Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Tentang Stella


__ADS_3

Setelah mengantarkan Fiza dengan selamat, Vino segera bergegas mengendarai mobilnya, namun sebelum itu dia menoleh kebelakang dia merasa sedang ada yang memantau nya dari kejauhan, tidak ada siapapun. Udahlah Vino cuek saja, mungkin hanya orang lewat.


Dan benar saja dari kejauhan seorang gadis dengan mobil sport nya, penasaran akan hubungan Vino dan Fiza. "Sebenarnya mereka ada hubungan apa?" tanyanya pada diri sendiri. Lalu dia meninggalkan area perumahan ini setelah melihat mobil Vino sudah tidak ada dari jangkauan nya.


*****


Ditempat lain Gino dan Stella berada saat ini, Danau tempat favorit semua orang ketika ingin menyendiri. Atau ingin berduaan bersama pasangan tanpa ada gangguan, tapi kini mereka bukanlah pasangan.


"Lu nggak mau ngasih selamat ke gue gitu"


"Ngapain?" tanya Stella jutek.


"Yaudah deh gapapa. Tapi satu hal yang perlu lo tau, gue cinta sama lo Stel" ucap nya sungguh-sungguh tanpa menoleh kesamping yang dimana Stella sedang kebingungan akan kata-kata Gino, menatap intens Gino. Entah lah Gino mengatakan itu dalam keadaan sadar, atau hanya sebuah candaan.


"Hahahahaha bercanda lo gak lucu"


"Serius!"


"Apa yang lo suka dari gue"


"Simple hanya satu, body aduhay lo"

__ADS_1


Plak


"Lo sama aja tau nggak, sama pria diluar sana. Sama-sama MESUM" Setelah mendengar apa yang dikatakan Gino, entah kenapa Stella berubah menjadi seperti semula, sifat galak. "Gue anggap ini candaan. Mana mau gue sama lo yang notabene-nya playboy cap kadal yang suka mainin cewek ditambah omongan lo tadi!" tegas Stella emosi, Benar-benar ya Gino, kali ini Stella beneran emosi.


Jleb!


Cewek itu berdiri, membersihkan bokong nya serta membungkuk mengambil tas ransel nya, lalu berniat berlalu meninggalkan Gino yang termenung.


Tapi setelah itu cowok tersebut berdiri dan dengan cepat Gino menarik tangan Stella yang sudah siap melangkah. "Mau kemana?," tanya nya menyahut.


"Gue mau pulang" ujar Stella tanpa menoleh ke belakang menatap balik pemuda yang membuatnya emosi itu.


"Gue anter"


"Gue anter Stella."


"Gue bilang gak ya enggak" Stella menghempaskan tangan yang menghalanginya, melangkah dengan keadaan marah.


Gino menarik nafas panjang, menatap kepergian Stella dengan gusar. "Arrghhh, kok gue sampai ngomong gitu sih akh"


'Lo benar Stell, gue ini playboy yang suka mainin cewek. Terus apa tadi mesum, kok Stella ngomong gitu apa-apaan, apa dia pikir gue cowok gampangan apa. Tapi kalau gue boleh jujur, gue ngerasa nyaman sama lo Stell bukan nyaman sebagai kakak ke adik-nya.' gumaman Gino dalam hati.

__ADS_1


Stella melempar tas nya di atas sofa, ruang tamu. Saat ini dia sudah sampai rumah nya, memang danau tempat tadi tidak jauh dari rumah nya. Rumah lebih tepatnya town house, dimana Stella dan Daddy nya serta Mommy nya tinggal.


Seorang pria paruh baya melempar sebuah outfit mini tepat dihadapan Stella "Pake. Terus nanti malam, kamu ke hotel" ucap nya dingin sembari melipat melipat tangannya di dada.


Stella sudah tidak kaget lagi, dia sudah hafal maksud pria itu. Gadis itu tersenyum getir menatap pria di hadapannya. "Bisa nggak sih, gak usah ganggu Stella dulu-,"


"Atau kamu mau aku suruh anak buahku, buat bunuh mommy kamu kalau kamu ngelawan"


"Iya" pasrah Stella memutar bola mata nya jengah.


"Bagus."


"Daddy mau kemana?" tanya Stella melihat pria di hadapannya siap melangkah dengan jaket kulit yang bertengger di tubuhnya.


"Bukan urusan kamu." jawab nya ketus, lalu berlalu meninggalkan.


Tanpa sadar, benih cair sudah melambung di pelupuk mata Stella, mengapa hidup nya setragis ini. Mommy nya sakit keras, sedangkan pria tua bangka itu memanfaatkan situasi.


"Stella" panggil seorang cowok yang memantau sedari tadi pertengkaran Stella dengan Daddynya. "Jadi ini maksud lo"


"Gino! Lo udah tau kan, sebenarnya gue bukan perempuan baik-baik. Jadi lo jauhin gue"

__ADS_1


"Nggak semudah itu Stel, di mata gue lo masih perempuan baik-baik" tutur Gino menatap dalam Stella.


...****************...


__ADS_2