Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Menjenguk Aril


__ADS_3

"Fiza, Mita, Nadia, Dita duluan ya. Udah dijemput soalnya"


"Iya ati-ati!" sahut Mita sembari memfokuskan pada ponsel yang bertengger di tangannya.


"Emangnya Dita mau kemana di suruh ati-ati" ucap Dita polos.


"Ya sapa tau di jalan lo kecelakaan"


"Astaghfirullah Mita, kamu berdosa banget sih. Ucapan adalah doa, aduh jangan sampai deh" umpat Dita menggeleng kepala merasa sebal dengan sahabatnya satu ini.


"Iya dah iya. Udah sono lo pulang, di cariin sama mami. Dasar anak mami." cibir Mita mengalihkan pandangannya sekilas menatap Dita yang tengah menggaruk teguknya bingung.


"Ih… Mita, Dita bukan anak mami" serkas Dita sembari melangkah keluar dari lapangan basket seraya menghentak hentakan kakinya kesal.


"Serah lu dah," gerutu Mita sedikit berteriak.


Fiza dan Nadia yang melihat dua gadis itu saling berseteru, hanya menggeleng. Maklum udah lama tidak adu mulut.


"Gue duluan juga ya Za, Ta" pamitnya.


"Iya" ucap Fiza dan Mita berbarengan.


Nadia menggendong tas ranselnya dan melangkah ke parkiran. "Bye" Nadia melambaikan tangannya di balas lambaian tangan juga oleh Mita dan Fiza.


Mita kembali memfokuskan kepada Handphone nya. Mengirim pesan singkat pada ibunya, bahwa dia terlambat pulang karena mereka berada di pinggir lapangan. Menunggu Vino dan Reza selesai berganti baju di lapangan basket (in-door).


"Em Ta," ucap Fiza sedikit kebingungan mengatakan ini kepada sahabatnya itu.


"Napa?" tanya Mita menatap Fiza.


"Temenin gue"


"Mau kemana?" tanya Mita penasaran karena jam segini Fiza sudah ingin pulang, jika tidak ada aktivitas lain selain menunggu kakaknya.


"Gue mau jengukin Aril," ucap Fiza ragu.


"Jengukin Aril?. Ngapain gak usah," ujar Mita.

__ADS_1


"Ya udah kalau lo gak mau, gue bisa pergi sendiri" Fiza mengeratkan tas yang bertengger di punggungnya dan segera melangkah keluar dari lapangan basket.


"Eh.. Eh, mau kemana lo?"


"Ta… Aril tuh temen sekelas kita, masa teman nggak jengukin sih" sungut Fiza.


"Oke fine!, kita jengukin Aril. Tapi sebelum itu, lo izin dulu sana sama Reza dan Vino!" ujarnya pasrah menuruti permintaan Fiza.


"Gak ah!" tolak Fiza. Fiza tahu pasti, bahwa Reza pasti tak mengizinkannya meskipun hanya sebentar.


"Kenapa?," tanyanya.


"Lo tau sendiri 'kan, bang Reza tuh kadang posesif banget kalau udah terlanjur sayang, bisa aja kan dia wanti-wanti gue"


"Iya juga sih, kadang Reza tuh lucu kalau lagi posesif!"


"Kenapa jadi bahas dia sih. Udah yuk, keburu selesai mereka" gerutunya. Fiza menarik paksa tangan Mita.


"Eh tunggu dulu, emang lo tau alamat Aril?,"


"Ga juga sih hehe…"


"Ihk…'kan gue bisa minta datanya Aril Mita"


"Iyaiya ya"


"Udah yuk"


*****


Kedua gadis itu sudah depan pintu rumah besar berjulang tinggi di hadapannya, bersama Mita yang sedang mengumpat kesal karena sedari tadi perempuan itu terus menariknya.


Tok… Tok… Tok…


"Assalamualaikum. Permisi" ucap Fiza mengetok pintu berjulang di hadapannya.


"Za…" gumam Mita.

__ADS_1


"Udah lo diem aja," ujar Fiza.


"Waalaikumsalam" Wanita paruh baya terlihat membuka pintu utama.


"Tante" sapa Fiza ramah menyunggingkan senyum indah di bibirnya.


"Fiza, Mita." Ibunda Aril terkejut melihat dua gadis berdiri diambang pintu. Bukannya apa, mereka berdua sudah lama tidak mengunjungi rumahnya itupun hanya mereka waktu kecil saja.


"Tante kenal nama kita, emang kita pernah ketemu ya tan?" tanya Fiza heran, heran rasanya baru pertama kali bertemu dengan wanita itu.


"Ah iya, Aril pernah cerita sama mamanya tentang teman-temannya di sekolah" Wanita itu sudah mengetahui kenapa Fiza tidak mengenalnya. Karena sebelum Aril memasuki sekolah Wilson, pemuda itu pernah menceritakan apa yang selama ini di derita oleh Fiza, hingga ia tak mengenalnya.


Fiza mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut mansion tersebut. Sudah sedari tadi dia sudah merasa aneh dengan rumah di mana dia berdiri saat ini. Gadis itu merasa tidak asing lagi dengan mansion itu. Tapi siapa wanita paruh baya di hadapannya??


Fiza memegang kepalanya, pusing "Aww"


"Fiza lo kenapa?" tanya Mita memegang pindak Fiza.


"Aw…" rintih Fiza.


"Bawa kesini Ta"


"Iya tante"


"Gue gapapa, lo nggak perlu khawatir"


"Kita pulang aja ya"


Fiza menggeleng "Nggak" ucapnya dengan penuh penekanan "Tante kita mau jengukin Aril."


Mita dan ibunda Aril saling memandang satu sama lain.


"Yaudah tante antar ke kamar Aril!" kata ibunya Aril melangkah menuju lantai dua dimana kamar anaknya. Fiza dan Mita mengekori wanita itu, dengan Mita menuntun Fiza.


*****


"Eh…tunggu bentar, Mita SMS nih!" ujar Reza sembari menatap ponselnya yang menyala akibat bunyi pesan singkat.

__ADS_1


"Apa katanya?" tanya Vino.


"Mereka berdua udah pulang,"


__ADS_2