
"Hahaha… Gue seneng banget, bisa ngerusak image Fiza dihadapan temen-temen"
"Tapi Stell-" tuturnya berhenti. Karena ada bapak guru yang menghampiri meja mareka dan langsung memotong perkataan Tania.
"Stella! kamu dipanggil sama pak marcel" Terlihat dari sorot mata yang tajam menatap Stella intimidasi, seakan tahu apa yang dilakukan anak itu kepada Fiza.
"Saya pak?" tanyanya memastikan pendengarannya. Baru kali ini dia dipanggil oleh pemilik sekolah ini, padahal dirasa tidak ada salah apapun. Kecuali...
"IYA KAMU!"
"I-iya pak" Stella pun mengekori pak guru itu dengan hati-hati.
-
"Ada apa 'ya, bapak memanggil saya"
Tadinya guru BK sudah berbicara bahwa dia saja yang menghukum Stella atas tindak semena-menanya. Tapi papa Marcel menolak. Bukan apa-apa dia cuma ingin melihat anak yang tega melakukan ini kepada anak bungsunya.
"Saya tau. Kamu sudah memfitnah anak saya" ujar Marcel dengan gaya wibawanya. "Fiza" lanjutnya.
Astaga! saking obsesinya dengan Vino, gadis itu sampai melupakan Fiza sebagai anak pria di hadapannya sekaligus anak pemilik sekolah Wilson. Stella terkejut dia baru tersadar siapa lawannya itu, terlihat jelas wajah Stella yang langsung berubah pucat pasi. Gadis itu nampak susah payah menelan salivanya takut dengan pria paruh baya di hadapannya.
"Jadi lo udah fitnah gue dan Vino" sahut Fiza seakan tak percaya, perempuan yang dianggap teman olehnya, walaupun Stella tak menganggapnya sedikit pun sebagai teman. Tega melakukan hal ini, kali ini gadis itu sudah benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia mengfitnah Fiza, apa salah gadis itu sehingga berani melakukan ini semua tanpa tahu apa resikonya kedepannya. Ah… dia tak habis pikir!
Sementara diluar, Gino berjalan dengan tergesa-gesa. Melangkahkan kakinya menuju taman belakang sekolah dengan nafas tersengal, mencari ketenangan untuk menghubungi Papinya.
__ADS_1
"Hallo pih!"
"Kenapa Gin"
"Gawat pih, Stella bikin masalah! Stella bikin masalah sama Fiza!"
"Fiza? Fiza adiknya Reza. Anaknya Marcel"
"Iya pih. cepatan kesini nanti Gino jelasin"
"Iya iya nak"
-
Setelah menunggu sekitar beberapa menit, akhirnya Daddy Stella di persilahkan masuk, amarahnya memuncak ketika pandangannya bertemu dengan Stella. Sebelumnya Daddy Stella sudah mengetahui permasalahan Stella dan kedua orang yang tak dikenalnya. Pria itu langsung menghampiri Stella yang sudah berdiri menghadapnya dengan santai, menatap memelas ke arah Daddynya. Tangan pria paruh baya itu terangkat berniat menampar Stella. Tapi di tahan oleh seseorang pria sebayanya mencengkeram kuat .
'Dika! Akhirnya kita bertemu lagi!.' Ucapnya dalam hati menatap tajam kepada pria di hadapannya.
Fernando menghempaskan tangan pria itu dengan kasar. Dika menelan ludahnya susah, seketika tubuhnya menjadi kaku. Sedangkan Fernando menatap tajam pria sebaya di hadapannya itu. Tak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Suami mantan wanita dulu pernah mengisi hatinya ternyata mempunyai sikap kasar terhadap Stella yang notabene-nya anaknya itu.
Yah, inilah kenyataan pahit yang di sembunyikan keluarga Fernando bertahun-tahun dari Stella.
"Fernando," panggil Marcel menepuk punggung pipi teman anaknya itu.
Perlahan Fernando melepaskan cengkeraman tersebut, menatap teman partnernya yang kini merangkul punggungnya, dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"kenapa kesini?" tanyanya.
"Ah, Itu tadi… " Dia menjeda sebentar "… Tadinya aku mau minta izin buat Gino soalnya ada urusan. Eh..pas aku sampai, aku melihat keributan," ucapnya seraya menyelipkan alasan yang tepat.
"Maaf ya, atas kegaduhan ini"
"Tidak apa-apa"
"Kamu duduk dulu. Mari pak" Setelah beralih kepada Daddy Stella, papa Marcel kini menduduki sofa tunggal yang berada disamping Fernando Papi Gino.
"Ya"
"Iya"
"Marcel! ini ada apa?, kok saya lihat sepertinya ada masalah"
"Oh ini.. Memang ada masalah"
"Masalah apa?"
"Biasa urusan anak muda" Dia bilang begitu, karena sekarang Marcel sudah tahu letak kesalahannya apa. Melalui tatapan tajam Stella tadi kepada Fiza lalu beralih kepada Vino, dan pria paruh baya itu mengetahui kodean yang diberikan Stella kepada Fiza.
Stella yang tadinya menunduk, kini mendongak. Menatap wajah Papi Gino intens, selama ini dia tidak pernah bertemu dengan pria tua itu, baru kali ini. Kali pertama melihat Papi Gino. Menatap lama muka pria di sampingnya sampai dia kepergok dengan sang empunya, tersenyum tipis menatap wajah gadis itu.
Aneh! Stella merasakan ada getaran dihatinya, hanya karena bertemu dengan pria tua itu. Entahlah kenapa berada di samping pria itu nyaman yang dirasa oleh Stella, tidak seperti pria yang sedang menatap intimidasi ke arahnya.
__ADS_1
*****