
"Aaa…"
"Apaansih, gaje" Fiza yang sedari tadi duduk diatas motor Vino sembari memainkan handphone nya, menoleh ke arah pemuda itu.
"Aaaa Fiza"
"Oh mau suapin, nggak usah"
"Kok gitusih, 'kan ini makanan kesukaan kamu"
"kamu bisa tau?"
"Apa sih yang gak Vino tau dari Fiza. Dan sekarang aku mau suapin kamu"
Fiza segera membuka mulutnya ketika Vino kembali menyondorkan putu ditangannya.
Tak berapa lama datanglah kelima anak remaja pria sekiranya terlampau umur 3 tahun dari Vino dan Fiza.
"Ini dia Bos anak bau kencur yang nyerang gue tadi pagi"
Vino sendiri terkejut mendegar penuturan seseorang yang tadi pagi. Dan yang lebih terkejutnya dia menoleh kedepan melihat wajah bos nya itu. Pria itu!
"Vino, akhirnya kita ketemu lagi" Seringai tipis tampak terpampang di wajah pria disebut bos oleh seorang lelaki yang menyerang tadi pagi.
"Za kita pulang sekarang,"
"Lo mau kemana?, kita main-main dulu lah"
"Gue nggak ada waktu buat ladenin orang kaya lo" datar Vino.
"Serang!" Instruksi dari pria itu menyuruh keempat anteknya menyerang Vino.
Vino berlari dari jalan beraspal itu, menyuruh Fiza menunggu dia di sini. Dia tidak mau gadisnya kenapa-kenapa.
Mengempalkan tangannya Vino menyerang para keempat orang itu dengan tangan kosong, dia mulai menghindar dari serangan tonjok-menonjok dan tendangan yang dilakukan keempat pria orang yang menyerangnya, karena saat ini Vino diampit oleh keempat laki-laki bisa dibilang saat ini Vino di keroyok. Sementara Bos nya hanya diam di tempat dengan bersekedap dada melihat perkelahian itu santai, dan bibirnya menunjukkan senyum devil khasnya membuat siapa saja yang melihat menjadi merinding.
Fiza yang di sebrang melihat perkelahian itu kaget, sesekali dia meneriaki memanggil nama Vino. Karena tempat itu lumayan sepi, Fiza takut Vino kenapa-napa. Dengan terburu-buru gadis itu merogoh sakunya mencari ponsel miliknya untuk menelfon Reza membantu Vino disana, tidak adil kan kalau empat lawan satu. Fiza mensroll kontak nya dengan napas terengah.
"Hallo kak"
__ADS_1
"Tumben manggil kakak, biasanya kan abang"
"Gak ada waktu buat itu bang, lo tolongi gue sama kak Vino. Nanti gue sherlock lokasinya"
"Kalian kenapa?"
"Vino di serang sama geng… Black Wolf, iya itu Black Wolf" tutur Fiza. Memang tadi dia sekilas menatap jaket para pria yang menyerang Vino samar-samar, itu pun tadi orang-orang tersebut mengejar Vino.
"Black Wolf, yaudah abang kesana sekarang"
"Cepat bang" Fiza segera memasukan benda pipih kembali ke sakunya. Dan sesuai apa yang dikatakan Vino bahwa dia bersembinyi di belakang motor sport Vino.
Beberapa kali Vino menangkis pukulan demi pukulan itu, sampai dua pria tumbang karena sudah lelah melawan Vino yang notabene nya jago bela diri. Tapi tidak semudah itu, masih ada dua orang yang berdiri kokoh sambil mengempalkan tangannya dan tidak kalah jogo dari Vino. Tampak dari wajah Vino yang terlihat susah melumpuhkan lawan.
"Hati-hati kak" teriak Fiza. Dari wajah nya sudah terlihat pucat pasi sekaligus takut ketika pandangan nya bertemu dengan pria muka menyeramkan itu yang terlihat terus menyunggingkan senyum devil.
Pria itu langsung menghampiri gadis mungil seberang sana, yang entah tidak tahu siapa nama gadis cantik membuatnya mengalihkan pandangannya.
Fiza melihat pria itu, tersadar. Dia dengan cepat berubah menjadi lebih rileks, namun terdengar denyut jantung tak karuan.
"Hai gadis cantik"
"Kenapa? Aku hanya ingin menyentuh tangan mu"
"Gue bilang jangan mendekat"
Seringai kecil muncul kembali. Pria itu tidak pantang menyerah untuk menyentuh Fiza, hingga gadis itu terjatuh karena krikil kecil.
Vino yang mendengar suara dari arah berlawanan, tidak fokus menghajar keempat orang itu. Akhirnya mereka punya celah untuk menghajar Vino membalaskan dendam tadi pagi yang sudah bikin teman mereka masuk RS.
Reza dan lain sudah berada di tempat tersebut. David, Gino dan Adit menyerang keempat cowok yang menghajar Vino habis-habisan. Sementara Reza, pria itu langsung menghadang cowok yang berani mendekati adiknya.
"Andrex, Brensek!"
"Reza, akhirnya lo datang juga"
"Gak usah banyak cingcong lo!. Beraninya sama perempuan, kalau mau lo lawan gue"
Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi menuju tempat mereka berada.
__ADS_1
"Polisi!" gumam Andrex. Sial… Jadi mereka kesini bawa polisi. Andrex sesegera mungkin berlari menghampiri teman-temannya yang kini sedang tertatih, akibat serangan mendadak dari David, Adit, dan Gino.
"Cabut guys!" Andrex dan teman-temannya segera mungkin berlari, menghindari polisi yang kian mendekat.
Vino, Fiza dan ketiga pemuda itu melihat, mengirnyit dahi masing-masing heran, tapi tidak dengan Gino yang memegang HP ditangannya. Pasalnya disini tidak ada siapa-siapa, dan jalanan juga sepi karena hari sudah menjelang maghrib. Tapi kenapa Andrex dan cs nya bilang ada polisi.
Gino menujukkan cengirannya menghadap Vino, David, dan Adit. Ouh, sekarang ketiga pria itu tahu. Pasti ini ulah Gino.
Pletak
David mengetuk dahi Gino, menatap jengah Gino. Astaga! Tadi dia sudah sangat geram terhadap Andrex dan teman-temannya, ingin rasanya menghajar mereka abis-abisan.
Sudah naik pitam, eh malah Gino yang berhasil prank Andrex dan teman-temannya.
"David! cihh" desis Gino.
"Salah siapa yang bikin mereka kabur"
"Untung gua nolongin kalian, kalau gak mereka pasti akan bawa banyak orang segerombol geng nya itu." jelas Gino cemberut.
"Serah!
"Kamu gapapa kan?" tanya Vino membalikan tubuh Fiza mengecek gadisnya itu.
"Gapapa"
"Ekhem, gapapa kan Vin?" tanya Reza
"It's okay." jawab Vino menaruh tangannya dilutut.
"Oiya tadi beneran polisi?"
"Tanya aja noh si Gino!" sahut Adit geram.
"Yee…untung gue nolongin, kalau gak pasti kalian bakal bonyok dihajar sama segerombolan anak geng motor black wolf itu." tutur Gino membanggakan diri sendiri. "Harusnya tuh ya kalian makasih sama gue, bukan malah bikin gue terpojok!" imbuhnya berujar saat Reza ingin angkat bicara.
"Iye makasih Gino," seru David menatap jengkel sang sahabat menyebalkan itu.
...******...
__ADS_1