Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Samar Dan Jelas


__ADS_3

Hari berganti hari tidak terasa tinggal satu hari pertandingan bola basket di adakan. Sekarang Vino memarkirkan motor nya di halaman rumah besar di hadapannya tak lain kediaman gadisnya.


"Kamu pulang gih, pasti kakak capek" tutur Fiza sembari melepas gesper helm dibantu oleh Vino.


"Ngusir nih cerita-nya,"


"Bukan gitu, tapi kan kakak besok tanding."


"Iya-iya."


Cup


Vino mencium tangannya, lalu menempelkan nya di pipi Fiza. Seperti yang sudah dikasih mantra pipi Fiza langsung merona, namun buru-buru gadis itu membalikan badan, jadi Vino tidak melihat. Tapi pemuda itu yakin, saat ini muka Fiza memerah bak tomat. Karena itu Vino segera melajukan si merah pergi dari sana.


"Apasih, ga jelas" gumam Fiza lalu dia menyunggingkan senyum manis. Fiza memasuki rumah nya dengan terus tersungging senyum manis.


"Bucin…" Satu kata buat Vino dan Fiza dari Reza. pemuda itu berdiri diambang pintu dengan memainkan kuku nya dan masih bertengger tas dipunggung.


"Iri bilang abang!" sahut nya datar.


"Dihh iri, ngapain gue iri?"


"Jomblo!" kata Fiza lalu melenggang naik ke atas meninggalkan Reza yang sudah tersalut kesal mendengar cibiran Fiza.


"Eh jomblo itu pilihan sendiri, gue nggak perlu butuh pacar, realita gue itu jomblo happy. Emangnya lo bucin!" sungut Reza mendengus kesal. Namun, dia ikut senang melihat sahabat dan adik nya senang.

__ADS_1


Tanpa ia sadar ada gadis di belakang Reza. Datar, itulah dia tunjukan. Entah kenapa dia menjadi cemburu melihat keakraban kakak beradik itu, apa yang membuat nya cemburu? Oh tidak bukan cemburu tapi iri. Dan juga kata yang barusan Reza katakan bahwa realita nya jomblo happy, dia sedikit tidak rela.


"Mita,"


Yah Mita si gadis tomboy yang sudah menyimpan rasa kepada Reza, entah sejak kapan perasaan itu tumbuh Mita tidak tahu. "Gue mau nyusulin Fiza" Mita langsung berjalan dengan begitu cepat. Reza melihat Mita yang kian jauh, menatap punggung Mita dengan keadaan linglung. Apa dia mendengar kata-kata yang keluar dari bibirnya?


Mita mengetuk pintu kamar Fiza tapi tidak ada sahutan dari sang empunya, sudah berkali-kali dia mengedornya, tetap saja dia tidak mendapatkan seruan.


"ARRRGGGHHHH" Suara Fiza berteriak.


"Fiza!" Dengan secepat kilat, Mita memutar kenop pintu memperhatikan Fiza yang sedang mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya duduk di tepi kolom ranjang.


"Sini aku bantuin" seorang anak kecil berumuran 4tahun menawarkan bantuan, mengulurkan tangan berniat membantu Nafiza kecil berdiri. Dengan menyunggingkan senyum memperlihatkan.


"Kenalin, nama aku Aril Giovanno Putra, panggil aja Aril." Masih dengan cekikikan nya, anak kecil itu memperkenalkan siapa dirinya.


"Aril," gumamnya lalu memicingkan matanya melihat bayangan dalam pikiran nya bayangan itu samar-samar di lihatnya. Tidak, hanya wajah pria kecil itu samar-samar.


"*Ini buat kamu"


"Terimakasih Gio*" Fiza mengambil gulali yang di sondorkan Aril kepadanya, lalu mereka terduduk manis di tengah taman kota.


Namun, ini nampak jelas Fiza melihat nya. Dan Fiza mengigat anak itu.


"Gue ingat"

__ADS_1


"I-ingat apa?"


"Taman kota"


Flashback on


Fiza berjalan di koridor menuju parkiran menunggu Vino mangganti baju di ruang ganti anak basket. Tak lama kemudian dia menoleh, lantaran ada yang menanggilnya.


"Ada apa ril?" tanya Fiza heran.


"Gue mau ajak ke perpustakaan nasional dekat taman kota, lo mau nggak?" tanyanya langsung to the poin.


Taman kota,


"Perpustakaan nasional?"


"Iya lo mau nggak" ujarnya begitu antusias ketika dia melihat Fiza tampak senang.


"Boleh! Tapi besok 'kan Reza sama Vino tanding, jadi gue nggak bisa. Next time aja ya, gapapakan?"


"It's ok, lain kali aja. Yaudah gue cabut dulu" Aril berjalan cepat menuju motor nya yang terparkir dengan keadaan kecewa.


Flashback off


...********...

__ADS_1


__ADS_2