
Vino mencari parkiran sekitar area ini. setelah memarkirkan mobil nya, pemuda itu menerawan hoodie, kaca mata hitam, serta topi memper- tampan tampilan nya.
Beberapa kali Fiza berdecak kagum dengan pemandangan di depannya. Tempat yang dapat menyilaukan mata, banyak orang berlalu lalang ke sana kemari.
"Kumu suka?" tanya Vino manik mata hitam nya tanpa henti menerawan wajah cantik gadisnya itu yang terus menyunggingkan senyum indah dan jangan lupakan mata bulan indah yang menyipit menyesuaikan cahaya minim mentari.
"Banget!" jawab Fiza. Lalu membalikkan tubuh ke samping di hadapan Vino. "Tapi kamu ada apa ajak aku kesini?" tanya nya berubah menjadi polos.
"Kita kan gak jadi pasar malam kemarin. So hari ini aku mau kamu nikmatin semua nya!" tutur Vino jelas.
Fiza hanya angguk-angguk kepala menanggapi, lalu mata nya tak sengaja menatap bianglala yang dari kemarin ingin di naikinya.
"Kamu mau naik itu?,"
"Emmm..itu terakhir aja. Pertama aku mau nya… Roller coaster" tutur Fiza seketika senyum kembali mengembang mata nya memandang jauh ke arah orang yang berteriak menaiki rollercoaster. "Boleh ya?," tanya nya meminta persetuju-an Vino.
Wahana bermain, Vino tidak suka tempat keramaian, di sana pasti pemuda itu tidak nyaman, bukan nya Vino takut tapi ia memikirkan Fiza, soalnya itu adalah salah satu permainan ekstrim yang sudah beberapa kali Vino coba tingginya 30 m dan hasil nya semua penumpang turun menumpahkan semua mual dan muntah saking degdegan nya. Sejenak Vino terdiam, seperti sedang memikirkan permintaan gadisnya, kalau di izinkan pasti om marcel bakal marah mengetahui anak nya, dia bawa naik permainan ekstrim itu sampai sakit, mengetahui Fiza mempunyai Maag dia menjadi ciut. Namun om marcel juga pernah mengatakan bahwa, kalau Fiza masih bersikeras, mau diapa, daripada menimbulkan penyakit.
__ADS_1
"Ihk Vin?" Entah sudah berapa kali Fiza memanggil manggil nama pemuda di hadapannya, Fiza tidak tau. Yang dia tahu hanyalah Fiza ingin menaiki wahana di pojok sana. Kayak nya seru, pikirnya dalam hati bermonolog.
"Ya" Vino langsung tersentak kaget, mengejapkan mata nya balik kaca mata.
"Hei jangan ngelamun mulu ntar kesambet. Ayok," Fiza meraih tangan Vino, dan yang di tarik hanya pasrah mengikuti kemana gadis nya melangkah.
"Mau kemana?" tanyanya memberhentikan langkah keduanya.
"Roller coaster."
"Jangan!"
"Ntar kamu sakit, aku yang di salahin papa kamu. udah kita naik biang lala aja"
"Tapi kan, aku mau naik roller coaster. Katanya kita kesini mau nyenengin aku" ucap nya lirih mendadak ngambek kepada pemuda itu, mencebikkan bibir nya sambil mengalihkan atensi dan mata nya sudah berkaca-kaca.
Astaga! Bikin Vino makin gemes. Nampak pemuda itu menarik nafas gusar, lalu tangan nya mengacak lembut puncak kepala Fiza sembari berkata, "Yaudah, ayo." tantu saja itu membuat Fiza mengembangkan senyum nya kembali. Gadis itu kembali menarik tangan Vino berlari menghampiri wahana ekstrim yang menurut Fiza kelihatan sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Vino, Fiza!" panggil seorang gadis berambut panjang hitam lurus, dan pekat membuat keduanya tersentak kaget. Dengan cepat dan reflek Fiza langsung melepas tautan tangannya, namun Vino malah menarik dengan erat sehingga Fiza hanya pasrah.
"Hai." sapanya mata nya langsung menatap bawah tangan kedua tangan saling bertautan.
"Hai juga Grace" balas Fiza.
"Kalian mau naik rollercoaster ya?" tanya Grace memalingkan mata nya keatas.
"Iya."
"Boleh gue bareng?"
"Nggak/Boleh" jawab Vino dan Fiza berbarengan lalu saling memandang.
"Boleh apa nggak nih?" tanyanya lagi memastikan.
"Boleh, boleh banget malah" jawab Fiza senyum tipis atensinya menatap Vino yang hanya mendengus kesal. Sebenarnya dia juga ingin menghabiskan waktu bersama Vino di dufan ini berdua, tapi cewek itu tidak enak menolak keinginan Grace.
__ADS_1
Sementara Grace tersenyum penuh kemenangan ke arah Vino. Sangat menyebalkan, batin Vino.
...****************...