Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Bunny


__ADS_3

"Dirumah lo?," sahut Fiza melihat rumah berjulang tinggi depan nya. Tadi mereka hanya jalan, karena rumah Mita dan Fiza satu komplek.


So, rumah Mita nggak jauh amat sih, cuma melewati 5 buah rumah.


"Yes,"


"Nyokap ama bokap lo kemana?"


"Keluar kota, biasa urusan bisnis"


Fiza ber-oh ria.


Mereka bertiga segera memasuki rumah itu, setelah masuk Fiza dibuat terkejut oleh sahabat-sahabat nya yang sudah bersiap dan lebih lagi sudah ada bahan bahan, ada daging, sosis, seafood, bakso, jangung, serta marshmallow dan masih banyak lagi.


"Wow ternyata udah siap, mana kalian beli banyak banget lagi,"


"Iya dong, kita 'kan disini nginap" sahut Dita tersenyum sangat manis seraya menggandeng tangan Adit.


"Oh...terus gue harus bantu apa nih,"


"Ga usah Za, lo keluar aja," ujar Mita.


"Nggak boleh, itu sih enak di gue langsung makan. Gue bantu lo pada ajalah," sela Fiza.


"Atau gini aja deh, lo bagian bakar-bakarnya, nanti kita nyusul ko,"

__ADS_1


"Oke" ucap Fiza mengacungkan jempol. Segera Fiza pun berjalan ketaman belakang dikekori oleh Mita.


"Lo disini aja, bentar ada yang nemenin lo ko"


"Siapa?," tanya Fiza penasaran sekaligus bingung.


Lhah Nadia? belum ada David dan Gino belum ada juga. Lalu siapa yang menemani nya.


Mita tersenyum lebar tanpa menjawab, dia langsung meninggalkan Fiza sedirian dimalam hari


Ada-ada aja.


Fiza mengeleng melihat sikap Mita yang agak aneh, masa dia di tinggal tanpa adanya teman yang menemani atau mengajak nya mengobrol setidaknya. Eh, malah gadis itu meninggalkannya.


Gadis itu terkesiap ketika ada tangan yang menutup matanya dalam. Fiza langsung panik tapi gadis itu berusaha tenang, sekujur tubuhnya seketika kaku.


Apa jangan-jangan itu penculik,


tapi bagaimana penculik itu masuk ke komplek ini. Sedangkan komplek perumahan ini terjaga ketat, apa jangan-jangan penculik itu menyelinap, atau bisa menyogok penjaga area perumahan ini.


Astaghfirullah ini bukan pikiran Fiza sesungguhnya.


Dia mencoba menggerakan tangan kesamping, biasanya samping bangku taman belakang itu terdapat sapu Lidi, dan benar saja ia menemukan sapu, dia bersyukur tangannya tak dicekal oleh penjahat tersebut.


Sementara dibelakang, cowok yang menutup mata Fiza tersenyum.

__ADS_1


Dia tidak tahu saja, tangan gadis itu bergerak mengambil sapu.


Gadis itu memberontak melepas tangan itu, Dia membalikan badan dia sudah siap dengan serangan dadakannya dan...


"Piss…" Dengan cepat Vino mengangkat tangannya sambil mengucapkan kata perdamaian pada gadis itu seraya terkekeh.


"Vino," ucapnya sedikit terkejut,


"Hi..hi....!" pekik Fiza sembari memukul dada bidang Vino pelan, mengendus sebal pada cowok dihadapan nya.


"Bikin kaget tau ga," ucapnya ber-sungut, namun ada juga rasa bahagia karena orang yang dirindukan nya berada dihadapan.


Pemuda itu tekekeh "Surprise, Bunny" ujar Vino memegang tangan Fiza.


"Bunny, kamu nyamain aku kelinci," cibir Fiza tak terima dia di sama-samain kelinci.


"Kelinci dirumah aku,"


"Hi... jahat banget sih"


"Ngga lah, masa aku samain kamu sama Prince" Kata Vino setelah melompat keatas menduduki kursi bercat putih. Prince itu adalah kelinci peliharaan adik-nya, Elvin."Maksud aku kamu itu kelinci di hati aku. Bunny," ucap nya singkat bermonolog.


Bunny. Lucu juga sih nama kesayangan hihihi.


"Kamu makan apa sih disingapur? kok bisa gombal gini," ucapnya heran Fiza merasa dihadapan nya ini kayak bukan Vino yang dingin dan tak mudah mengungkapkan rasa sayang. "Jangan-jangan kamu ga bantuin ayah, melainkan kamu belajar bahasa gombal," cerocos Fiza. Bukannya menuduh tapi ia hanya menyelidik, memicingkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2