
Dikamar, Vino mengambil gitar yang bertengger di temboknya. Lalu ia melangkahkan ke balkom, menikmati semilir angin malam menerpa wajah tampannya. Menduduki kursi besi sembari menselonjorkan satu kaki diatas lutut.
Sudah lama juga dia tidak bermain gitar. Dipetik
nya gitar dipangguan nya seraya bersenandung dan matanya terpejam menikmati angin malam yang cukup membuatnya tenang.
Ting!
Notifikasi ponsel membuatnya membuka mata. Vino mengambil ponselnya di atas meja.
Aku akan kembali ke jakarta besok, tunggu aku! -unknown
"Siapa?" gumam Vino mendelik tajam mengintimidasi, kebingungan. Tapi yasudalah..Ia pun tak memperdulikan nomor tidak ia kenal itu. Mendingan pemuda itu segera berdiri dan menyeret gitarnya untuk masuk ke dalam. Menggantungkan gitarnya dan siap merangkak ke atas kasur.
Vino menemperkan tangannya di atas bantal dan di bawah kepalanya sebagai bantalan. "Papa, Mama..!" ucapnya bergumam sembari merekahkan senyum setelah mendengar gumamannya. "Menarik juga" lanjutnya berujar. Kemudian memejamkan matanya, terdengar deru nafas beraturan pertanda Vino sudah terlelap dalam mimpi indah nya.
******
__ADS_1
Keesokan harinya. Vino menjemput Fiza, kini ia memberhentikan sejenak mobilnya. Karena netranya menangkap anak muda yang memberhentikan motornya tepat di depan gerbang rumah gadisnya.
Vino menurun, pria itu menyeret langkah nya mendekati pria berseragam sama dengan dirinya.
'Vino.' Aril tercengang sembari menyadari keberadaan pemuda dihadapannya.
"Lo anak IPA kan?"
"I-iya"
Aril tertegun sejenak mendapat pertanyaan itu. "Gue cuman lewat aja. Gue duluan!" gugupnya dan berlalu meninggalkan Vino seorang diri.
Tidak lama, Fiza memperlihatkan batang hidungnya di balik gerbang, tersungging senyum yang cerah secerah dipagi hari. "Tadi ada Aril ya?."
"Aril?." tanyanya. "Oh iya, tadi teman kamu?"
Fiza menggangguk. "Yaudah yuk, udah jam segini" Fiza mengalihkan pembicaraan. Mengerti dari tampang seketika datar kekasihnya itu, bahwa dia tak di izinkan Vino berteman dengan pria.
__ADS_1
Vino dan Fiza langsung menaiki mobil. Namun ketika ingin mengendarai kendaan nya terdengar dari dalam suara bariton yang berteriak memanggil little couple, berlari menghampiri mereka.
Vino menaikan alisnya sambil tangannya bersekedap depan dada, menanya isyarat alis dengan dingin yang menurut Reza, itu sangat menyebalkan.
Terlebih dahulu Reza mengatur deru nafasnya yang tercengal. Sungguh Reza sedikit lelah berlari jauh dari tangga turun ke teras dan di tambah lagi halaman rumah yang cukup luas. "Gue mau numpang ke kalian!" ucap Reza menyengir menatap keduanya bodoh.
"Boleh/Gak" ucapan dan sertakan Fiza dan Vino bersamaan.
"Ya, Kalian kan naik mobil. Sementara gue motor ada di bengkel sedangkan mobil gue di pakai sama mama buat arisan bentar. Bolehlah Vin"
"Udahlah biarin aja, udah kesiangan nih"
Vino mengangkat dagunya, membiarkan pemuda itu menumpang kesekolah bersama. Pemuda itu sebelumnya mengalihkan atensinya menatap Fiza yang mendelik tajam, karena takut gadis itu kembali ngamuk kepadanya membiarkan Reza masuk.
Sebenarnya itu cuma alasan belaka Reza, mobil nya hanya berada di dalam garasi. Untuk apa mama nya meminjam mobil tersebut, sementara mamanya mempunyai mobil sendiri. Dan motornya itu bukan lah sebuah alasan, mamang benar motor Reza berada di bengkel langganan keluarga. Hanya saja dia ingin membuat cowok itu kesal, dan terus mendengus sebal akan keberadaannya tidak bisa menggenggam tangan Fiza leluasa karena Reza langsung memasuki jok depan samping supir eh maksudnya Vino.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1