Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Roti Jepang


__ADS_3

"Ha Ho, Ha Ho. Kamu bilang tadi 'Minta aja, aku pasti turutin'. Apaansih kalau kamu nggak mau, yaudah ga masalah" sungut Fiza mendengus kesal, suara nya kembali naik satu oktaf memekikan telinga. Kali ini dia sungguh emosi dengan beruang kutub tersebut yang hanya menangapi nya, bukannya pergi malah melanga-melongo bagaimana tak emosi coba. Memalingkan wajah cantik nya ke sembarang arah dan juga melepaskan kasar tangan nya yang sedari tadi terlilit di lengan pemuda itu.


Sabar! Sabar!, Sabar Vino orang sabar di sayang tuhan. Dia baru tahu hormon wanita yang dapat sewaktu waktu berubah-ubah sikap nya, ya ini adalah salah satunya.


"Iya iya, aku bakal beliin. Sekarung pun gak masalah," tutur Vino dingin dan kesal. Sebenarnya dia juga bisa marah, tapi untuk menjadi lelaki gentleman dia tidak bisa marah sama perempuan apalagi ini seseorang yang dia sayang.


"hem, yaudah sana pergi," gumam Fiza acuh, seketika menurungkan suara nya hampir tak terdengar di gendang telinga.


Dia sempat berfikir, apakah Vino marah atas sikap nya?. Terdengar dari nada suara nya yang nampak kesal.


Vino segera membalikkan tubuh nya dan melangkah pergi meninggalkan gadis itu.


'Apa aku keterlaluan?' batin gadis itu menyesal, baru sehari mereka menjalin hubungan ia sudah kelewat emosi.


Baru saja dia ingin menuruni tangga, ia sudah melihat prianya keluar dari rumah nya dan sudah terdengar suara bising motor di depan, ah sudahlah nanti juga pemuda itu balik lagi.


-


Vino sudah melaksanakan perintah tuan putri, pemuda itu mengetok pintu kamar Fiza namun tak ada sahutan dari dalam, karena begitu dia langsung saja masuk ke dalam kamar kekasih nya sambil membobol Roti Jepang itu dalam paper bag.


Diapun meletakan paper bag itu di lantai samping kasur.

__ADS_1


"Pantesan, rupanya tidur" ucap nya tersenyum menatap wajah damai gadis yang saat ini tertidur pulas.


"Kok banyak banget" tutur Fiza suara serak bangun tidur dan nada bertanya.


"Kamu udah bangun" ucap nya setelah mendongakan kepala, menduduki tubuh nya dekat Fiza. Lalu tanpa sengaja ia melihat mata gadis itu tampak sembab seperti nya ia habis nangis.


"Kamu kenapa hem?"


"Jangan pergi, maafin aku" lirih nya


"Maaf? Maaf untuk apa?" tanyanya sembari mengerutkan dahinya dalam.


"Kamu marah?"


"Yaampun Vino" tawa kecil Fiza sambil menepuk kening nya pelan. "Banyak banget" Imbuh nya.


...-Flash back on-...


Dan di Swalayan kini kedua pemuda itu berada.


David bertanya-tanya pada dirinya mengapa mereka berdiri di barisan dimana Roti Jepang berada, sebenar nya Vino membeli obat atau benda yang dihadapan nya yang di beli.

__ADS_1


"Aish…Gue balik aja lah" gumam David.


"Kemana?" tanya Vino datar menatap jengah mencekal pergelangan tangan David yang berniat kabur. "Sebagai sahabat yang baik, lo bantu gue lah" Sambung nya dingin tanpa intonasi.


David menelan saliva nya susah payah melihat Vino yang menatap nya dengan tak bersahabat.


"Iya dah. cepatan ambil,"


"Menurut lo yang mana?" tanya Vino sedikit bingung, pasalnya gadis berambut panjang itu tidak memberitahu nya yang mana Roti Jepang di maksud nya.


"Mana gue tau" Diapun menahan tawa.


"Whahaha…Vino Vino." Akhinya dia tak kuat menahan tawa.


"Emang nya Fiza gak kasih tau lo" lanjut nya sambil menyeka sudut mata nya akibat gelakan nya.


Kan apa kata Vino, David akhirnya menertawai nya. Tapi pemuda itu hanya cuek, Vino mengoleng kepala nya.


"Beli beginian aja ribet amat, pake ada panjang kali lebar kali tinggi, segala sudut pun dihitung cik," umpat David.


"Vin beli aja segala merek, kalau perlu banyakin" ucap David sekena nya, karena jujur dia merasa risih dengan banyak nya ibu-ibu berlalu lalang berbelanja bulanan.

__ADS_1


Sedangkan Vino, ia tampak tenang-tenang saja. Dia sudah tidak malu, lagipula apa yang di permalukan yang pakai juga bukan dia.


...-Flash back end-...


__ADS_2