Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Gara-Gara Gino


__ADS_3

Stella menarik nafas terlebih dahulu, menetralkan emosinya. Merasa heran, kenapa ada dia selalu ada Gino, menyebalkan sekali bukan! "Balikin Gino!"


"Ambil aja kalau bisa," ujar Gino sekenanya.


"Balikin. Gino…."


Stella berusaha meraih tangan Gino di atas bertenggerkan lip tint nya, namun itu sia-sia.


"Ini apaan dah," Gino memutar mutarkan benda di tangannya dengan bingung. Lalu matanya beralih membaca merk benda berwarna merah maroon itu "Liptint benefit" gumam Gino sambung, sembari matanya teralih dari liptint itu. Gino membuka tutup lip tint itu dan mendekatkan kepada bibirnya. Dan…


Byurr


"Anjir, kok rasanya gini sih" tutur Gino mengusap mulutnya yang terasa pahit. Gino ingin muntah rasanya, ketika lidahnya bertemu dengan liptint yang rasanya hambar plus pahit.. Pokonya tidak ada khasiatnya sama sekali.


"Sukurin!" cibir Stella meledek.


"Kok bisa lo suka sih rasa ginian ckckck,"


"Mau-mau guelah."


"Anak kecil, gak boleh pakai ini. HARAM!" serkas Gino seraya membunyikan lip tint Stella kebelakang.


"Apaan sih Gino, gue bukan anak kecil!. Balikin nggak…"


"Lo itu masih kayak bocah kelakuannya menurut gue, gak ada dewasanya sama sekali!," sambung Gino mencibir cepat seraya tersenyum lebar. "…Dan ini, gue gak mau balikin" Imbuhnya.


Cihh… Menyebalkan! Stella menatap Gino memelas. Terserah deh, Gino mau mengcapnya apa, cewek itu tidak peduli. Yang penting salah satu benda berharga yang ada di tangan Gino, dia harus merebutnya.


"Kejar gue kalau bisa, wlee" sahut Gino berlari keluar kelas sembari masih meneteng benda mungil itu.


"GINO BALIKIN! AWAS LO YA, GUE BAKAL BEJEK-BEJEK LO" Suara geram Stella memenuhi seantero ruangan. Semua langsung menutup gendang telinga, sebelum pecah. Berlari mencoba mengejar Gino.

__ADS_1


"Balikin aja Gin, brisik" teriak salah satu siswa, menggeleng kepala, serta menutup telinganya heran.


Sementara siswi-siswi yang menyadari kehadiran Vino menatap kagum cowok itu. Jarang-jarang kan bisa melihat dengan dekat wajah tampan itu.


"Mereka kenapa?" tanya Dita polos mengerutkan dahinya dalam sekaligus heran mendapati kelasnya seketika hening, padahal tadi kelas riuh di dengar sampai luar dengan kebisingan Stella dan Gino.


"Kayak gak tau aja lo," sahut Mita.


*****


"GINO BALIKIN! Balikin gak, balikin Gino!" Stella terus mengejar Gino sampai kantin. Semua pandangan murid yang ada di seantero kantin tak terkecuali ibu kantin. Langsung di suguhkan dengan kejar- kejaran Stella dan Gino.


"Gak mau, kejar dulu guenya."


"Gue capek Gino. Udah deh jangan kayak bocil gini," keluh Stella sembari menaruh kedua tangannya dilutut seraya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Gue bukan bocil Stella! Lo yang bocil Stella." umpat Gino setelah membalikan badannya menghadap Stella.


"Balikin Gino,"


"Paan?" tanyanya jengah.


"Lo.. Harus jadi pacar gue"


"Nggak mau!" sungut Stella menolak melototkan matanya.


"Oke. No problem, tapi jangan salahin gue kalau benda ini nggak sampai ke elo"


"GINO IHK NYEBELIN" Bukan Stella namanya kalau pantang menyerah. Dia tak akan mau menjadi anak budaknya Gino… Eh koreksi maksudnya menjadi kekasih pemuda menjengkelkan itu menurutnya, dia tak sudi berpacaran dengan pemuda playboy itu. Stella berjalan maju ke depan Gino berniat mengambil paksa lip tint nya.


Gino yang merasakan pergerakan Stella semakin mereratkan liptint di tangannya.'Ternyata kalau di lihat dari dekat, Stella cantik juga ya' batin Gino bergumam. Namun sedetik kemudian Gino mulai tersadar. Tidak-tidak Gino tak boleh menyukai perempuan kayak Stella.

__ADS_1


"Balikin gak, atau…" Stella menatap intimidasi ke pria di hadapannya.


"Atau apa?," tanya Gino mencoba merilekskan diri.


Stella semakin mendekat, sampai Gino menelan salivanya susah payah. Stella mengulurkan tangannya kepinggang Gino. menggelitiki cowok menyebalkan itu.


Gino yang merasakan kegelihan, sesegera memegang tangan gadis itu. Agar memberhentikan tindakan Stella.


"STELLA BERHENTI, GELI IHK"


"Gue nggak mau lepas lo sampai elu balikin liptint gue" bentak Stella menggelitiki Gino membabi buta.


Prang


"Gino…! LIP TINT GUE…..!!!" Stella menatap miris ke arah botol lip tint miliknya yang sudah pecah, dengan isinya yang berceceran kemana-mana di atas lantai kantin.


Semua penghuni kantin bergidik ngeri. mendengar teriakan histeris Stella yang memekikan gendang telinga.


Gino kembali menelan salivanya, bergidik ngeri ketika pandangannya bertemu dengan Stella. Menatap ke arahnya sorot mata tajam siap menerkam. Seketika atmosfer di sekitarnya terasa berubah mencekam. Stella kembali menggelitiki Gino membabi buta dengan tatapan gelap.


Sampai akhirnya...


Bruk


"GINO, STELLA. KALIAN NGAPAIN"


Gino dan Stella mengalihkan pandangan, manatap gadis yang kini menatap keduanya tajam dengan melotot. Gemuruh di hatinya langsung nyut, ketika melihat Gino dan Stella berakhir saling merangkul saat keduanya berjatuh. Posisi keduanya kini sangat intim, sampai murid dikantin terkejut sekaligus menutup pandangan, mereka tak mau mata mereka ternoda dengan sungguhan di depan. Stella sedang menindih diatas tubuh Gino. Sedangkan Gino hanya merangkul pundak gadis itu.


"Tania," gumam Stella sembari membenarkan posisinya, begitupun dengan Gino.


"Nggak nyangka gue Stell" sahut Tania geram. Dia langsung melangkah melewati Stella.

__ADS_1


"Tania tunggu!!" ucap Stella ingin mengejar Tania. "Awas lo ya urusan kita belum selesai!" Stella menatap Gino yang lagi membersihkan bokongnya. Mengejar Tania!


...----------...


__ADS_2