
"Kata orang, flower red tulip itu melambangkan arti mengungkapkan perasaan… cinta." monolog Vino, Menatap bunga cantik yang di petik nya sambil menampilkan senyuman simpul nya. Kata terakhir dia menatap lekat mata lentik gadis itu.
"Oh," ucap Fiza ria disertai tersenyum kikuk menatap manik mata hitam pekat itu.
Dia memang tidak tahu arti bunga merah itu, Entahlah ia tiba tiba memetik bunga itu tanpa mengetahui arti nya.
"Sekali lagi, aku mau ngomong" tutur Vino, mengangkat kedua tangan Fiza. Membuat gadis beriris hitam itu berdebar.
Vino nampak menghela napas nya. "Aku suka sama kamu, kamu mau jadi kekasihku?" Sambung nya lantang tapi ekspresi datar.
Degh!
Gadis dihadapan nya terkesiap atas perkataan nya itu.
Jujur debaran jantung nya kembali tak beratur sama kayak dulu, tapi ini beda karena terbesit rasa senang.
__ADS_1
"Tapi maaf, aku bukan lelaki romantis kayak lelaki pada umum nya yang di idamkan banyak perempuan termasuk kamu, kamu tau kan aku orang kadang gak peka. Tapi aku serius kalau soal perasaan. Fiza be my girlfriend?" tanya lebih Vino.
Deg! Deg! Deg!
Fiza masih diam mematung seperti terhipnotis, dia mencoba mengatur jantung nya yang berdetak dua kali lebih cepat, agar tidak melompat-lompat. Tak menyangka selama sebulan Vino masih menyukai nya, dan satu bulan lalu juga ia sempat menolak nya, tapi pria itu masih setia dan bahkan lelaki itu mampu menjadi sahabat nya tanpa berlebihan. Gadis itu pun tersadar dari lamunan nya saat Vino melambaikan tangan dihadapan nya, menatap netra tajam pemuda itu.
Eh..
"Gi…mana?"
Vino mengangkat bibir nya membentuk senyum maut yang dimiliki nya. Tak berselang itu, dia menengadah dagu Fiza, sehingga mau tak mau gadis itu tengadah menatap lekat pria tampan yang baru saja mengganti sahabat menjadi pacar nya.
"M-mau ngapain!?," Gadis itu menyahut sedikit bergetar sekaligus teriak, mengedipkan mata nya beberapa kali bisa di bilang saat ini gadis itu sedang mode lucu plus imut, pasal nya Vino menengadah kepala nya sambil setengah berjongkok semampai tubuh mungil nya sehingga terlihat jelas bibir seksi nya yang mengukir senyum.
"Gapapa, aku cuma pengen lihat muka kamu yang tiba-tiba muncul blush on," ucap datar Vino, memang benar saat ini gadis mungil itu rona merah karena malu.
__ADS_1
"Udah ah." Fiza berlalu mengalihkan pandangan nya.
"Mau ice cream?,"
"Mau mau!," ucap Fiza mendadak senang dengan kata dua kalimat itu, lantaran hari sudah mulai siang mata hari terik membuat tenggorokan menjadi kering. Untung dia memakai jaket cukup tebal jadi tak merasuki kulit putih nya.
Vino sekilas mengubit hidung kecil itu dengan gamas.
"Yuk!"
Mereka berdua meninggalkan arena tanaman itu dengan bergandengan tangan, tapi perasaan gugup Fiza membalas uluran tangan Vino, karena ini baru pengalaman pertama nya, bisa dibilang Vino first love nya Fiza.
Kini, Fiza menduduki tubuh nya di kursi taman yang banyak nya orang berlalu lalang, sembari menunggu kekasih nya membawa dua cup es krim, sambil sabar menunggu dia mengeluarkan benda pipih nya yang berada di saku celana nya itu.
Beberapa menit menunggu akhirnya pemuda itu kembali sambil memamerkan senyum cerah nya secerah wajah tampan nya yang membuat para kaum hawa tua maupun muda menganga kerena terpesona.
__ADS_1
"Ngapain senyum senyum!," cetus Fiza, gadis itu cemberut memerhatikan pipi tembem nya, mengalihkan arah pandang nya.