
Ayah Baskara, Bunda Airin, Vino, Fiza, dan Elvin menduduki sofa VIP Waiting Room. Vino sudah melakukan check- in, Vino memberikan boarding pass (pas naik). Berisi informasi nomor penerbangan, serta gate number (pintu), ayah dan anak itu tinggal menunggu pesawat penerbangan singapura.
"Kamu Nafiza Shabita, anak nya Marcel itu kan,?" tanya nya berwibawa. Mata ayah baskara melirik Fiza sekilas lalu kembali menatap anak sulung nya itu.
Fiza yang di tanya hanya menanggapi mengangguk kepala pelan, dia merasa sungkan dengan kedua orang tua Vino. Apalagi mengigat awal pertemuan mereka yang tidak memungkinkan yang beberapa menit terjadi.
"Tidak usah sungkan nak, kami orang tuanya Vino." ujar ayah Baskara tersenyum simpul melihat kegugupan Fiza sedari tadi. "Kamu teman nya Vino,?" tanya ayah imbuh.
"Bukan Yah, dia pa-"
"Ah.. iya om, tante, saya temen nya Vino," ucap Memotong perkataan Vino. Fiza gugup, tersenyum kikuk sambil memperlihatkan deretan gigi rapi miliknya.
Diapun menyalimi Pria dan Wanita paruh baya itu secara bergantian.
"Ga usah panggil Om, ayah saja"
"Tente juga, panggil bunda aja"
__ADS_1
Ucapan kedua nya membuat Fiza tercenggang.
"Kok cuma berteman, kalian itu cantik dan ganteng. Seharus nya hubungan kalian lebih dari seorang temen. Kenapa gak pacaran aja?" Elvin yang sedari diam memperhatikan interaksi ayah dan gadis itu, akhir nya anak sekitar 5 tahunan itu angkat bicara. Sekaligus memuji kakak dingin nya itu.
Mendengar perkataan itu membuat Fiza salting, sedangkan Vino tersenyum miring atas pujian adik lucknat nya.
Reflek bunda Airin langsung memukul tangan anak nya, merasa tidak enak dengan perkataan dan pertanyaan Elvin yang sedikit ambigu.
Anak kecil itu bisa saja!
"Aduh bun, sakit" rengek nya mengerucutkan bibir nya.
"Ayah ini sahabat papa kamu" ujar ayah Baskara membuyarkan keheningan yang sempat selama beberapa detik. "Ayah ga menyangka kamu udah sebesar ini, dulu ayah cuma bisa lihat kamu dari foto sekarang kamu udah di depan ayah" cakap ayah Baskara tersenyum lembut kepada Fiza.
Fiza tidak menyangka ternyata ayah dari kekasih nya sahabat papa nya sekaligus rekan kerja nya, dan juga kedua orang tua Vino bersikap manis terhadap nya, di luar dugaan nya. Gadis itu tak lagi segugup sebelum nya, sekarang Fiza mencoba berinteraksi dengan orang tua Vino itu.
"Menurut kamu sifat Vino itu, gimana sih?" tanya bunda Airin antusias milirik pemuda itu sebentar lalu beralih ke Fiza.
__ADS_1
Fiza mengalihkan netra indah nya kepada pemuda bersekedap dada sembari tersenyum tipis. Vino membalas tatapan penuh makna itu dengan santai tak ada ekspresi.
"Menurut aku sih bun, Vino itu orang nya irit ngomong, irit ekspresi, dingin plus datar, nyebelin, tapi aku suka,"
wait! Fiza mulai ngelantur nih, ga nyadar siapa yang mengajak nya berbicara.
Gadis itu langsung menutup mulut nya rapat dengan kedua tangan, kala sadar dari siapa pertanyaan itu yang membuat nya keceplosan.
Vino yang melihat ekspresi cewek itu, ingin sekali mengecup pipi gadis itu karena gemas, dengan senyum tertahan dia mencoba merileks.
"Hah, maksud kamu suka apa?," tanya Bun Airin, dia tidak terlalu mendengar gumaman Fiza karena gadis itu berbicara dengan pelan. Hanya perkataan Fiza di dengar Vino, cowok itu melirik Fiza menyeringai.
"aku nggak suka apa-apa, tante eh maksud Fiza bunda pasti salah denger," gugup Fiza sambil menatap bola mata Vino dengan kesal.
Ayah baskara dan Elvin sedari ketoilet sebentar, Fiza beruntung kedua bapak dan anak itu tak mendengar ujaran Fiza yang menyelipkan 'Suka', Jadi Fiza tak malu-malu banget di depan keluarga Vino.
Pesawat akan take off dua jam lagi, menghabiskan waktu satu jam mereka pergi salah satu restoran bandara itu.
__ADS_1
...****************...