
Fiza berdiri pinggir jalan berniat memberhentikan taksi, namun pada saat taksi itu berhenti ada seorang pria yang memanggilnya. Fiza pun menoleh..
'Nafiza,' gumam pemuda itu dalam hati, tak mengedipkan mata nya sekalipun menatap intens indera mata indah milik Fiza.
"Maaf, kenapa ya?," tanya Fiza, namun pria yang dihadapan nya tak mengubris pertanyaan yang dilontarkan gadis itu.
"Kak," Entah berapa kali Fiza memanggil lelaki itu. Dan pria itu masih tak bergeming, akhirnya Fiza menyentuh bahu nya.
"Hah iy-iya," sahutnya tersadar.
"Kakak ken-?," tanya Fiza, namun terpotong saat
Lelaki itu memeluk dirinya, lama tak bertemu membuat nya rindu dengan gadis masa lalunya itu. Sementara Fiza tak membalas pelukan itu, bahkan dia berusaha melepas diri dari dekapan pemuda dihadapan nya.
Fiza terlihat linglung, menatap tajam ke arah pemuda yang memeluknya secara tiba-tiba. Dia merasa risih, dia berpikir, apa pemuda itu stress karena patah hati sehingga pemuda itu memeluk nya??... Atau apa, Fiza tidak tahu..
Begitulah pikiran absurd Fiza.
"Sorry," ucapnya memundurkan langkah nya dengan gadis itu. Dia bingung atas sikap Fiza mengapa gadis itu tak mengenalinya, apakah Fiza lupa dengan sahabat kecilnya dulu atau emang udah lama tak berjumpa jadi Fiza tak mengenali nya.
Fiza tak lagi menatap tajam pria itu, melainkan tatapan nya berubah dingin, sungguh ia tak menyukai tingkah pria dihadapan nya.
Oh iya. ia baru sadar waktu itu gadis ini pernah menabraknya beberapa hari lalu.
"Kamu yang nabrak aku 'kan dikoridor sekolah?"
__ADS_1
Fiza sempat berpikir mengapa pemuda itu mengatakan gadis itu pernah menabraknya, waktu kapan. Bertemu pun baru pertama kali, Fiza berpikir keras. Koridor?, ya Fiza ingat.
"Maaf kak, saya nggak sengaja," ucap Fiza langsung menunduk.
"Umur kamu berapa?," Bukan nya pemuda itu memaafkan nya, dia menanya umur.
"Tujuh belas," Jawab nya gugup.
"Berarti kita sama, jadi kamu jangan manggil kak," ucap pemuda itu "Kenalin aku Aril" sahut nya sambil mengulurkan tangan, dan tersenyum lebar.
Fiza tidak langsung membalas jabat tangan itu, gadis itu hanya diam memandang pemuda yang kini menaikan kedua alis nya.
"Cepat dong, pegel nih tangan gue," umpat Aril mengerutu.
"Eh!, Fiza nama gue Nafiza shabita," Aril tersenyum mendengar nama itu. Nama yang masih terukir dihati nya, dan tak bisa tergantikan.
"Kamu mau pulang" ujar Aril dan dijawab Fiza mengangguk.
"Ini taksi gue,"
"Ouh taksi lo. Maaf ya gue gak tau kalo ini taksi elo, yaudah gue permisi" tutur Fiza. Ingin melangkah pergi tetapi tangan nya merasa tercekal oleh pemuda dihadapannya.
"Ada apa?"
"Gue anter lo,"
__ADS_1
"Gapapa, gue bisa naik taksi lain"
"Lo ga liat ini gerimis dan udah mau malam juga, gue anter ya"
Benar sih, katanya ini gerimis dan sudah mau maghrib jalanan udah mulai sepi. Pasti menunggu waktu lama gadis itu menemukan kendaraan, yaudalah daripada kena omelan Reza.
"Yaudah kalo lo maksa, btw makasih ya atas tumpangannya,"
"Belum juga naik" sahut Aril.
Fiza tersenyum malu, dia ingin membuka pintu mobil tapi ia keduluan Aril yang membukakan pintu mobil untuk nya.
"Silahkan"
"Makasih"
Ckitt..... taksi yang menumpang Fiza sudah sampai didepan pagar hitam halaman luas itu rumah megah itu, Fiza terlihat bingung mengapa pemuda itu mengetahui tempat tinggal nya.
Fiza turun dari taksi itu, dengan keadaan bingung.
"Makasihh.... ta-tapi gimana lo tahu rumah ini?," tanya nya dengan keadaan bimbang.
"Kenapa enggak, ini rumah lo 'kan"
"Makasih sekali lagi," Fiza berjalan cepat kearah pagar. Terlihat pak satpam membuka pintu untuk nona nya. Gadis itu langsung memasuki pekarangan rumah tak memperdulikan pemuda itu.
__ADS_1
Bagaimana pemuda itu mengetahui nya, banyak bertanyaan di kepala gadis cantik itu.
"Aril," Suara itu membuyarkan lamunan Aril, suara Reza menaiki motor sport bersama Mita.