Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Fiza Tidak Marah


__ADS_3

"Kamu belum berangkat?, udah jam berapa nih" tanya Kania seraya berujar.


"Belum mah. Aku masih nungguin kak Vino," Fiza mengedarkan pandangannya lurus sampai sudut teras luas rumahnya. "Tapi kok, udah jam segini dia nggak deteng-dateng ya. Apa dia lupa!" celetuknya mengerucutkan bibirnya.


Ting!


Segera Fiza mengecek ponsel yang menyala karena terdapat pesan. Mensroll aplikasi whatsapp seraya melihat pesan terkini dari Vino.


"Kamu kenapa cemberut gitu?"


"Cihh... katanya mau jemput," gumamnya mencibir.


"Udah kamu jangan cemberut, mama panggilin pak Jordy dulu bentar" mama Kania pun berjalan menuju pos security, biasanya di sana pak Jordy mengobrol dengan satpam rumah.


******


Kringgg.....


"Oke hari cuma ini saja ya. Sampai jumpa minggu depan" cakap pak guru sembari membereskan beberapa buku yang bertengger di tangannya. Keluar dari ruangan kelas sebelas IPA 3.


"Terima kasih pak" ucap semua murid segera membersihkan alat tulis masing-masing dan berhamburan keluar.


"Kekantin yuk, laper nih" celetuk Dita berdiri berhadap kepada Fiza yang masih sibuk dengan buku tebal di hadapannya.


"Nggak ah, kalian aja. Gue males, mau disini"


"Yaudalah yuk. Lo mau nitip gak Za?" ujar Nadia sekaligus bertanya kepada Fiza.


"Gak usah"


"Kalau gitu kita kekantin!" ucap Mita


"Hm" deheman Fiza, masih berkutat dengan buku yang masih setia di atas meja.

__ADS_1


Nadia, Mita, dan Dita melenggang pergi dengan keadaan bingung, menuju kantin meninggalkan ruangannya yang masih tersisa Fiza dan Stella yang kini bermain dengan ponsel di tangannya.


"Ekhem. Fiza gue mau minta maaf atas kelakuan semena gue ke lo"


"Gue udah maafin kok" ucap Fiza tersenyum sejenak ke arah Stella yang sudah berdiri menghadap gadis itu.


Stella nampak manggut-manggut mendengar perkataan Fiza.


"Eh. Gue denger-denger, katanya Aril gak masuk karena sakit ya" ujar Stella dengan menyungging senyum manisnya.


"Aril sakit" gumam Fiza memberhentikan kegiatannya dan menatap Stella.


Dikantin. Vino cs kecuali Adit menghampiri Mita dan kawan-kawan.


"Adik gue kemana?" tanya Reza di edarkan pandangannya mencari keberadaan Fiza. Dan kembali menatap ketiga gadis itu.


"Dikelas, katanya males." tutur Mita menduduki kursinya sambil menyimpan nampan pesanan kedua sahabatnya sekaligus makanannya. Sementara Dita menikmati kentang goreng di dalam dekapannya, sedangkan Nadia asik membaca novel bertengger di tangannya "Gue heran deh, daritadi tuh Fiza bad mood mulu"


Vino melangkah menuju warung mbok ijah, membeli Roti coklat dan jangan lupakan botol dingin yang berisi air mineral. Lalu ia menghampiri Reza dan yang lain.


"Eh lo mau kemana?" tanya Gino.


"Kelas IPA tiga." jawab Vino singkat. Pemuda itu sebenarnya mengetahui bahwa gadisnya saat ini sedang ngambek dengannya. Karena Vino tidak jadi menjemput Fiza tadi pagi, dia hanya terlihat acuh. Apalagi Reza tadi meliriknya sekilas. Vino langsung melenggang pergi dari kantin.


"Kita ikutin ajalah" Kata David mulai melangkah di belakang Vino dan kedua temannya mengekori belakang David.


Sedangkan ketiga gadis-gadis, menikmati makanan masing-masing di kantin.


Adit? pemuda satu itu sedang mengurus keperluan OSIS. Karena dia ketua OSIS, Jadi jangan salahkan Adit yang jarang nongkrong bersama keempat sahabatnya.


Vino mengambil kursi yang terletak cukup jauh dari kursi Fiza, gadis itu masih tidak menyadari bahwa ada cowok yang menatapnya intens membaca buku komik miliknya.


Sementara di kursi kolom tiga Stella sedang mengumpat kesal, melihat pemandangan satu ini membuat geram saat melihat sepasang kekasih itu. Apalagi Fiza yang sok asik membaca komik tanpa menyadari kehadiran pemuda di hadapannya, membuatnya semakin geram. Sampai gadis itu meremas kertas di atas mejanya. Ingin melabrak Fiza. Namun apa boleh buat, Stella sudah mendapatkan sanksi kemarin lalu dan dia tidak mau mendapatkan peringatan lagi. Masih beruntung gadis itu sudah di maafkan oleh Fiza.

__ADS_1


"Fiza?," Suara Vino terdengar memanggil gadis yang sedang memfokuskan diri membaca buku komik. Seperti satu kali panggilan tak membuat Vino membuyarkan gadis itu, akhirnya ia menarik komik dari tangan Fiza.


"Za"


"Hm" jawaban gadis itu berdehem tanpa melirik Vino, dia memilih balik badan kedepan, tadi gadis itu bersandar di tembok. Dan pandangannya menatap lurus kedepan menghindari tatapan mengintimidasi pria di hadapannya.


"Bunny, jangan marah dong please" ucap Vino memohon seraya membalikan posisi duduk Fiza, agar gadisnya membalas tatapannya.


"Fiza nggak marah!, Fiza cuma kecewa,"


"Maafin Vino. Tadi tuh ada insiden yang membuat Vino nggak jadi jemput Fiza" sesalnya dengan suara lirih, namun terlihat seksi ketika Vino menyebut dirinya 'Vino' biasanya 'Aku'.


"Emang apa?"


"Waktu aku udah mau nyampe rumah kamu, aku ngeliat pria SMA lain seorang diri di keroyok sama segerombalan anak geng motor. Jadi aku bantuin deh, kalau kamu nggak percaya tanya aja sama Reza." jelas Vino melirik ketiga sahabatnya.


"Iya Za, dan gue juga bantu"


"Tapi kak Vino gapapa 'kan, enggak ada yang luka kan" Spontan Fiza berbalik menghadap Vino memutar belakang Vino, memeriksa suhu tubuh pemuda itu.


"Gapapa kok" ucap Vino memegang tangan Fiza.


Sementara, di belakang Gino beraksi mendekati Stella. Saat gadis itu mencerminkan wajahnya yang terlihat masam. Melihat kedua orang itu membuatnya naik darah, pikirnya. Saat gadis itu mengoleskan lip tint bibir tipis. Tiba-tiba tangan seseorang mengambil lip tint di tangannya dengan mudah. Stella mondogak tercengang melihat lip tint-nya sudah berada ditangan Gino.


Stella menarik nafas terlebih dahulu. Merasa heran, kanapa ada dia selalu ada Gino, menyebalkan sekali bukan!. "Balikin Gino!" serkas Stella jengkel.


Beberapa murid berdatangan berdatangan dan langsung menyaksikan Stella dan Gino yang nampak kek Tom and Jerry ketika bertemu.


"Ambil aja kalau bisa," ujar Gino sekenanya.


"Balikin. Gino...."


...***...

__ADS_1


__ADS_2