Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Cowok Hobi Basket


__ADS_3

Fiza yang kini berjalan sendiri sambil bersenandung, memegang tasnya yang tertengger di dada. Setelah huru hara beberapa jam lalu saat depan toilet, gadis itu nampak biasa-biasa saja, toh ini juga lambat laun bakal terbongkar… Termasuk hubungannya dengan si cowok most wanted yang menjadi mood booster nya selama ini, meski kadang kayak kulkas berjalan, tapi Fiza sayang.


Tadinya sih Vino ingin mengantar pulang gadisnya. Inikan sudah sore dia khawatir, tapi Fiza melarang, bukan apa-apa sih. Karena tadi guru olahraga menghampiri Vino memberitahu bahwa pemuda itu harus tinggal buat Latihan basket.


Walaupun ini tidak ada pertandingan apapun hanya pemanasan saja di sore hari. Bukan hal pertandingan, pemuda itu ingin mengantar Fiza sebentar, namun Fiza mengatakan bisa pulang sendiri daripada Vino bolak balik rumahnya ke sekolah buang-buang waktu saja, gadis itu juga mengetahui Vino hobi basket, jadi itulah alasan tepat TIDAK ENAK, meskipun hanya lima belas menit mengantarnya, baginya itu buang-buang waktu.


Menunggu halte, mungkin lebih baik Fiza menunggu Vino disini, dari pada nyari taksi atau ojek. Lagian juga Vino sempat bilang kalau gadis itu mau menunggunya silahkan, dia menunggu di halte saja, pria itu hanya sebentar 30 menit cukuplah.


Tiba-tiba terdengar deruman motor di depan Fiza, Fiza mengalihkan atensinya kesamping dan menautkan kedua alisnya. Merasa tak lagi asing dengan muka di balik helm full face itu, sang empupun membuka kaca helm, pandangan mereka langsung bertemu. Cowok itu langsung diam membatu ternyata di depannya adalah Fiza.


"Hai," sapa Fiza tersenyum sangat manis, itulah kata-kata pemuda itu dalam hati.

__ADS_1


"Hai juga" ucap cowok tersebut gugupnya.


"Lo ngapain disini ril!, nunggu siapa?" tanya Fiza mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut jalanan beraspal depannya lalu kembali menatap cowok yang masih setia dengan helm nya.


Aril? yap itu Aril, siswa baru di Wilson namun di sekolahnya dia langsung di julukan si cowok famous. Karena apa, yang pastinya karena ketampanannya juga tidak beda jauh dari ketampanan Vino tapi tetap cowok itu, nomor satu.


"Gue masuk basket, gue ngelihat lo jadi gue samperin" alasannya namun nyata dia sedari tadi mengawasi Fiza dan cowok bersama gadis itu. Sedikit ambigu sih, dia sendiri belom masuk tim inti basket, bagaimana ia mengeluarkan kata-kata itu. Apa karena sekolah dulunya Aril masuk basket, saking gugupnya jadi dia keceplosan.


"Oh" Fiza hanya berooh ria, terlihat acuh. ia sedikit heran apakah pemuda itu langsung mendapatkan formulir basket? tapi dia tak mendengar cowok itu akan masuk basket dan juga formulir? mereka 'kan sekelas tapi Fiza tidak melihat guru olahraga mendatangi Aril.. mungkin pemuda ini hanya berlagak masuk basket.


*****

__ADS_1


Vino baru saja menyelesaikan Latihan pemanasan, dia segera menuju parkiran bersama Adit, Gino dan David. Reza? dia sudah pulang sejak tadi tidak mengikuti pemanasan.


Terlihat Vino mengedarkan pandangannya lalu tertuju pada dua orang yang lagi diam-diaman di halte seberang sana. Kemudian di lihatnya Fiza memegang kepalanya, karena panik dia buru-buru turun meninggalkan motor sport miliknya mengabaikan ketiga temannya itu.


"Kamu kenapa?,"


"Vino" tuturnya bergumam.


"Lo apain PA-," ucapannya belum sempat Vino menyelesaikan pertanyaannya kakinya malah di injak oleh Fiza secara sengaja, gadis itu tahu Vino ingin menekan kata pacar.


"Aduh! kak Vino aku laper nih, kita pulang yuk" alih Fiza, karena tidak mungkin Fiza memperkenalkan Vino sebagai temannya lagi dia tidak enak. Sementara pemuda yang tadi memeluknya secara posesif, menatap Aril dengan mata elangnya membuat siapa saja lihat menjadi bulu kuduk berdiri, namun tidak dengan pria asing yang tak dikenal Vino.

__ADS_1


"Iya, ya udah aku bantu," Vino mengalungkan tangan Fiza ke lehernya menuntun gadisnya yang masih pusing menuju seberang jalan dimana motor dan kawan-kawannya.


"Dia siapa 'ya" gumam Aril menatap punggung Fiza dan Vino kian menjauh.


__ADS_2