
Drt… Drt… Drttt..
Suara ponsel membuyarkan lamunan nya, Fiza langsung menggapai handphone nya di atas nakas, menatap nanar. Tak lama senyum indah terukir di sudut bibir saking senang nya. Gadis itu langsung mengangkat sambungan telepon.
"Kamu dimana sih??, ko telpon aku gak dijawab?. Kamu tau gak aku tuh khawatir tau, panik, kesal sama kamu. Ga biasanya lho kamu kayak gini!" Cerocos Fiza mengeluarkan unek unek nya yang tertahan sedari tadi, lewat sambungan telepon membuat diseberang sana terkekeh mendengar suara ocehan itu, baru satu hari dia sudah merindukan suara wanita mungil seberang sana, apalagi kalau bertemu langsung.
Tut!…Tut!…Tut!
"Ikh… kok malah di matiin sih, dia nggak kangen sama gue" gerutu Fiza pada diri sendiri.
Lalu ia berniat menaruh ponsel nya kesemula, tapi beberapa detik ponsel nya kembali berdering. Dia mengecek, Fiza merasa di acuhkan. Namun, begitu ia langsung mengangkat sambungan Vidcall itu. Memalingkan wajah mungil nya kesembarang arah asal tidak mengarah keponsel nya.
Vino yang di seberang sana menatap gadis yang di rindukan hanya terkekeh. Masa gadis itu masih memakai seragam sekolah, dia sudah menebak pasti, bahwa Fiza sampai tidak langsung bersih-bersih, melainkan menunggu kabar dari dia.
"Maaf, aku ga ngangkat telepon kamu karena hp aku rusak,"
"Hm" dehem Fiza datar
Vino menarik napas gusar "Percuma dong aku beralih ke sambungan Vidio, kangen lihat wajah cantik kamu. Bukan malah atap kamar kamu," ucap nya mengerutu. "Aku tutup ya" imbuh nya nada mengancam, namun sepenuh nya itu hanya sebuah ancaman belaka agar gadisnya ingin memalingkan netra nya ke wajah tampan nya itu, walaupun mereka LDR-an sementara.
__ADS_1
"Jangan," bantah nya. Fiza langsung beralih menatap handphone nya, sekaligus menatap wajah tampan yang tersenyum itu.
"Aku rindu" Gumam Fiza dengan wajah masam.
"Aku juga sayang," ujar Vino mengeluskan layar HP-nya. "Kamu tunggu ya, enam hari lagi"
"Ck lama"
"Sebentar kok," sanggah Vino.
"Itu sih, menurut kamu," desis Fiza mengigit mulut nya tipis.
"Janji?," Fiza segera mengangkat jari kelingking nya. "Aku tunggu kamu lho" imbuh nya berujar.
"Janji!" seru Vino menemperkan jari kelingking nya ke layar ponsel nya, menautkan jari kelingking dengan Fiza, walaupun secara virtual. Bagi nya kalau sudah berjanji, maka harus ditepati. "Oh iya, gimana sekolah kamu"
"Aku senang tau, tadi aku nolongin Stella," cakap Fiza mulai bercerita. "Dia udah mulai ramah sama aku" Kata Fiza antusias, Vino hanya menyimak setiap perkataan gadis itu, dengan tak berminat, tapi mencoba untuk senyum.
Tok... Tok... Tok
__ADS_1
"Permisi neng, bibi bawain makan malam"
Fiza yang mendengar teriakan bi Sari, netra nya beralih menatap pintu.
"Masuk aja bi, nggak aku kunci ko" Sahut Fiza mempersilahkan bi Sari.
Ceklek…..
"Di makan ya, neng" Beliau menaruh nampan di meja kaca di hadapan sofa kamar gadis itu.
"Iya bi, makasih"
Bibi pamit Kepada Fiza yang kini terduduk disofa di hadapan makan malam nya.
"Kamu makan gih, aku tungguin"
"Kamu jangan matiin,"
"Hm"
__ADS_1
Tak terasa, mereka mengobrol sampai larut malam sekitar jam 11, Untung saja bibi Sari membawakan makan malam, karena perbedaan 1 jam dari jakarta- singapura. So, singapura dijuluki kota 'singa' itu sudah jam 12 malam