
Akhir pekan, Vino sudah berada depan pintu rumah lantai dua tak lain adalah rumah Fiza. Pemuda itu mengetok berharap bukan orang tua cewek itu yang membukanya, dan semoga hanya Fiza yang berada di dalam rumah.
"Eh si ganteng den Vino, silahkan masuk Den" Bi Sari melebarkan pintu, mempersilahkan Vino masuk kekediaman kekasihnya.
"Makasih bi," sahut Vino tersenyum tipis.
Saat ini Vino berada ruang tamu menduduki sofa, sembari berjaga-jaga takutnya ada om marcel tapi ternyata dia menarik nafas lega setelah melihat rumah ini sepi seperti tak ada kehidupan.
"Bentar saya panggilkan neng Fiza, sekalian bikin minum"
"Nggak usah bi, panggil Fiza saja"
"Baik den permisi"
Bi Sari sedikit membungkuk. beliau segera menuju lantai atas kamar Fiza, karena siang hari pasti nona nya pasti sedang membereskan selimut spei tempat tidurnya. Memang biasa cewek itu merapikan sendiri kamarnya walaupun dirumah besar ini terdapat beberapa orang maid setelah orang tuanya sibuk dengan pekerjaan.
Bibi Sari mengetuk pintu kamar di hadapannya, berharap ia tidak menggangu nonanya di dalam.
Namun tak ada seruan dari dalam kamar, bersamaan bibi mencoba ketok sekali lagi, pria paruh baya muncul dari balik kamar utama menghampiri bi Sari yang masih setia berdiri depan pintu bercat putih hadapannya.
"Ada apa bi?,"
"Tuan!" Bibi mengeluskan dadanya merasa kaget.
Marcel menyengir kecil merasa sudah berhasil membuat bi Sari terkejut.
"Diluar ada den Vino tuan"
__ADS_1
"Vino," ucapnya menautkan kedua alisnya. "Iya udah, bibi lanjutkan pekerjaan bibi Sari biar saya yang panggil" imbuhnya titah.
"Baik tuan, permisi"
"Fiza," panggil Marcel mengetok pintu kamar anaknya
"Iya pah bentar," Fiza segera bangkit dari meja riasnya, memutar konop pintu membukakan untuk papanya yang sedari tadi menunggu anak gadisnya di ambang pintu.
"Kenapa pa,"
"Dibawah ada Vino, kamu temuin gih"
"Ngapain dia kesini," tuturnya cuek.
"Kok gitu sih,"
"Aku tuh masih kesal sama dia pa!," omel Fiza cemberut.
Dengan buru-buru Fiza menggeleng takutnya papa nya jadi salah paham menilai Vino. Apalagi papa marcel sudah mengetahui hubungan mereka, dia tak mau papa nya berubah menjadi ilfil kepada Vino.
"Ya udahlah Fiza temuin!"
Marcel tersenyum seraya menggeleng melihat tingkah anaknya. Diapun menyusul anaknya yang kini menuruni tangga.
"Ngapain kesini" ketus Fiza menatap sinis cowok di hadapannya sembari mengerucutkan bibir bawah.
"Om Marcel" Melihat papa kekasihnya Vino langsung berdiri dari duduknya sambil tersenyum kikuk menatap pria itu setelah mencium punggung tangan teman ayah nya.
__ADS_1
"Vino, apa kabar dengan papa kamu?" Om Marcel menepuk pundak Vino sambil tersenyum lebar, membuat Vino heran tak biasanya seorang Marcel Wilson tersenyum penuh arti.
"Baik om, Ayah masih di luar negeri"
"Oh," Papa marcel manggut-manggut "Kamu jangan kikuk gitu sama om, 'kan om jadinya insecure"
"Iya om"
Fiza yang dari tadi terlihat cuek, menjadi ingin tertawa terbahak-bahak melihat intraksi papa nya dengan cowok di hadapannya.
"Om Vino mau izin, pinjem Fiza bentar?" tanya Vino polos, tanpa permisi dia sudah memegang tangan gadis itu.
"Tapi ada satu syarat," Menatap Vino dari sorot matanya membuat Vino menelan salivanya gugup.
"Apa om?" tanyanya penasaran.
"Jangan bawa anak om kabur" bisik papa marcel berhasil membuat wajah Vino kian memerah.
"Kalian ngomong apa sih" ucap Fiza kesal
"Nggak apa apa sayang" ujar Marcel mengeluskan rambut putrinya.
*****
Ketiga sahabat Fiza langsung cengo tak terkejuali dengan para cowok yang baru saja datang kediaman Wilson. Mobil box yang di penuhi banyaknya boneka beruang dan lainnya.
"Gila, orang kaya mah bebas. Lo beneran beli boneka sebanyak ini" sahut Gino dan Vino hanya bersekedap membisu tak menjawab pertanyaan sahabat seblaknya itu, pemuda itu malah menatap Fiza dengan tatapan penuh arti, gadis tersebut menoleh kesamping membalas tatapan itu terkekeh geli. "Wihh sahabat gua keren banget, gentlemen lo Vin," monolog Gino menggeleng sembari menepuk pundak Vino.
__ADS_1
"Jangan bilang ini kerjaan kamu Za" bisik Reza sekaligus selidik menatap tak percaya ke arah adiknya yang kini cekikikan tidak jelas. Ternyata sepolos-polosnya Fiza, nyatanya gadis itu mempunyai sifat usil kebangetan pula tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kok kayak gini sih, Fiza 'kan cuma minta tiga boneka. Kenapa jadi mobilnya sekalian" sungut Fiza memecah keheningan. Mengalihkan pandangan, menggigit bibir bawahnya menahan tawa pura-pura merajuk pada salah satu cowok tak lain adalah Vino. Menghampiri mobil box di hadapannya dan mengambil tiga boneka yaitu olaf Frozen, beruang kutub kecil, dan teddy bear berukuran besar.