Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Boneka


__ADS_3

Sama dengan mereka Fiza juga sama terkejutnya tak habis pikir Vino bisa membongkar identitasnya yang sebenarnya.


Kringgg… Samar-samar bel berbunyi mengisi keheningan luar toilet sekolah itu, dua cewek yang baru saja mendengar cekcok itu, langsung menuju kelas masing-masing. Fiza memikirkan bagaimana nasibnya disekolah besok, menatap punggung kedua siswi itu, entahlah memikirkannya membuat Fiza pusing. Melangkah tidak menghiraukan Vino disamping, mengejar cewek itu.


Sedangkan Stella masih tak berkutik dia mencubit pipinya berharap kenyataan ini hanyalah mimpi semata.


Ternyata ini bukan mimpi, buktinya dia mengaduh sakit pada pipinya. Tak menyangka dugaannya salah menuding Fiza sebagai anak pengemis beasiswa..!, pantas saja dia tak di iziinkan mengambil data-data gadis itu disekolah ini bahkan melihatpun di larang keras oleh guru BK dengan alasan itu adalah surat privasi. Iya privasi Stella tahu itu, tapi tidak sebegitunya kali melarang.


Dan ternyata juga suruhannya yang selama ini di perintahkan mengawasi Fiza, informasi yang dia minta mengenai hidup Fiza tidak akurat, padahal Stella sudah membayar suruhannya mahal. Jadi deskripsinya dia di tipu mentah-mentah, dan gawatnya ini tak ada keluarga yang tahu atas kelakuan Stella yang ceroboh.


Berjalan dengan gusar melewati dua kelas 11 IPA, Fiza menggendong tas punggungnya karena hari sudah jam 3 siang lewat lima menit, diikuti oleh Vino yang terus meminta maaf tapi Fiza tidak menggubris perkataan cowok yang sedari tadi menunggu diambang pintu ruangan kelasnya, karena kelas sebelas berada lantai dua jadi dia menuruni tangga.


"Za, maaf" Kali ini Vino meminta maaf untuk kesekian kalinya menatap gadisnya memelas membuat Fiza ingin tertawa. Baru kali ia melihat muka Vino meminta maaf sambil ditekuk gitu, itu bukan Vino yang di kenal sebelumnya.


Gadis itu merasa risih akan tatapan sinis siswi-siswi lalu lalang di depannya. Takut mereka memikirkan macam-macam, jadinya Fiza mengode Vino dengan terpaksa dia menatap tajam pria itu menunjuk kebelakang dengan dagunya lalu berjalan melangkah taman belakang sekolah.


Oke, merasa Fiza risih pemuda itu memberhentikan ocehannya. Koreksi maksudnya mohonnya, Vino yang sedikit peka mengikuti Fiza sampai taman bertepatan jalan buntu namun terdapat kursi besi bercat putih.

__ADS_1


"Maaf Za, aku nggak bermaksud buat ngeumbar privasi kamu." Entah kenapa melihat Fiza kecewa begini dirinya menjadi lemah. Tidak seperti biasanya hanya cuek dan jutek.


Fiza tersenyum tipis melihat cowok itu sedikit menunduk, dia juga tidak terlalu mempermasalahkan tepatnya tak bisa marah dengan cowok itu "Kok nunduk?," tanyanya santai kayak tidak ada masalah.


Vino langsung mendonggak menatap gadis yang berusaha menutupi tawanya. Heran saja dengan sikap Vino, pemuda itu kadang dingin dan tegas namun itu depan umum, tapi kalau dekatnya dia menjadi cowok menciut, lemah, atau bahkan manja.


"Maafin nggak?,"


"Menurut kamu aku maafin atau enggak?" Yang ditanya malah nanya balik.


"Ya udah, kamu minta apa asal kamu maafin aku" Vino yang mengetahui kodean dari Fiza yang terdapat puppy eyesnya bahwa cewek itu ingin sesuatu.


"Beneran," Mendadak gadis itu sedang mendapatkan harta karun. Ia begitu antusias kali ini Vino menjadi lelaki pekaan nggak kayak biasanya, pikirnya.


Vino mengangguk pasrah tapi pasti, yang di pikirannya hanyalah maaf dari cewek itu, apapun untuk tuan putrinya cielah…


Ingin mengerjai sedikit pemuda di sampingnya karena dirinya merasa lucu sendiri menatap wajah ditekuk sedari tadi.

__ADS_1


"Mau aku maafin?, Kalau gitu, aku minta boneka"


"Itu aja!, itu sih kecil" ucapnya memainkan ibu jarinya dan telunjuk.


"Cihh sombong" decak Fiza mencibir.


"kamu nggak mau tanya aku minta berapa," Katanya tersenyum menyeringai tipis sembari menaik turunkan alisnya persis apa yang dilakukan si playboy jones Gino menggoda.


"Emangnya berapa?" tanya Vino penasaran tanpa rasa curiga sedikitpun, lagi pula dia curiga kenapa?.


Fiza mengulum senyuman. Itu manis tapi aneh, Vino menelan salivanya merasa perasaannya seketika tidak enak memandang wajah gadis itu.


*****


"DOR…"


"GINO....!" suara menggelegar mengisi keheningan kantin. Stella yang lagi memikirkan masalah beberapa jam yang bikin ia terkejut menjadi semakin terkejut ketika Gino mengagetkan lamunannya. Si playboy cap kadal itu sampai menutup gendang telinganya merasa mau pecah mendengar gadis cempreng itu berteriak.

__ADS_1


__ADS_2