
"Semangat" Di ujung sana Fiza mengajungkan kedua jempol nya sembari mengatakan semangat tanpa suara dan tentunya dengan senyum sangat manis.
Bagai tersihir, Vino langsung mengangkat kedua sudut bibir dan kembali menyemangati diri nya. Seperti melupakan sakit di kakinya dia berlari menghampiri lawan yang ingin melakukan mendribble bola. Tindakan Vino membuat lawan terkejut dan para sang sahabat seketika heboh, skors yang tadinya redup menjadi yang tertinggi. Sang kapten bermain dengan begitu Epic.
"KAK VINO SEMANGAT!"
Grace menoleh ke arah sumber suara yang sangat amat kenal samar- samar. Bisa dia lihat sorakan itu mampu membuat Vino bangkit, serta senyum bangkit, dia tahu senyum itu bukan untuk nya, Grace sadar diri Vino tidak lagi tersenyum kepadanya. Dan pemuda itu mampu, mudah menyamakan skor dengan lawan.
"Gue bilang apa Za, seru disini!" kata Dita sembari terus bergenggaman tangan dengan Adit di samping nya. Fiza tidak merespon, atensinya tidak menoleh kepada dua sejoli itu.
"AYO KAK VIN KAMU PASTI BISA, DITA PADAMU KAK VINO!"
Adit langsung menoleh setelah Dita memuji cowok lain secara terang terangan, dengan mata melotot. Dita hanya cengegesan.
"Bos, lo yakin Xander bakal menang"
"Lo raguin kemampuan adik gue, sama aja lo raguin gue!" ucapnya seorang pria dingin menatap mengintimidasi teman sekaligus anak buah nya itu.
"E-enggak gitu bos,"
"Lalu,"
"Nggak jadi deh bos"
Dengan sekali tarikan nafas Vino berlari menggiring bola, lalu untuk melakukan lay-up. Gocha! Terlihat bola basket tak meleset pun, bahkan masuk secara lancar ke dalam ring.
Woooooooooo.....
Prok prok prok
__ADS_1
Sorak sorai saling sahut menyahut. Vino dan tim segera menuju pinggir lapangan, melakukan high five merayakan kemenangan mereka.
Vino, David, Reza, Gino, dan Arsen menghampiri Xander dkk yang mengumpat akan kekalahan mereka.
Cihh
"See."
"Oke fine, gue akui kekalahan tim gue!. Selamat bro" ujar Xander menjulurkan tangan nya untuk menjabat tangan pada Vino.
Vino membalas uluran tangan Xander "Thanks bro. Inikan pertandingan menang atau kalah, itu hal biasa dalam permainan." kata Vino menepuk-nepuk pundak Xander sembari menyunggingkan senyum tipis teduh.
"Kalian dimana sih, lama banget?" Omel Mita seberang telepon.
Fiza langsung menjauhkan ponsel dari telinga nya, dia kaget mendengar dari balik ponsel nya terdengar suara cempreng, mampu membuat gendang telinga pecah.
"Ya mangap. Gue tu kesepian, bokap nya si Nadia tadi telfon katanya Oma nya tuh sakit, Jadi tuh anak buru-buru deh ke RS!"
"Bentar napa, gue mau ngucapin selamat dulu."
"Eh ngomong-ngomong siapa yang menang"
"Tebak dong,"
"Gue ga ada ahli buat nebak."
"Sekolah kita, Vino cs."
"Waaaaa...."
__ADS_1
"Ish kebiasaan ni anak" gumam nya.
"Oh may good serius lo"
"Kapan gue ga serius"
"Jadi lo mau di seriusin Vino"
"Apaansih gak jelas, nggak nyambung omongan lo. Yaudah gue tutup dulu."
Fiza berdiri menghampiri Vino yang lagi berdiri tidak jauh membelakangi diri nya, meminum sebotol air mineral dengan keringat.
"Hai," sapa Fiza membuat Vino menoleh kebelakang sembari membalikan tubuh nya.
"Hai juga"
"Selamat ya atas kemenangan kamu!"
"Makasih"
Fiza merogoh saku tas nya mencari sapu tangan milik nya. "Aduh duh, banyak banget sih kerigatnya" terlihat Fiza mengelap keringat bercucuran di dahi Vino.
"Pink," gumam nya menahan tangan Fiza.
"Kenapa, kamu nggak suka?" tanyanya dengan wajah polos mengerjapkan mata lentik nya berkali-kali
"Bukan gitu, aku suka kok. Bahkan aku lebih suka pink, karena kamu suka"
...----------...
__ADS_1