langsung memperkenalkan dirinya pada Marvel. Dan begitu seterusnya, sampai hanpir semua orang mendekat kearah Marvel. Bahkan beberapa juga menawarkan minuman untuk Marvel dan Mila. Namun Marvel dan Mila langsung menolaknya dengan baik-baik. Karena memang kedua orang ini tidak pernah minum, minuman beralkohol.


Dimas sendiri hanya bisa menelan sedikit kecewa karena dirinya tidak bisa benar-benar mengobrol dengan Marvel. Namun demikian dirinya tidak akan menyerah begitu saja. Dan tentu Dimas akan mencoba mencari Marvel dengan dalih bisnis, agar bisa menemuinya. Karena Dimas yakin, orang sekelas Marvel pasti sangat sulit untuk di temui, jika bukan karena hal yang sangat penting.


Dimas dan semua pengusaha disini benar-benar tidak ada yang mengetahui jika Marvel dan Mila hanya seorang murid dan gurunya. Dan tentu saja Marvel bukanlah pengusaha sukses, seperti yang di fikirkan semua orang disini.

__ADS_1


Tak berselang waktu lama, acara pesta pun berakhir di jam hampir tengah malam.


Semua orang saling berpamitan setelah acara di tutup, namun bukan berpamitan pada tuan rumah. Melainkan berpamitan dengan Marvel juga Mila. Tidak lupa juga berpamitan pada Yustian dan Bisma. Karena mereka semua yakin, akan lebih menguntungkan jika bisa mendapatkan kerja sama dari Marvel, Yustian, ataupun Bisma. Daripada dengan Vransico yang terlihat belum begitu sukses. Bahkan ada beberapa yang langsung menawarkan kerja sama pada Marvel. Namun Marvel hanya bisa menanggapinya dengan senyuman, karena dirinya memang tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.


Mereka yang ada disini semua, benar-benar tidak tahu sama sekali, jika Marvel masih bersekolah dan dirinya bukanlah seorang pengusaha sukses seperti yang mereka pikirkan.


Setelah selesai berpamitan dan saling jabat tangan, akhirnya Yustian dan Sinta pulang kerumahnya sendiri, Bisma dan melani juga melakukan hal yang sama, Marvel pun demikian. Saat ini Marvel benar-benar bingung, karena dirinya mendapatkan begitu banyak kartu nama. Tentu saja kartu nama dari semua pengusaha di pesta tadi.


Hanya Vransisco yang tidak memberikan kartu namanya pada Marvel. Terus terang saja dirinya sangat kecewa dan kesal atas yang terjadi malam ini. Dirinya yang membuat pesta untuk kepentinganya sendiri, namun malah keluarga Yustian yang mendapatkan keuntunganya.


"Bangs*tttttt" teriak Vransisco saat dirinya berada didalam kamar hotel bersama Stiven.


"Kurang ajar, benar-benar kurang ajar Yustian dan Bisma, mereka tidak menghargaiku sama sekali!!!!" tambah Vransisco masih berteriak, saat dirinya juga membanting botol anggur kelantai kamar.


PYAR!!!


"Sudahlah ayah, yang tenang! emosi seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Stiven mencoba menenangkan ayahnya.


"Aku aku tidak bisa tenang Stiv," jawab Vransisco dengan masih berteriak.


"Memangnya jika ayah tidak tenang apakah masalahnya akan selesai? semuanya sudah terjadi yah," ucap Stiven mencoba menjelaskan.


"Kamu ini ya Stiv, dasar anak manja yang tidak tahu apa-apa! apakah kamu tidak tahu jika malam ini ayahmu sudah menghabisakan uang sampai ratusan juta, hanya untuk sekedar menjamu mereka di hotel ini? dan kamu bisa bicara seperti itu pada ayahmu?


yahhhh memang.,..semuanya tidak akan sia-sia jika banyak pengusaha dan investor bisa bekerja sama dengan perusahaanku, tapi... tapi sekarang tidak mungkin mereka akan bekerja sama denganku, karena mereka sudah terpengaruh dengan Yustian dan Bisma, sepertinya Yustian dan Bisma yang beruntung malam ini, dan aku... aku benar-benar buntung," jelas Vransisco dengan nada benar-benar kesal.


"Hemmm, ya mau bagaimana lagi, memang semuanya sudah terjadi kan yah," jawab Stiven dengan santai.


"Ahhhhh, Bangs*t!!!" teriak Vransisco dengan marah saat mendengar nada bicara Stiven yang seperti tidak peduli padanya. Dirinya juga mengacungkan jari telunjuknya kearah Stiven dengan menggertakan giginya.


"Sudah lah yah, yang sudah terjadi biarkan terjadi, tidak akan bisa diulangi lagi," Stiven kembali berucap dengan santainya walaupun sudah di bentak ayahnya seperti ini.


"Lagian ayah ini apakah lupa? ayah juga bekerja sama dengan Om Yustian dan Om Bisma, dalam artian jika semua pengusaha dan investor tadi bekerja sama dengan Om Bisma ataupun Om Yustian, bukankah ayah juga akan mendapatkan keuntunganya?" tambah Stiven menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2