Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Dilema Vino


__ADS_3

Sekarang keempat gadis itu berada di kamar Fiza. Sedangkan di bawah terdapat Reza dan teman-temannya tak lain dan tak bukan Vino cs.


Adit, David, Gino dan Reza sedang beradu di layar PS secara 2 lawan 2, sementara Vino sedang bergelut dengan pikirannya, setelah bertemu dengan Fiza dan kawan-kawan dia mendadak bisu tak selalu seperti ini. Tadi Fiza berlalu tiba-tiba melewati para cogan yang ada dihadapannya tak seperti Mita, Nadia, dan Dita mereka menyapa Vino dan kawan-kawan terlebih dahulu sebelum mengikuti Fiza yang berlalu ke dapur lalu kekamar. Apa karena tadi pagi, apa gadis itu tersinggung karena menyatakan perasaannya begitu cepat tanpa mau PDKT-an dulu dengannya, mungkin. Tapi entah lah Vino menepis pikirannya dan berselancar di Sosial Media miliknya.


Vino adalah seorang selebgram. Followernya sudah mencapai ratusan juta bahkan miliaran serta ribuan kebanyakan itu Fansnya gadis-gadis dan wanita-wanita tapi Vino selalu cuek dengan panggilan-panggilan investor yang mencari Pemuda itu untuk di jadikan Brand ambassador produk mereka tapi Vino menolak dengan alasan mau fokus ke pendidikannya, para investor itu memaklumi ayah pun mengerti dengan putra sulungnya itu, dia memang menuntut anaknya belajar agar kelak nanti Vino dapat meneruskan perusahaannya.


Kamar Nafiza..


Flashback on**


Setelah mendengar penjelasan Vino. Fiza mengerti menurut kesimpulannya Reza senjaga ingin mendekatkan nya dengan beruang kutub itu.


"Gue mau lo jadi pacar gue" ucap Vino enteng dengan nada dingin, wajah datar serta tatapan yang sulit di artikan.


Fiza terkejut mendengar penuturan Vino. Jantung Fiza yang tadinya normal, seketika berubah menjadi debaran yang kencang bahkan sangat kencang dari biasanya.

__ADS_1


"Lo bercanda kan, lo sakit kan" Fiza memegang dahi Pemuda yang dihadapan nya itu dengan nada pura-pura khawatir.


Vino yang mendapatkan perhatian itu seketika diam merilekskan jantungnya karena gadis mungil itu, kemudian dia memegang tangan halus Fiza yang menyentuh keningnya dengan lembut dia menariknya dan menatap dalam sang empunya.


"Gue serius" Dengan nada lirih sembari membenarkan anakan rambut Fiza dan menyelipkan ke telinganya membuat gadis itu gugup setengah mati.


"Eh… Gue ditunggu temen gue, gue pergi dulu" Saking gugupnya dia berjalan cepat sebelum pemuda itu berdiri dan berbalik.


Sayang sekali Fiza tidak melihat hal indah pada diri Vino. Pemuda itu diam-diam mengangkat sudut bibir membentuk senyum tampan.


Fiza mengingat tadi pagi yang membuatnya tersenyum. Ini hal pertama yang di rasa gadis yang kini sedang memangku bantal.


"Hellow Fiza" Nadia Melambaikan tangannya di depan muka Fiza. Entah sudah berapa kali buat Fiza tersadar tapi nihil, sahabatnya itu hanyut terbawa suasana pikirannya sambil tersenyum pula, entah apa dipikirkan.


Nadia mengangkat bahunya karena sahabatnya tak sadar juga saat Mita menanya.

__ADS_1


"FIZA" Lagi dan lagi Dita menjerit kali ini lebih kencang di banding di sekolah. Untung kamar ini kedap suara kalau tidak semua pembantu akan terganggu termasuk Vino cs.


"Ah… iya"


"Dita kaget tau nggak" pekik Mita menabok pelan kening gadis itu.


Dita menanggapinya dengan terkekeh dan menunjukkan jari berbentuk 'V' sebagai tanda perdamaian.


"Lo bisa gak sih sekali aja ga usah teriak-teriak, budek nih kuping gue lama-lama" Nadia memutar bola matanya jengah dengan sikap Dita sahabatnya itu selalu saja, gadis itu masih mengelus-eluskan kupingnya Akibat suara menggelegar sahabat nya.


"Maaf bestie, habisnya nih anak bikin kesel aja" Dita menunjuk- nunjuk Fiza.


"Ko jadi gue"


"Kalian berdua sama aja" Ngegas Mita memutar bola matanya malas.

__ADS_1


__ADS_2